Tradisi Natal dan Catatan Toleransi Umat Beragama (2): Dialog Bersama Pare Christian Community

”Dia yang bukan saudaramu dalam satu agama atau seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”-Ali bin Abi Thalib.

Di Indonesia, konteks Natal saat ini lebih banyak berbicara mengenai hubungan intra agama, yaitu intra agama Kristen sendiri yang tengah merayakannya, namun anehnya malah umat Islam yang memperdebatkannya. Sebaliknya, ia tak berbicara mengenai hubungan antar agama, Islam dan Kristen.

Penyambutan Natal kali ini, penulis mencoba merefleksikan Natal melalui menghadiri perayaan Natal yang diadakan oleh komunitas umat Kristiani di Pare, Kediri. Kononnya, umat Islam selalu disibukkan dengan perihal yang sama setiap tahunnya, yaitu perdebatan tentang status hukum mengucapkan Natal kepada umat Kristiani. Ketegangan antara umat Islam dan Kristen di Indonesia telah ada zaman penjajahan Belanda.

Menengok ke belakang, kontroversi selamat Natal tampaknya mengingat kepada fatwa MUI tahun 1981 di bawah pimpinan Buya Hamka, meskipun yang disoroti di sini  dalam fatwa tersebut adalah Natalan bersama, bukan ucapan Selamat Natal.

Dengan demikian, mengacu pada kelompok yang bertentangan, kelompok yang pertama mengharamkan mengucapkan natal. Ulama ini meyakini bahwa kepercayaan umat Islam dan Kristen terkait posisi Yesus/Isa. Bagi Islam, sosok ini adalah sosok nabi sebagaimana nabi-nabi lainnya, yang membawa  ajaran yang sama dengan Nabi Muhammad, yaitu tauhid. Sebaliknya, menempatkan Yesus sebagai anak Tuhan, yang merujuk pada konsep trinitas.

Bermuamalah Bersama Komunitas Pare Christian Community

Pertentangan yang berkepanjangan mengenai hukum mengucapkan natal disebut-sebut hanya terjadi di Indonesia, dan polemik Natal ini lebih banyak tentang sejarah Indonesia itu sendiri. Dalam isu ini, mengucapkan Selamat Natal berada dalam sejarah toleransi di Indonesia. Dan Narasi ini adalah narasi yang penting karena Indonesia adalah negara yang multikultural, keragaman ini justru memunculkan konflik horizontal antar sesama agama.

Baca juga:  NU Mewajibkan Jilbab atau Tidak?

Dengan demikian, diskursus mengenai Natal dan toleransi secara masif digaungkan oleh Quraisy Shihab, Gus Dur, dan Ulil Abshar Abdalla. Quraish Shihab umpamanya menyebut dalam konteks Mesir, para petinggi Al-Azhar juga banyak mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani melalui media massa. Memang, perdebatan Natal akan selalu ada di Indonesia sampai kapanpun, namun kerukunan dan toleransi antar sesama agama bisa dijalin melalui dialog-dialog kebergamaan untuk menumpas konflik antar agama.

Dalam kesempatan ini, penulis melakukan dialog bersama pendeta yang merayakan Natal bersama komunitas Kristiani di Pare, bersama Pendeta Nanang salah satu pendeta yang nyentrik dan tentu dibarengi semangatnya menyebarkan nilai-nilai toleransi di Pare Kediri khususnya.

Berbagai problematika intoleransi mengenai mengucapkan selamat Natal, menurutnya adalah sesuatu hal yang harus didudukkan bersama.  Baginya, umat Kristen terbuka mengadakan Natal untuk mengundang suka cita terhadap seluruh agama, dan ia juga berpesan menebarkan kasih kepada sesama manusia.

“Bagi kita Natal itu keterbukaan. Kita mendukung dan menganggap sebagai saudara. Saya juga silaturrahmi dengan teman-teman dan satu-satunya guru Kristen dan Ketika mereka mengadakan lebaran saya juga datang, begitupun ketika saya merayakan Natal mereka juga datang, dan itu menghormati, “papar Pendeta Nanang. Kasih adalah perintah dan ia diajarkan Yesus untuk saling mengasihi, baginya dan  kalangan Kristen untuk mengasihi dan menunjukkan ke agama lain bahwa kita sangat mengasihi. Tentunya untuk mengimplementasi nilai-nilai toleransi yang ada di Indonesia antar sesama umat manusia, pendeta Nanang berpesan untuk  saling menghormati dan ditunjukkan ke semua orang.

Selain bersama pendeta Nanang, penulis juga bediskusi bersama ketua panitia perayaan Natal yang diadakan di Brilliant English Course ini, bersama Teja Tarigan ia menuturkan pesan dan kesan Natal yang diadakan tahun ini. Tema Natal ini menggerakan persaudaraan dan bergerak menjadi satu seperti satu saudara, dan tentu ia dan komunitasnya membuka diri bersama kelompok agama lainnya.

Baca juga:  Mengenal Peradaban Kitab di Pesantren

Seperti sekarang, ketika Natal akan tiba, para anggota komunitas Kristen di Pare bersama penulis larut dalam kegembiraan bersama, mereka memperlihatkan makna persaudaraan dan kebersamaan yang sama, meski dengan keyakinan dan agama yang berbeda.

Perlu kita sadari, bahwa bangsa Indonesia lahir dari berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya. Sudah menjadi hal yang wajar jika terdapat keragaman ada berbagi pendapat untuk menyikapi persoalan tersebut. Namun hal yang pasti setiap perbedaan harus tetap terbingkai dalam persatuan dan kesatuan umat manusia. Dalam artian, bagi sebagian muslim meyakini bahwa mengharamkan dalam mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristiani, maka tetap menghormati sebagian muslim lainnya yang memperbolehkannya. Dengan demikian, mengucapkan Natal adalah sebagai bentuk penghormatan dan wujud toleransi antar agama.

Berpartisipasi dalam Acara Perayaan Natal

Kami sebagai perwakilan umat muslim menyatakan bahwa perbedaan itu indah. Sikap diskriminasi bukan dari kita umat muslim yang sesungguhnya, karena kami sangat menerima keberagaman. Perbedaan tidak pantas untuk diperdebatkan apalagi menyangkut keyakinan, perbedaan tidak untuk diekspos di ruang publik secara terang-terangan.” Mifta Kharisma, Pemuda Lintas Iman di Pare

Tentu, ini adalah kesempatan yang besar bagi menulis untuk merayakan natal bersama para umat Kristiani. Bisa dibilang ini adalah pertama kali yang dilakukan penulis dalam merayakan Natal sekaligus menjadi tamu undangan untuk membacakan puisi perdamaian dan toleransi. Bertempat di Gereja Kristen Injili Nusantara yang dipimpin oleh pendeta Isai, sama halnya seperti kata pendeta Nanang.

“Diawali kepedulian kita sesama bangsa Indonesia, karena pada dasarnya kami sangat mencintai keberagaman,” katanya, Jumat (18/12/2020).

Baca juga:  Sekolah dan Perguruan Tinggi Akan Dibuka Kembali di Masa Pandemi, Apakah Aman?

Ia pun bereaksi keras terhadap ujaran kebencian dan diskriminasi terhadap kaum minoritas yang kini kian vulgar ditunjukkan baik melalui media sosial maupun dalam kehidupan nyata. Berikut adalah puisi karangan dari tokoh lintas Iman Bandung yang dibawakan penulis dalam acara perayaan Natal tahun 2020.

Puisi ini disambut dengan suka cita oleh para komunitas Kristiani di Pare, tentu adalah menjadi refleksi bersama mengingat bom Makasar yang terjadi saat ibadah hari Minggu di Gereja, tentu kiranya kita bisa berefleksi untuk bersyukur kepada Tuhan yang memberikan keselamatan dan kelancaran Natal pada tahun 2021.

LUKA DAN CINTA

Pada subuh ini, kudengar gemuruh Imanmu,

dengan sabar mengucap:

Kupanggul salib ini Tuan,

Tentu tak seberat yang Kau pikul

Kami hanya di ujung kayunya saja

Sedang Engkau yg sebenar-benarnya luka dan berdarah

Ijinkan sedikit saja darah dari lukaMu itu mengucur

Kepada kami yangg percaya cinta nan agung

Ya, sedikit saja. Untuk menemani

Agar tak buai dalam kesedihan

Agar tak larut dalam kebencian

Agar tak dendam dalam kemarahan

Agar tergantikan dalam kasih abadiMu

Tuan. Bom itu mendentum. Lagi, dan lagi.

Merusak bangunan, tapi tak mengoyak rumahMu

Menusuk jantungku, tapi tak merusak imanku

Melukai ragaku, tapi tak menggoyahkan hatiku

Bukankah setelah ini kita menjadi semakin dekat?

Sangat dekat

Angkara murka, kataMu, tak boleh dibalas dengan hal serupa

Kebodohan, kataMu, balas saja dengan pendidikan

Sakit, kataMu, balas saja dengan pengobatan

Kemiskinan, kataMu, balas saja dengan pengorbanan

Kepongahan, kataMu, balas saja dengan kelembutan

Sungguh amanatMu ini terasa berat,

Mungkin seberat Kau memikul kami

Dalam kayu salibMu

Darah dan luka, kataMu, ubahlah menjadi Cinta.

Bandung, 20 Mei 2020

https://alif.id/read/mifta-kharisma/tradisi-natal-dan-catatan-toleransi-umat-beragama-2-dialog-bersama-pare-christian-community-b241314p/