Keturunan Rasulullah: Minoritas yang Dominan di Indonesia

Kita masih ingat, sejak memasuki tahun 2000-an lalu, majlis-majlis zikir di lingkungan habaib mulai mendatangi para jamaahnya. Jika sebelumnya para jamaah yang mendatangi para habaib, kini mereka berinisiatif mendatangi para jamaah, baik di wilayah Jakarta, Madura, Banten hingga ke berbagai pelosok tanah air. Sebagai pewaris ajaran Nabi Muhammad, para habaib mampu mendatangkan ratusan bahkan ribuan jamaah di seluruh wilayah Indonesia.

Hal inilah yang membuat peran habaib signifikan dalam politik elektoral. Mereka sanggup mengakumulasikan jumlah massa, bahkan sanggup menggerakkan pengikutnya. Iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat di negeri ini, sangat mendukung peran sentral mereka, karena bagaimanapun demokrasi adalah pupuk yang dapat menyuburkan tanaman identitas Arab di negeri ini.

Di sisi lain, tidak jarang peran Arab-sentris menjadi ajang provokasi, agitasi, dan kampanye politik. Di kalangan Alawiyyin dengan segala kemapanan status sosialnya, kini telah dihadapkan pada situasi yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Perputaran akumulasi modal sosial dan kultural terjadi begitu cepat dan menstimulasi modal material yang diawali dengan maraknya jamaah, yang bahkan tak pernah mereka bayangkan.

Saya memulai tulisan ini dengan memasuki perdebatan sederhana perihal Hadhrami dan Alawiyyin yang kini ramai menjadi perbincangan kalangan akademisi, intelektual hingga pengamat sosial-politik kita. Ini bukan perkara ilusi tentang identitas Arab, tetapi pengakuan bangsa ini tentang sejarah kelahiran agama dominan (Islam) yang bermula dari para penyiar dan pendakwah yang datang dari wilayah Hadhramaut (Yaman), Gujarat (India), hingga ke Samudera Pasai (Aceh).

Fenomena kebangkitan tokoh-tokoh Hadhrami dalam iklim politik Indonesia dan Asia Tenggara, sejatinya berperan selaku agen penyeimbang pemerintah. Pihak pemerintah tak bisa mengabaikan peran mereka, atau menganggapnya sebagai rival belaka, tetapi harus cerdas dan reflektif, khususnya dalam menyikapi Hadhrami-Alawiyyin yang terus bereksplorasi menjejakkan identitas kelompoknya.

Kajian ilmiah mengenai Hadhrami sebagai sebuah kelompok sosial sangat minim di Indonesia. Padahal, peran mereka begitu dominan, karena berakar dari kultur dan sejarah kelahiran agama terbesar di negeri ini. Kita hanya bisa menganalisis karya-karya klasik dari Belanda, seperti karya Huub de Jonge, Van den Berg, hingga Natalie Kesheh. Sementara, hanya beberapa gelintir naskah yang ditulis orang Indonesia sendiri, seperti karya Syamsul Rijal dan Ismail Fajrie Alatas. Malahan kita sering memakai istilah yang dibangun oleh para pengamat dan penulis Tionghoa seperti Engseng Ho, semisal “Arab totok” atau “Arab peranakan”, yang meskipun memiliki kesamaan makna tetapi nuansanya berbeda dengan istilah Arab yang lebih mendalam (muwallad).

Baca juga:  Profesor di Palembang yang Wafat karena Covid-19 adalah Ulama dan Mantan Ketua FPI

Selayaknya bangsa ini mengadakan redefinisi “orang Arab” yang bukan semata-mata ekspresi identitas yang dangkal, namun juga problematik secara faktual. Dan mestinya menjadi perhatian serius, khususnya di kalangan akademisi dan para sarjana antropologi dan linguistik. Kini, tak bisa dipungkiri bahwa kristal-kristal identitas kalangan Alawiyyin semakin tampak dalam kesatuan yang solid dan kokoh. Ini bukan sekadar gerakan pembaharuan, tetapi sudah berakar sejak berabad-abad silam, terus bergerak di bawah tanah, karena – meminjam adagium dari novel Pikiran Orang Indonesia – kekuasaan militerisme Orde Baru tak memungkinkan mereka tampil ke permukaan selama beberapa dekade lalu.

Kebangkitan ini dengan sendirinya mendorong peran-peran habaib menjadi sangat signifikan dalam berbagai bidang. Mereka adalah kelompok minoritas di negeri ini, tetapi peran mereka sangat dominan (dominant minorities), terutama dalam sosial-budaya, keilmuwan hingga merambah ke ranah politik. Barangkali bisa disejajarkan (walaupun tak persis sama) dengan peran minoritas kaum Yahudi di Amarika Serikat yang juga memiliki otoritas di segala bidang.

Menilik analisis para pengamat dan sejarawan, dominasi peran mereka sebenarnya telah hadir sejak sebelum bangsa ini merdeka dari penjajahan Belanda. Salah satu ciri penting dominant minorities ini dalam proses pembentukan bangsa yang heterogen, lantaran adanya ikatan kesamaan nilai-nilai berupa kepercayaan dan keyakinan beragama, bahasa, epos, termasuk konsep kepahlawanan yang dipengaruhi dan dibentuk oleh sebuah etnik yang dominan.

Tidak sedikit pengamat politik menilai, bahwa peran keturunan Hadhramaut dalam pembentukan nilai-nilai kebangsaan jauh lebih besar daripada kelompok etnis dan suku manapun. Bahkan, termasuk Jawa yang digadang-gadang memiliki peran dominan di negeri ini. Namun, saat ini kita bisa melihat, hampir tidak ada suku di Nusantara yang daya penyebaran dan penjelajahannya semasif Hadhrami, yang tersebar dari Aceh hingga menjangkau wilayah Papua.

Baca juga:  Ziarah Wali Maroko (1): Yusuf bin Ali dan Penyakit Kulit

Bagaimanapun, kelompok Hadhrami dan Alawiyyin sudah memiliki modal besar untuk menjadi kelompok terhormat di negeri ini. Keterbukaan negeri Yaman pasca runtuhnya pemerintahan Komunis menjadi faktor utama dalam penguatan identitas Alawiyyin, sehingga mereka yang mampu ke Yaman mempertebal pertalian ke leluhur dan tanah asal usul mereka.

Maka, muncullah kecenderungan kelahiran kembali generasi baru Alawiyyin yang memperjuangkan status quo dengan mempertahankan tradisi Arab-Alawiyyin di Asia Tenggara, terlebih di seluruh wilayah Indonesia.

Pengakuan identitas tersebut telah disokong dan direspons positif dengan penghormatan oleh kalangan non-Hadhrami di negeri ini. Mereka termasuk golongan yang menamakan dirinya sebagai “muhibbin”, yakni para pecinta Rasulullah dan para keturunannya. Meskipun, kadang menjelma sebagai gerakan yang berlebihan, dan menjurus pada semangat sektarianisme. Inilah yang membuat eksistensi Alawiyyin yang berniat tulus mendakwahkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, kian tercemar oleh ulah beberapa gelintir orang yang mengaku-ngaku “habib” namun perilakunya sama sekali tak mencerminkan akhlak Rasulullah.

Padahal, yang harus menjadi perhatian utama adalah beriman kepada Rasulullah, barulah kita boleh percaya kepada figur yang membawa misi dan nilai-nilai luhur ajaran Rasulullah. Tapi kadangkala kita menemukan orang atau kelompok tertentu yang salah kaprah memprioritaskan keimanan pada figur terlebih dahulu. Setelah itu, dia bersikap fanatik kepada figur tersebut, tanpa sanggup meneladani akhlak Rasulullah. Mereka lebih mendahulukan keimanan kepada sosok figur ketimbang beriman terlebih dahulu pada kerasulan Muhammad.

Terkait dengan itu, dalam buku karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny perihal 198 Kisah Haji Wali-wali Allah, diceritakan tentang perjalanan haji seorang cicit Rasulullah, Ali Zainal Abidin yang berjumpa dengan seorang sahabatnya, Thawus bin Kaisan. Kita mengenal Ali Zainal Abidin sebagai figur dan sosok ahli zuhud. Meski dikenal cerdas dan berilmu, tetapi ia memosisikan diri sebagai figur bersahaja, dan tidak menyombongkan diri lantaran garis keturunan nasab yang dimilikinya.

Suatu ketika, Thawus menyaksikan Ali Zainal Abidin sedang berdiri di bawah bayang-bayang Kakbah. Seperti orang yang tenggelam, Ali menangis seperti ratapan penyesalan seorang yang menderita sakit, lalu berdoa terus menerus seperti sedang terkena masalah yang sangat besar.

Baca juga:  Romo Louis Leahy dan Manusia Rohani

Seusai berdoa, Thawus mendekat dan bertanya, “Wahai cicit Rasulullah, aku melihat engkau seperti menderita rasa sakit, padahal engkau memiliki tiga keutamaan yang akan bisa menyelamatkanmu dari rasa takut.”

“Adakah yang membuat aku merasa aman, wahai Thawus?” tanya Ali Zainal Abidin.

Thawus menatapnya dengan seksama, dan tegasnya, “Pertama engkau adalah keturunan Rasulullah, kedua engkau akan mendapatkan syafaat dari kakekmu Muhammad, dan ketiga engkau dipastikan mendapat rahmat Allah…”

Ali mendekat dan berkata di hadapan Thawus dengan nada serius, “Sahabatku, garis keturunanku dengan Rasulullah bukanlah jaminan aku mendapat keamanan, karena Allah berfirman bahwa ketika ditiup sangkakala nanti, maka tak ada lagi pertalian nasab di hari itu (al-Kahfi: 99). Adapun tentang syafaat kakekku, Allah telah berfirman bahwa siapapun takkan sanggup memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhoi Allah semata (al-Anbiya: 28). Sedangkan, mengenai rahmat Allah yang engkau maksudkan tadi, Allah juga berfirman bahwa rahmat-Nya amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (al-Araf: 56).”

Di sinilah, kita bisa membedakan antara anak biologis dengan anak ideologis. Sebab bagaimanapun, anak ideologis mencerminkan akhlak dan karakteristik sesuai dengan misi dan ajaran Rasulullah, tanpa pandang bulu, apakah dia hanya sekadar teman, sahabat maupun murid yang menimba ajaran dari sang guru (mursyid). Sedangkan anak biologis, tidak jarang dihinggapi keangkuhan dan kesombongan, bahwa ia sudah menyandang identitas selaku keturunan dari seorang figur, yang seakan-akan dijamin kebaikan dan kesalehannya.

Hal ini pula yang membuat Nabi Ibrahim pernah diperingatkan ketika ia berdoa agar semua anak keturunannya mendapat rahmat dan jaminan keselamatan dari Allah. Namun kemudian Allah menjawab, bahwa hanya mereka yang berbuat baiklah yang akan mendapat jaminan keselamatan, sedangkan mereka yang jahat dan ingkar, tidak termasuk dari golongan orang yang didoakan oleh Nabi Ibrahim tersebut. ***

https://alif.id/read/eor/keturunan-rasulullah-minoritas-yang-dominan-di-indonesia-b247615p/