Kisah Santri yang Menangis Ingin Mati Syahid dan Taktik Jitu Sang Kiai Melawan Penjajah

Mbah Hasyim Asy’ari pada 17 September 1945 mengeluarkan tiga fatwa jihad yang impresif. Sehingga membuat masyarakat Surabaya, Jawa, dan Madura kian sontak dan simultan menghadapi peperangan melawan eks serdadu sekutu. Fatwa tersebut adalah: memerangi orang kafir yang menghalangi kemerdekaan NKRI hukumnya adalah ‘fardhu ain‘ bagi orang Islam maupun non Islam. Bagi yang mati dalam peperangan melawan NICA, adalah mati syahid. Dan, orang yang memecah persatuan dan keutuhan NKRI hukumnya wajib dibunuh.

Berkat revolusi jihad fi sabilillah itu, semua masyakarat (dari konsul NU, pasukan laskar, kiai, santri dan sebagainya) menatap peperangan bukanlah hal yang gamang, akan tetapi menjadi perkara yang menggayengkan dalam menyongsong keutuhan NKRI. Terlebih, Mbah Hasyim mengkristalkan fatwa tersebut dengan pidato yang lebih impresif dan emosional pada saat pengukuhan revolusi jihad di kantor PBNU, Bubutan, Surabaya.

Beliau menggaungkan optimisme peperangan melawan kolonialisme. Menyuruh masyarakat untuk tetap gigih dan digdaya menggempur penjajah tanpa ada kata “memihak”.

“Barang siapa yang memihak dan condong kepada kolonialis, berarti mereka memecah kebulatan dan mengacu barisannya. Barang siapa yang memecah pendirian umat yang sudah bulat, pancunglah leher mereka dengan pedang. Siapapun orangnya.”

Kisah Santri yang Nangis Ingin Mati Syahid

Sebagaimana yang telah diuraikan dalam buku Surabaya: Kota Pahlawan Santri (LTN NU Surabaya: 2021) ini, KH. Masyhudi selaku kesaksian salah satu pelaku sejarah sekaligus pengasuh PonPes Asshiddiqien, Prambon, Dagangan Madiun, mengutarakan tentang betapa agresifnya kiai dan santri untuk bertandang ke Surabaya, berjuang melawan kolonialisme. Saking semangatnya karena seruan jihad Mbah Hasyim yang telah menjadi pegangan spritual kaum sarungan, para santri dan kiai tak memikirkan senjata. Yang penting berangkat ke Surabaya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (24): Taubat

Mereka tak lagi memikirkan nasib Indonesia yang keadaannya masih compang-camping dan mobat-mabit. Sebab kala itu, di kubu pejuang Indonesia, militer dan polisi tidak ada. Senjata terbatas, dan kekurangan lain yang tak memungkinkan kemenangan sebenarnya manjadi mimpi buruk. Namun arek-arek Madiun, KH. Masyhudi dan kawan-kawannya berbondong-bondong ke stasiun Madiun untuk berkunjung ke Surabaya. Karena transportasinya terbatas, mereka (kiai dan santri) menangis dan berjalan kaki.

“Kami berbondong-bondong ke stasiun ingin naik kereta api. Bagi yang nggak kebagian, maka naik truk. Tapi karena jumlahnya terbatas, maka banyak yang nggak terangkut. Mereka (santri dan kiai) ini nangis. Bayangkan, ingin mati syahid aja antre. Masya Allah. Akhirnya yang nggak dapat kendaraan memilih berjalan kaki. Termasuk saya dan mertua saya, KH. Shiddiq.”

Santri dan Taktik Jitu KH. Abbas Abdul Jamil

Sebelum tragedi peperangan yang banyak memakan korban baik di kubu pejuang Indonesia maupun penjajah, yang terjadi di Surabaya selama tiga minggu tepatnya pada 10 Nopember 1945, Kiai Abbas Jamil telah menerapkan jaringan “Telik Sandi” (santri yang membentang dari Cirebon ke arah timur Surabaya). Anggotanya adalah para santri yang usianya masih cukup labil yakni 17 tahun ke bawah. Pasukan ini disebut Asybal (singa kecil). Tugasnya sebagai informan, mencari kabar berita dan menjadi mata-mata gerakan musuh.

Baca juga:  Sabilus Salikin (51): Sanad, Silsilah, dan Amalan Tarekat Imam Junaid

Sedangkan adik KH. Abbas Jamil, KH. Anas Abdul Jamil, membentuk pasukan Athfal (barisan anak-anak yang berfungsi sebagai telik sandi). Dua pasukan heroik ini telah dilatih dan dinahkodai langsung oleh Uztadz Hasyim Anwar dan KH. Abdullah Abbas (anggota PETA).

Adanya dua pasukan yang dirintis oleh Kiai Abbas dan adiknya ini adalah langkah yang elegan, apik dan cemerlang. Pasalnya, berkat dua pasukan yang digagas oleh beliau-beliau tadi, koordinasi antar lini barisan Mujahidin (laksar Hizbullah dan Sabilllah) yang disokong oleh KH. A. Wahab Chasbullah bisa berjalan manis dan kolaborasinya kian sempurna.

Taktik KH. Mahrus Aly, Lirboyo Melalui Santri Bernama Syafi’i

Usianya masih muda, 15 tahun. Namanya, Syafi’i Sulaiman. Ia adalah seorang santri yang dipercaya oleh beliau, KH. Mahrus Aly untuk menjadi tangan kanannya, menjalankan tugasnya, yakni menjadi pengintai markas Jepang di Kediri. Mengapa KH. Mahrus memilih orang yang usianya masih muda? Padahal, untuk melakukan misi intelejen adalah bukan perkara yang mudah. Dan tentu saja bukan main-main. Taruhannya adalah nyawa. Jawabannya sederhana. Kiai KH. Mahrus tidak akan memilih personil meski masih muda jika KH. Mahrus tidak tau terhadap karakter santrinya.

Sebelum ia memilih Syafi’i untuk menjadi pengintai, KH. Mahrus tentu sudah paham dan tahu betul terhadap Syafi’i. Bahwa ia adalah santri yang memiliki kelebihan: ketenangan dan ketangkasan yang tidak dimiliki oleh sembarang santri. Dan benar saja, Syafi’i mampu menjalankan tugasnya dengan cemerlang. Beberapa kali ia melaporkan hasil pengintaiannya. Ia selamat dari petaka dan tidak diketahui oleh militer Jepang.

Baca juga:  Fahrenheit 451: Membakar Buku di Hari Buku

Walhasil, berkat ke-epikan Syafi’i, rencana KH. Mahrus Aly untuk melakukan pelucutan senjata Jepang yang awalnya terurungkan pada awal September 1945, kini berhasil. Jepang menyerah atas santri Lirboyo. Semua senjata Jepang berhasil diangkut sebanyak satu truk.

***

Inti buku ini menjelaskan tentang peran dan kontribusi mulia ulama, kiai, santri, para laskar dan kaum sarungan lainnya seantero Nusantara dalam peperangan di Surabaya demi keutuhan NKRI yang tanpa takut melawan musuh, yang merupakan personil jawara perang dunia II. Kaum sarungan, laskar, dan pejuang Indonesia secara umum tak gentar meski dari segi kekuatan militer maupun senjatanya tak seimbang. Mereka tetap digdaya di bawah naungan doa-doa ulama, utamanya revolusi jihad yang menjadi bekal keberanian dan pegangan spritualitas mereka.

Menariknya lagi, buku ini juga memaparkan guyonan Soroboyoan saat pertempuran. Mulai dari pertanyaan santri kepada kiai perihal jihad tentang boleh tidaknya berjalan miring kayak kepiting, kiai muda asal Cirebon yang gulung tikar lalu mundur tanpa pamit setelah dikasih tahu kalau tank bukanlah kerbau, sampai anggota TRIP yang maunya “Bergaya” tapi malah celaka.

Bayangkan. Dalam keadaan genting pun masih suka bertingkah konyol. Bayangkan…!

Pun juga pembaca akan disuguhkan dengan napak tilas tempat bersejarah di Surabaya sampai istilah jancuk dalam pusaran revolusi 10 November.

Buku: Surabaya: Kota Pahlawan Santri

Penulis: Rijal Mumazziq Z

Cetakan: III Agustus 2021

Terbitan: LTN NU Kota Surabaya

Halaman: 154

ISBN: 987-602-7661-91-2

https://alif.id/read/zbr/kisah-santri-yang-nangis-ingin-mati-syahid-dan-taktik-jitu-sang-kiai-melawan-penjajah-b242444p/