Hamzah ibn Abdul Muthalib Singa Allah

Laduni.ID, Jakarta – Hamzah ibn Abdul Muthalib sahabat Nabi dari suku Quraisy. Ayahnya adalah Abdul Muthalib ibn Hasyim ibn Abdu Manaf ibn Qushay; ibunya bernama Halah bint Wahab yang bersaudara dengan Shafiyah bint Abdul Muthalib, ibunda Zubair ibn Awam. Rasulullah adalah paman sekaligus saudara sesusuannya, karena keduanya pernah disusui oleh Tsuwaibah, sahaya Abu Lahab. Hamzah lebih tua dua tahun dari Rasulullah.

Hamzah menyatakan keislamannya pada tahun kedua kenabian. Dikisahkan, sebab keislamannya adalah ketika pemuka kafir Quraisy, Abu Jahal ibn Hisyam bertemu dengan Nabi saw. di jalan kemudian mencaci-maki dan menyakiti beliau. Ketika Hamzah pulang berburu, budak milik Abdullah ibn Jud’an mendatanginya dan memberitahukan apa yang dilakukan Abu Jahal kepada saudaranya, Muhammad. Mendengar kabar itu, tanpa pikir panjang Hamzah berjalan cepat dengan paras memerah karena marah. la bergegas menuju kediaman Bani Mahzum, karena Abu Jahal biasanya berada di sana. Tiba di hadapan Abu Jahal, Hamzah mengambil anak panah dan memukulkannya kepada Abu Jahal hingga ia terluka. Hamzah berteriak, “Apakah kau berani meiicacinya sementara aku telah mengikuti agamanya dan menuruti perkataannya? Kembalikan anak panah itu jika kau mampu!”

Ucapan Hamzah menggentarkan Bani Mahzum dan para pemuka Quraisy lain yang ada di tempat itu. Kejadian itu sungguh di luar perkiraan mereka. Ketika mereka mencoba menolong, Abu Jahal sendiri yang melarang mereka, “Biarkan Abu Umarah! Aku memang telah menyakiti anak saudaranya dengan keji.”

Setelah kejadian itu Hamzah kembali ke rumah. Di rumah ia terus memikirkan tindakannya kepada Abu Jahal dan perkataan orang-orang di sekitarnya. la sulit memejamkan mata. Esok paginya ia berjalan menuju tempat Rasulullah saw. Melewati Ka’bah. la berhenti di tempat suci itu lalu bermunajat kepada Allah agar ditunjukkan jalan kebenaran, dan Allah mengabulkan doanya. Setelah itu, ia bergegas menemui Rasulullah saw. dan menyatakan keislaniannya. Beliau berkenan mendoakannya agar Allah meneguhkan segala yang diucapkannya serta menganugrahkan cahaya keyakinan dalam hatinya.

Hamzah memiliki dua nama panggilan: Abu Ya‘la dan Abu Umarah. Istrinya bernama Salma bint Umais, saudari Asma bint Umais. Hamzah ikut hijrah ke Madinah bersama Rasulullah saw. dan memiliki peran penting dalam Perang Badar. Dalam duel sebelum peperangan dimulai, Hamzah berhasil membunuh Syaibah ibn Rabiah dan Thu’aimah ibn Adi. Dan bersama Ali ibn Abu Thalib ia berhasil membunuh Utbah ibn Rabiah yang sebelumnya berduel melawan Ubaidah ibn al-Harits. Perang Badar pun bcrkecamuk hebat setelah duel itu dan berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslim.

Abu al-Hasan al-Madaini menuturkan bahwa bendera pertama yang diserahkan oleh Rasulullah saw. kepada pasukan sariyah {perang yang tidak diikuti Nabi) diberikan kepada Hamzah ibn Abdul Muthalib yang diurus ke Saif al-Bahr. Sementara, Ibn Ishaq mengatakan bahwa bendera pertama diberikankepada pasukan sariyah yang dipimpin Ubaidah ibn al-Harits.

Menurut sebuah kisah, ketika mengikuti Perang Badar, Hamzah menggunakan dua pedang mendampingi Rasulullah. Dalam perang itu ia mendapat julukan baru, yaitu risyah na’amah alias bulu yang lentur. Beberapa tawanan kafir ditanya, “Siapakah yang dikenal dengan julukan risyah na’amah}’’ Mereka menjawab, “Hamzah. la mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan beberapa orang di antara kami.” Rasulullah saw. sendiri merasa terlindungi sejak Hamzah masuk Islam hingga kaum Quraisy sama sekali tidak berani menyakiti belian seperti yang pernah mereka lakukan sebelum Hamzah memeluk Islam.

Setelah kalah dan terhina dalam Perang Badar, kaum musyrik Quraisy segera mempersiapkan diri untuk membalas dendam. Mereka gencar melakukan negosiasi dengan kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar Makkah dan Madinah. Mereka meminta bantuan kepada berbagai kabilah agar mau bersekutu untuk menyerang Madinah. Mereka mempersiapkan semua orang untuk berperang termasuk beberapa orang yang dulu ditawan pasukan Muslim dalam Perang Badar. Segala macam persiapan dilakukan untuk menyerang Madinah. Bahkan, Hindun bint Utbah secara khusus membayar seseorang untuk membunuh Hamzah. Pembunuh bayaran untuk melaksanakan tugas itu adalah seorang budak hitam yang bernama Wahsyi. la dikenal sebagai budak yang tangkas melempar tombak. Dalam Perang Badar, saudara majikannya terbunuh oleh pasukan Muslim. Hindun mempersiapkan fisik dan mental budak itu untuk mengejar Hamzah dan membunuhnya. Hadiah tidak hanya disediakan oleh Hindun, majikan budak icu pun menjanjikannya kemerdekaan jika ia dapat membunuh Hamzah.

Secelah bckerja keras cukup lama kaum Quraisy mendapackan beberapa kabilah yang man bergabung di bawah panji Quraisy. Mereka dapat menghimpun tiba ribu tentara. Salah satu pasukan incinya terdiri atas budak negro dan budak belian lain yang ditempatkan di barisan paling depan. Sementara, para pemimpin Makkah dirunjuk menjadi panglima pasukan. Mereka dikenal sebagai para pemberani yang jago berperang pada zamannya. Mereka juga mendaparkan bantuan yang cukup berarti dari kabilah Tihamah dan Kinanah. Pasukan kavaleri Quraisy terdiri atas pasukan berkuda yang terlatih dan tangkas. Semua pasukan bersenjata lengkap dan mengenakan baju zirah yang kokoh. Di belakang pasukan itu berbaris rapi kaum wanita Makkah diiringi para budak wanita yang cantik rupawan. Mereka mengenakan pakaian yang indah dibawah pimpinan Hindun bint Utbah. Mereka menabuh berbagai alat musik dan mengalunkan nyanyian yang membangkirkan semangat pasukan Quraisy. Hindun memerintahkan pasukan wanitanya untuk terus membangkitkan semangat juang. Jauh-jauh hari Hindun berpesan kepada mereka agar menolak permintaan suami dan kaum laki-laki mereka yang ingin menyentuh mereka kecuali jika mereka dapat mengalahkan Muhammad dan membawa kepala Hamzah.

Pada awalnya, pasukan muslim berhasil memukul mundur pasukan Quraisy. Namun, keadaan berbalik sepenuhnya ketika pasukan pemanah mengabaikan perintah Nabi saw. Sebagai komando tertinggi. Kaum muslim terdesak hebat sehingga barisan mereka hancur berantakan dan kaum musyrik berhasil mengambil alih keadaan. Itulah balasan yang hams dirasakan kaum muslim karena sebagian mereka tidak mengindahkan perintah Nabi.

Dalam peraiig itu banyak kaum muslim yang gugur sebagai syahid. Dari sekian banyak yang gugur, kaum muslim dan khususnya Rasulullah saw. sangat terpukul ketika mendengar kabar syahidnya Abu Umarah, atau Hamzah ibn Abdul Muthalib. Diceritakan bahwa dalam perang tersebut ia berhasil membunuh 31 orang musyrik, tetapi akhirnya ia rubuh ke bumi setelah tubuhnya dihujam tombak yang dilemparkan oleh Wahsyi ibn Harb.

Dikisahkan bahwa budak sewaan Hindun, yaitu Wahsyi ibn Harb, pergi menuju Uhud dengan hanya satu tujuan: membunuh Hamzah, ia tidak menyerang atau bertarung dengan pasukan muslim lain. Ia mengawasi jalannya peperangan seraya mencari Hamzah, kemudian menunggunya lengah. Hamzah, yang tidak tahu sedang diawasi sepasang mata pembunuh, terus berperang dengan gagah berani ketika pasukan muslim terdesak hebat dan barisan mereka kocar-kacir. Ketika ia memburu salah seorang Quraisy yang hendak melarikan diri, Wahsyi loncat sambil berteriak, “Binasalah kau, hai pembunuh yang bong.” Budak hitam itu menyerang Hamzah secara tiba-tiba dari persembunyiannya. Hamzah terkejut. Ia tak dapat menghindari serangan Wahsy sehingga budak itu dapat menusukkan tombak ke perutnya. Budak negro itu terus menusukkan tombaknya dengan keras hingga mata tombaknya keluar dari punggung Hamzah. Sekuat tenaga Hamzah berusaha mengangkat pedangnya namun ia tak berdaya. Budak itu cukup besar dan kuat. la terus menekan tombaknya sehingga Hamzah jatuh kulai. Wahsyi berdiri dengan bangga melihat musuhnya jatuh tersLingkur lalu ia membasuh tombaknya dengan darah yang mengucur dari tubuh Hamzah. Menyaksik musuh besarnya terjatuh, Hindun langsung berlari inendekati jasad Hamzali, lain membelah dadanya, dan mengeiuarkan jancung serca hacinya. Setelah icu ia mencabik-cabik jantung Hamzah dcngan tangannya dan mengoyaknya dengan giginya.

Abu Siifyan ikut senang menyaksikan tingkah istrinya. La dekati jasad Hamzah lain menginjaknya dengan keras. Kemudian ia memukul kepala Hamzah dengan ujung rombaknya. Kini, laki-laki pemberani yang ditakiiti lawan itu telah jatuh rersungkur. Laki-laki yang menggentarkan jiwa setiap musuh ini relah berkalang tanah. Darahnya bercampur dengan tanah dan kerikil.

“Hamzah telah mati! Hamzah telah mati, kini giliran Muhammad. Dimanakah Muhammad?

Abu Sufyan terus berteriak menyebarkan kematian Hamzah hingga lembah itu dipenuhi suaranya. Sementara itu, istrinya, Hindun masih sibuk membaluri tangannya dengan darah Hamzah, lalu berteriak menyahut seruan suaminya, “Hai pasukan, Hamzah telah mati. la telah terbunuh. la telah jatuh berkalang tanah.”

Setelah perang usai, Rasulullah berdiri sambil bersandar pada tubuh salah seorang sahabat. la memandang sekelilingnya disertai perasaan duka yang mendalam. Jumlah kaum muslim yang terbunuh dalam perang itu mencapai tujuh puluh orang. la terus berjalan mencari mayat pamannya, Hamzah. Sctibanya ia di sisi jasad pamannya, ia terkejut dan murka bukan kepalang. la melihat perut pamannya koyak terburai. Hidung dan telinganya buntung dipapas pedang. Dadanya terbelah, dan jantung serta hatinya tak ada lagi di tempatnya. Muhammad duduk termenung. Pandangannya menerawang. Kemarahan membayang pada pandangan matanya.

la berkata dengan suara yang bergetar murka, “Seandainya Allah menakdirkanku sehingga kukalahkan bangsa Quraisy, niscaya aku akan membalas apa yang telah mereka lakukan kepada Hamzah. Aku akan membalasnya dengan tiga puluh orang dari mereka.”

Para sahabat yang berdiri di sekitar Rasulullah turut bersumpah, “Demi Allah, kelak jika kami dapat menguasai dan mengalahkan Quraisy, kami akan melakukan atas diri mereka sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam peperangan bangsabangsa Arab.”

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. terpaku diam melihat jenazah Hamzah yang diperlakukan dengan sangat keji oleh kaum musyrik. Belum pernah beliau melihat kejadian yang paling menyakitkan hati selain melihat keadaan jenazah pamannya itu. Beliau bersabda, “Allah merahmatimu, Paman! Engkau telah menjadi penyambung silaturahim dan melakukan segala kebaikan.”

Kemudian Rasulullah berkeliling memeriksa setiap jasad kaum muslim yang terbunuh dalam perang itu. Namun lagi-lagi ia kembali duduk dekat jasad Hamzah seraya berucap, “Tidak ada lagi orang yang dapat menandingimu selamanya… keadaanmu sungguh membuatku teramat murka. Tidak ada hal lain yang lebih membuatku meradang selain melihat jasadmu.”

Jabir meriwayatkan, ketika Rasulullah saw. melihat Hamzah tewas, beliau menangis. Dan, ketika mengetahui bahwa Hamzah diperlakukan dengan keji, beliau pun menjerit. Beliau bersabda, “Seandainya Shafiyah tidak menemukan jenazahnya, aku pasti sudah meninggalkannya hingga tubuhnya terkumpul di perut burung dan binatang buas.”

Muhammad ibn Uqail meriwayatkan bahwa Jabir berkata, “Ketika baginda Nabi saw. mendengar apa yang dilakukan kaum musyrik terhadap jenazah Hamzah, beliau menjerit. Dan, ketika beliau melihat sendiri apa yang rerjadi, beliau jatuh pingsan.”

Ibn Ishaq meniiturkan, kemudian darang Shafiyah bint Abdul Muthalib untuk melihat jenazah Hamzah (saudara kandungnya). Rasulullah saw. bersabda kepada putranya, Zubair ibn Awwain, “Temuilah ia (Shafiyah) dan suruh segera pulang, jangan sampai ia melihat apa yang terjadi pada saudaranya.” Zubair pun mendekati Shafiyah dan berkata, Rasulullah menyuruhmu pulang.”

Shafiyah bertanya, “Mengapa? Aku telah mendengar apa yang terjadi pada saudaraku, dan hal itu kecil dalam pandangan Allah. Tapi sudahlah, kami dapat menerima kejadiaii ini! Aku sangat kehilangan, tetapi aku akan bersabar.”

Zubair pun menghadap Rasulullah saw. dan menyampaikan jawaban Shafiyah. Beliau bersabda, “Kalau begitu, biarkanlah ia.”

Kemudian Shafiyah melihat langsung jenazah saudaranya dan menyalatinya. Setelah itu ia bergegas pulang ke rumah dan berdoa memohon ampunan untuk Hamzah. Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengubur jenazah Hamzah dan Abdullah ibn Jahsy dalam satu Hang. Abdullah ibn Jahsy adalah keponakan Hamzah dari Umaymah bint Abdul Muthalib.

Ibn Jarir al-Thabari mengatakan dalam kitab Tcirikh-nya. bahwa Rasulullah saw. melewati salah satu rumah sahabat Anshar dari Bani Abd al-Asyhal dan Zafar. Beliau mendengar suara tangisan dan rintihan lantaran ada anggota keluarga mereka yang gugur. Mendengar tangisan mereka, mata beliau berkaca-kaca dan menangis. Rasulullah saw. bersabda, “Tetapi tidak ada yang menangisi Hamzah.”

Ketika Sa‘d ibn Muaz dan Usaid ibn Hudhair berjalan nuju rumah masing-masing mereka berhenti dekat kediaman Bani Abd al-Asyhal, karena mendengar beberapa nangis. Keduanya minta agar mereka berhenti menangisi sanak keluarga yang gugur. Setelah itu mereka berjalan pulang dan menangisi kepergian Hamzah, paman Rasulullah.

Ibn al-Atsir mengutip sebuah riwayat dari Anas ibn Malik bahwa ia berkata, “Baginda Nabi bertakbir (dalam shalat jenazah) empat kali ketika menyalati seseorang, tetapi untuk jenazah Hamzah beliau bertakbir 70 kali.”

Abu Ahmad al-Askari berkata, “Hamzah adalah syahid pertama dari keluarga Rasulullah saw.”

Semoga Allah merahmati Abu Umarah, pemimpin para syuhada.


Source: Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi Diterjemahkan dari Nafahat ‘Athirah Sirah Shahabath Rasulillah Saw. karya Muhammad Raji Hasan Kinas, Beirut: 2011 diterjemahkan oleh Nurhasan Humaedi, Banani Bahrui-Hasan, Dedi Slamet Riyadi

https://www.laduni.id/post/read/74922/hamzah-ibn-abdul-muthalib-singa-allah.html