Dari Abangan Jadi Aktivis Muhammadiyah, Ini Kisah Toleransi dari Sosok Asal Pesisir Jalanan Daendels

Apa yang kaupikirkan jika mengenal sosok yang diceritakan warga sekitar seperti ini: ia dulu gemar mabuk, ia biasa mengalahkan empat orang dengan sekali pukul, ia bisa meloncat lebih tinggai dari manusia siapa pun di kampung kami dan dikabarkan punya puluhan murid gaib.

Itulah cerita-cerita yang sering sekali saya dengar sedari kecil tentang sosok yang saat ini menginjak usia 65 tahun. Sosok yang belakangan lebih getol dari siapa pun di keluarga kami ketika berurusan dengan ibadah. Seorang yang hampir 50 tahun hidupnya tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di masjid.

Ia yang ditakuti warga dan kerap jadi rujukan perkara gaib, tapi telah berubah dan jadi aktivis Muhammadiyah yang mualaf.

Anda tidak salah baca. Ia adalah mualaf dalam tanda kutip. Mualaf sebab ia kembali bertasyahud ketika tobat dari segala hal buruk—yang mungkin—ia perbuat dulu. Taubat menuju hal yang ia anggap baik, tanpa menegasikan agama maupun kepercayaan dari orang-orang terdahulu.

Kepercayaan yang pernah ia tekuni selama puluhan tahun dan menjadikan dirinya sosok rujukan terkait ilmu kejawen. Mulai dari soal hitung menghitung tanggal baik-buruk dalam kalender Jawa hingga persoalan pengasihan (mahabbah).

Sosok ini menghabiskan hampir separuh hidupnya ia dedikasikan di jalanan Deandels, di area pesisir sepanjang arah Tuban-Lamongan. Ia tinggal di desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur.

Baca juga:  Kuteringat Gaza

“Yang membuatku begini karena suatu hari, aku merasa semuanya sudah cukup. Tibat-tiba saja harus berhenti, aku pengen masuk masjid,” kata Pamanku, suatu ketika.

Lantas, saya pun bertanya, bagaimana dengan kepercayaan yang dulu sempat tekuni?

Ia Cuma menjawab, beberapa berusaha ia hilangkan, katanya, khususnya yang buruk-buruk terkait judi, mabuk atau sejenisnya. Tapi untuk urusan ziarah ke leluhur maupun hubunga dengan orang lain, ia meyakini tidak ada masalah melakuka hal itu.

Rentang Kisah Zaman Gestapoe yang Masih Terngiang

Di kampung kami di pesisir Lamongan, ada dua organisasi besar, yakni NU di wilayah disebut Wetanan dan Muhammadiyah yang berbasis di Kentong atau Labuhan. Keduanya adalah dua dusun, bagian dari Desa Labuhan.

Pada medio 1960-an, menjelang Gestapoe 1966—dengan lafal oe, sebagaimana dituturkan sosok itu—daerah itu terbagi jadi dua golongan besar. Islam dan abangan. Ini seperti lazimnya kebanyakan daerah di Jawa laiknya tesis masyarakat desa ala Cliffort Gertz.

Bedanya, santri masih sedikit karena daerah situ memang bukan rujukan untuk belajar santri.

Ketika berkecamuk G30 S, ketika masyarakat diadu antara entah berada di wilayah hijau atau merah (baca: dituduh PKI), maka di daerah ini justru saling melindungi.

Sosok tadi cerita, ia sebagai abangan dan beberapa orang yang seperti dirinya dilindungi oleh tetangga. Meskipun ia tidak pernah ikut gerakan PKI, tapi berhubung ia abangan, saat itu berpotensi untuk dijadikan ‘korban’ dan ternyata warga saling melindungi.

Baca juga:  Ustaz Tionghoa Ini Ingin Hubungan Antaragama Rukun Selamanya

Paling tidak, itu yang dirasakan saat itu. Apa pun agama maupun kepercayaan waktu itu, ternyata saling menghargai dan melindungi. Kisah itu terpatri di benaknya, merentang dari ia muda jadi ‘aktivis’ abangan hingga belakangan justru menapaki diri jadi kader Muhammadiyah.

“Orang lain beragama atau percaya pada apa pun itu urusan dia dengan Pangeran (Allah),” paparnya.

Jadi Kader Mualaf Muhammadiyah, Dari Dekat Melihat Denyut Hidup Warga Hidup Berdampingan

Ada anekdot berbunyi, toleransi kepada mereka yang di luar agama (eksternal) biasanya lebih mudah dibandingkan dengan antar mazhab dalam satu agama (internal).

Tampaknya, hal ini tidak berlaku bagi sosok ini. Ia selama puluhan tahun jadi aktivis abangan di kampung kami melihat dari dekat kebiasaan warga yang tidak cekcok urusan seperti ini.

“Kalau riyayan (lebaran) kadang beda. Kalau dua hari misal, kadang bergantian menggunakan lapangan kampung. NU lebih duluan biasanya, dibanding Muhammadiyah. Orang-orang saling ngerti,” paparnya.

Sosok ini pun kerap mengingatkan orang-orang yang menganggap dirinya maupun organisasinya lebih baik atau mulia dibandingkan yang lain. Ia kerap menyitir Sunan Kalijaga, idolanya, yang kerap tidak pandang warna kulit, baju maupun kekayaan melihat sesuatu.

Ia bercerita, dalam bermasyarakat, meskipun ia dikenal sekerang bukan lagi sebagai ‘preman’ tapi justru jadi aktivis Muhamamdiyah, ia tidak membedakan orang yang keyakinan maupun cara ibadah yang berbeda.

Baca juga:  Teater Pesantren: Ekspresi Rasa yang Manusiawi

Katanya, jalan orang menuju Allah itu tidak ada yang tahu. Jadi, buat apa menyalahkan?

Sosok ini adalah sosok biasa dari pesisir jalan Daendels yang menghubungkan kota-kota pinggir pesisir di Jawa Timur. Sosok itu adalah Karbianto, dan ini kisah paman saya.

*Artikel ini adalah hasil kerja sama Alif.ID dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

https://alif.id/read/dp/dari-abangan-jadi-aktivis-muhammadiyah-ini-kisah-toleransi-dari-sosok-asal-pesisir-jalanan-daendels-b240918p/