Progresivisme Santri Kota dari Tahun 1990an hingga Sekarang: Sebuah Wawancara dengan Mochamad Sodik (1)

Pada tahun 2000, terbit karya Mochamad Sodik bertajuk “Gejolak Santri Kota: Aktivis Muda NU merambah Jalan Lain.” Buku ini merupakan sumber yang kaya untuk memahami dinamika pemikiran Islam “progresif” yang berkembang selama tahun 1990an di kalangan NU muda di kota Yogyakarta. Yang dikaji adalah perkumpulan Aktivis Muda Nahdlatul Ulama (AMNU) yang tergabung dalam Kajian Islam dan Sosial (LKiS).

Aktivis-aktivis NU muda ini menggagas pemikiran Islam baru yang “transformatif” serta “liberatif”. Wacana ini sangat terinspirasi oleh tokoh-tokoh NU seperti Gus Dur, tapi juga terbangun melalui pembacaan atas teori-teori kritis dari luar Indonesia, baik dari tokoh-tokoh muslim seperti Hasan Hanafi maupun barat, seperti Michel Foucault. Pemikiran ini berhasil disebar-luaskan melalui penerjemahan dan penerbitan buku-buku di LKiS.

Kalangan “santri kota” menerapkan teori-teorinya dengan aktivisme politik yang sangat memperhatikan “penderitaan rakyat”. Mereka senantiasa turut membangun masyarakat sipil yang berhadapan dengan Orde Baru, dan juga melakukan pendidikan dan pendampingan dengan kelompok-kelompok marjinal, seperti korban penggusuran serta anak-anak jalanan.

“Gejolak Santri Kota” ditutup dengan kalimat yang berikut:

“AMNU sebagai gerakan “liberasi” merupakan lokomotif dengan kecepatan tinggi; sebagai gerakan pembaruan, AMNU adalah lukisan yang belum selesai. Wallahu A’lam bisshawab.” (121)

Makanya saya tertarik untuk tanya langsung ke pak Sodiq, yang kini menjabat sebagai dekan FISHUM UIN Sunan Kalijaga, mengenai perjalanan lokomotif itu selama dua puluh tahun terakhir…

Wawancara dengan Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Sci.:

Semua organisasi dan pemikir yang bapak kaji dalam “Gejolak Santri Kota” terpusat di kota Yogyakarta, tapi rupanya mereka cukup mewakili arus perkembangan pemikiran “santri kota” pada zaman 1990an. Apakah “kota pelajar” ini bisa dilihat sebagai salah satu pusat utama bagi wacana intelektual “santri kota”?

Yogyakarta ini kan, pertama, Istimewa. Yang kedua ini Indonesia mini. Karena Indonesia mini ini, maka banyak anak-anak muda yang kemudian kuliah di Jogja, kemudian beraktivitas di Jogja. Jadi momentum lahirnya LKiS kira-kira tahun 1990an menandakan suatu kegelisahan yang mendalam dari anak-anak muda NU ini. Kemudian mereka ingin melakukan proses pembebasan tapi mereka tetap sebagai warga NU juga. Kan, ada yang dari keluarga NU kemudian “migrasi” ke tempat lain. Ini tidak. Jadi, unik bagi saya karena mereka ingin berpikir bebas, membangun pertemanan yang sangat luas, baik dengan muslim maupun non-muslim. Tapi mereka masih sebagai bagian dari NU. Ini kebanyakan anak-anak PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Sehingga kemudian karena posisi di Jogja, mereka juga aktif, ada yang di ARENA (lembaga pers mahasiswa UIN Sunan Kalijaga), juga di PMII.

Baca juga:  Timur Tengah dalam Sastra Indonesia: Menimbang Kontribusi Fudoli Zaini (2/2)

Abdurrahman Wahid juga menjadi faktor yang sangat utama, karena Gus Dur sering ke Jogja, jadi semacam “inspiring” untuk mereka. Sehingga tampaknya teman-teman AMNU ini dan Gus Dur punya satu titik pertemuan hidup yang kemudian terus bisa menggelinding untuk membangun ide, gagasan dan juga solidaritas. Inilah yang kemudian menjadi kekuatan, karena Jogja berperan sebagai semacam tangki memikir, dan mereka punya jaringan ke tempat-tempat lain.

Saat itu LKiS penerbitannya juga banyak, sehingga antara ide kemudian ada buku di situ, kan gerakan-gerakan yang diakomodir oleh LKiS tentu menginspirasi tempat-tempat yang lain. Jadi kebesaran LKiS ini memang karena ide dan gerakan tadi, dan juga jaringan menurut saya. Jadi jaringannya luas sehingga ada pengaruh kuat pada tempat-tempat yang lain.

Kemudian, Mas Imam Aziz punya program untuk menyatukan anak-anak santri dengan anak-anak keturunan komunis, anak-anak keturunan PKI waktu itu di daerah Blitar. Itu kan semakin menguatkan bahwa ide-ide ini yang kemudian menjadi semacam kekuatan baru untuk menyapa yang di daerah, yang mungkin waktu itu orang tidak berpikir, tapi sudah dipikir dari Jogja. Mengapa di Blitar? Karena konflik anak-anak santri dan anak-anak PKI saat itu sangat keras. Dan ide untuk kemanusiaannya dikedepankan, direkonfigurasi. Jadi ada konflik antara orang tuanya, tapi anaknya jangan. Sehingga perlu dimediasi, diadakan banyak kegiatan.

Dan ini saya kira adalah salah satu hal yang menyambungkan ide-ide di Jogja dengan di daerah-daerah. Ada pelatihan-pelatihan yang juga mengundang teman-teman dari daerah-daerah, mulai dari Jawa Timur sampai daerah-daerah yang jauh. Sehingga dari situ lah pengakuan terus terjadi, dan LKiS selain mengadakan diskusi juga memproduksi buku yang banyak yang sifatnya kritis. Misalnya bukunya Kiri Islam dulu yang populer dengan buku-buku yang lain. Itu yang saya kira menjadi kekuatan dari LKiS dan AMNU yang berada di DIY.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (67): Al-Minah Al-Saniyyah, Wasiat untuk Para Salik

Banyak dari para aktivis AMNU dan LKiS yang dulu bapak teliti pada saat ini sudah menjadi tokoh-tokoh yang cukup terkenal dan berpengaruh. Mereka bukan lagi hanya “anak-anak nakal” (hlm. 108) yang dipandang sebelah mata oleh kyai-kyai NU arus utama. Menurut pak Sodik, bisakah dikatakan bahwa aktivis-aktivis ini telah membawa transformasi intelektual besar ke dalam komunitas Nahdliyin secara umum? Dalam karir-karirnya selama dua dasawarsa terakhir, apakah tokoh-tokoh ini terlihat tetap membawa nilai-nilai yang dulu mereka gagas?

Mereka menurut saya tetap konsisten pada nilai-nilai itu, meskipun dengan cara yang berbeda. Misalnya, LKiS ini kan lembaga yang di luar NU, terlepas. Secara kultural mungkin terikat, tapi secara struktural tidak. Kemudian, aktivis ini ikut masuk pada sistem-sistem resmi di NU. Misalnya Pak Imam Aziz yang pernah menjadi pengurus PBNU, dan  sekarang menjadi anggota Dewan Pertimbangan Wapres RI. Kemudian Mas Jadul Maula yang menjadi ketua Lesbumi PBNU (Lembada Seni Budaya Muslimin Indonensia), juga aktif di PWNU NU DIY. Ketika ada isu-isu mengenai kebudayaan, mereka juga ikut terlibat di sana.

Pak Imam Aziz juga banyak menjadi referensi ketika ada kasus “Wadas” yang sempat terkenal di Purworejo (Bendungan Bener). Ketika ada sesuatu yang penting, mereka tetap menjadi tempat bertanya atau rujukan. Mereka berkontribusi untuk melihat dinamika-dinamika yang ada, meskipun mereka sekarang sudah masuk sistem juga.

Kalau dulu ada Orde Baru yang keras sekali, jadi anak santri berada di luar sistem sehingga mungkin perlawanan lebih dominan pada waktu itu. Nah, ke belakang lebih ke konsolidasi, jadi bagaiamana memfasilitasi demokrasi lewat sistem-sistem yang tersedia. Karena mereka harus masuk ke sistem jadi mereka membangun kritisisme dari dalam. Kalau dulunya dari luar, artinya mereka anak2 muda yang memang ingin memberikan suatu yang baru. Dan karena mereka itu putra-putri terbaik dalam konteks itu, ketika sudah dewasa pasti kemudian mereka juga direktut untuk membesarkan NU.

Baca juga:  Ahlam Mustaghanami, di antara Cinta dan Revolusi

Ada dinamika yang menarik dalam tulisan bapak antara dua jenis pembaharuan pemikiran Islam yang bisa disebut “progresif”. Yang pertama adalah “liberasi” secara intelektual, yang terjadi pada tingkat individu. Di sini individu terbebaskan dari kungkungan tradisi dan sejarah. Yang kedua adalah keberpihakan pada rakyat kecil, atau mungkin bisa disebut pembebasan secara materiil pada tingkat sosial. Di sini, rakyat dibela dari ancaman penindasan. Jadi dari dua alur pemikiran ini, ada hubungan apa antara kedua proyek pemikiran tersebut? Apakah niscaya disamakan, atau bisa dipisahkan?

Sebenarnya praksis-praksis yang ada, termasuk pembelaan, itu kan tidak terlepas dari pola pikir. Jadi pola pikir, perspektif, ideologi yang kemudian dia bangun, pergolakan, kegelisahan–inilah yang kemudian menjadi semacam tumbuhan dari proses-proses creative action-nya. Jadi menurut saya memang terkait. Tidak mungkin gerakan-gerakan kritis atau sikap-sikap hidup yang humanis, yang liberatif, muncul dengan sedirinya. Dia pasti didasari oleh suatu konsep berpikir yang sifatnya membebaskan.

Tetapi mereka tetap secara imani tetap sebagai seorang Muslim, tapi ingin menjadi seorang Muslim yang membebaskan. Nah dari sini lah kemudian mereka mengkaji banyak pemikiran, termasuk yang saya sebut seperti Hasan Hanafi dan tokoh-tokoh lain. Dari posisi inilah kemudian diupayakan bagaimana pemikirannya itu tidak berhenti sebagai pemikiran saja. Harus ada praksis, sehingga misalnya mereka punya perhatian terhadap anak jalanan. Terus untuk konteks yang sekarang, mereka punya perhatian bagaiamana membangun pendidikan yang lebih muitkulutral dan seterusnya.

Jadi mereka terus bergerak dengan banyak cara. Dan semakin ke sini semakin terinstitusi. Misalnya ada Bumi Cendekia (pesantren di Sleman) itu kan semakin terinstitusi. Kemudian mereka juga masuk sistem di NU itu kan semakin ke arah sana. Tapi semangat idenya untuk proses pembebasan itu tetap dipelihara.

Bersambung..

https://alif.id/read/saw/progresivisme-santri-kota-dari-tahun-1990an-hingga-sekarang-sebuah-wawancara-dengan-mochamad-sodik-1-b243484p/