Biografi KH. Abu Bakar Yusuf Palembang

Daftar Isi Biografi KH. Abu Bakar Yusuf Palembang

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Guru-guru
3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.    Referensi

 

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir

KH. Abu Bakar Yusuf lahir pada 10 November 1905, di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Beliau merupakan putra dari pasangan Hatijah, seorang gadis dari Jawa dengan Muhammad Yusuf, dari Palembang, Sumatera Selatan.

Ayahanda beliau, Muhammad Yusuf, merupakan seorang pedagang sejak masa mudanya. Meski demikian, sang ayah memiliki keinginan anak-anaknya memahami ilmu agama sehingga mereka dikirim ke berbagai pesantren ternama waktu itu, baik di Jawa Barat maupun Jawa Timur.

1.2 Riwayat Keluarga

Dari pernikahannya KH. Abu Bakar Yusuf KH. Dikaruniai dua orang putra, yaitu

  1. Abdul Latif
  2. Abdurrokhim (lebih dikenal dengan nama H. Deci Abdurrokhim).

Abdul Latif meninggal di usia yang masih muda, tapi sempat menikah dan memiliki tiga puteri. Sementara H. Deci Abdurrokhim menikah dengan puteri seorang Kyai di Jatiragas, Mama Ajengan Dasuqi.

Sebelumnya, H. Deci Abdurrokhim dikirim ayahnya mondok di Tebuireng dan masih sempat berguru kepada Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Sebagaimana ayahandanya, H Deci Abdurrokhim aktif menjadi pengurus NU di Karawang. Ia pernah duduk sebagai anggota DPRD Provinsi hingga tahun 1979. Kemudian ia menjadi anggota DPRD Karawang melalui pemilu tahun 1977.

Putera H Deci Abdurrokhim juga menjadi penggerak PCNU Karawang. Moch Iqbal misalnya pernah menjadi Wakil Bendahara  Wakil Ketua PCNU Karawang saat ketuanya HM. Soleh Hasan Basri. Sementara anak beliau yang lain, H Moch. Fauzan duduk sebagai Wakil Ketua PCNU Karawang.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

Ayahanda beliau, Muhammad Yusuf mengirim KH.Abu Bakar ke Tebuireng. Ia berguru kepada pemuka agama masyhur, maha guru para ulama di zamannya, yakni pendiri NU, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari.

Menurut salah seorang cucunya, Moch Iqbal, KH. Abu Bakar diperkirakan menjadi santri Hadratussyekh sekitar 7 sampai 10 tahun. Pada saat Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU di Surabaya, pada 31 Januari 1926, Abu Bakar Yusuf masih menjadi santri.

Dengan demikian, KH. Abu Bakar Yusuf di Pesantren Tebuireng semasa dengan santri-santri dari Priangan, misalnya KH Abdullah Cicukang dari daerah Ciparay Kabupaten Bandung. Mungkin juga sezaman dengan KH. Ahmad Dimyati Sirnamiskin dan KH. Suhrowardi Sentiong (Pondok Pesantren Al-Hidayah).

Sebagaimana santri-santri lain, sepulang dari Tebuireng, KH. Abu Bakar Yusuf berusaha mengamalkan ilmunya di daerah Karasak, Karawang. Beliau memulainya dengan madrasah untuk pendidikan anak-anak dan mendidik anak muda dan orang tua melalu Masjid Jami As-Salaf. Tak sedikit orang yang diajarinya menjadi ustadz.

2.1 Guru-guru Beliau

  1. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah

KH. Abu Bakar Yusuf menjadi salah seorang penggerakan NU di wilayahnya. Pada tahun 1937 misalnya, Desa Karasak resmi menjadi Ranting NU. Bukti Syahadah (Surat Keputusan)-nya masih tersimpan di pihak keluarga.

Syahadah tersebut ditulis dengan huruf bahasa Arab di bagian kop. Penjelasannya, di bagian kanan menggunakan bahasa Arab dan sebelah kiri dengan bahasa Melayu. Meskipun sudah buram, tapi masih bisa terbaca.   

Syahadah yang bernomor 8 itu mengatakan: Kemudian maka jabatan….cabang dari Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Purwakarta Subang berkenan mengesahkan berdirinya kring (ranting) dari Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Karasak, tanggal… (tidak terbaca dengan jelas) pada bulan Oktober 1937.

Pada muktamar NU kedelapan, yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1933, ada Kyai yang hadir dari daerah Jatiragas, Karawang. Jika dilihat di peta, daerah tersebut merupakan tetangga Karasak, tempat KH. Abu Bakar Yusuf tinggal. Pada absensi muktamar, memang bukan KH. Abu Bakar yang hadir, tapi kemungkinan besar, beliau pernah berinteraksi dengannya. Karena NU tersebar melalui santri-santri para pendirinya. Kemungkinan lain, KH. Abu Bakar hadir ke muktamar tersebut, tapi tidak mencatatkan diri atau tidak dicatat.

KH. Abu Bakar Yusuf, memiliki pergaulan yang luas, terutama dengan tokoh-tokoh NU di tingkat nasional. Salah seorang cucunya, Moch Iqbal menjadi saksi bahwa sang kakek sering berkunjung dan dikunjungi tokoh NU di tingkat pusat. KH. Idham Chalid, KH. Saifuddin Zuhri, H Jamaluddin Malik, Subchan ZE, merupakan tokoh yang pernah berkunjung ke Karasak. Hingga tahun 1969, beliau aktif di partai NU menjadi anggota dewan di tingkat provinsi.

Setelah tahun itu, Abu Bakar Yusuf menarik diri dari kehidupan politik. Beliau lebih banyak membina masyarakat di daerah sekitar. Meski demikian, hubungan beliau dengan tokoh-tokoh NU yang lebih muda tetap terjalin. Beliau menjadi tujuan bagi mereka untuk meminta nasihat.

Chart Silsilah Sanad

Berikut ini chart silsilah sanad guru Biografi KH. Abubakar Yusuf Palembang dapat dilihat DI SINI.


Artikel ini sebelumnya diedit tanggal 22 April 2021, dan terakhir diedit tanggal 06 September 2022.

https://www.laduni.id/post/read/71088/biografi-kh-abu-bakar-yusuf-palembang.html