Gus Ulil; Dimensi Pengetahuan dan Bahaya Debat

Secara garis besar, hierarki pengetahuan atau ilmu menurut al-Ghazali terbagi menjadi dua, pertama ilmu syar’iyah, kedua ilmu aqliyah. Ilmu syar’iyah adalah ilmu yang bersumber dari wahyu, sementara ilmu aqliyah sumbernya bukan dari wahyu, melainkan dari akal murni, rasionalisme, dan spekulasi, seperti ilmu kedokteran, pertanian, insinyur dan lainya. Pendek kata, ilmu-ilmu yang sumbernya bukan dari al-Qur’an dan hadits, maka disebut ilmu aqliyah.

Faktanya, orang yang sudah mendapatkan ilmu pengetahuan, kerap kali cenderung menggunakannya didalam tujuan-tujuan yang tidak positif. Dalam hal ini, setelah pengetahuan itu diperoleh oleh orang yang alim, tak sedikit dari mereka yang menyalahgukannya. Misalnya, ilmu pengetahuan dipakai untuk berdebat, menantang antar satu kelompok dengan kelompok lain. Alih-alih berdebat, mereka bukan malah menjawab masalah-masalah diakar rumput, tapi lebih menampilkan citra kecakapannya dalam berargumen dan beretorika.

Menurut Gus Ulil, memang belajar ilmu pengetahuan itu baik, tapi setelah mendapatkan ilmu pasti ada bahayanya (cobaan). Bahaya, orang yang sudah punyak ilmu biasanya cenderung sombong (takabbur), arogan, bahkan egonya tinggi. Walaupun pada hakikatnya bodoh tidak boleh, tapi menjadi alim diperintahkan oleh agama. Dalam hal ini, seseorang yang sudah menjadi alim di peringatkan lagi, bahwa ilmu itu dapat membawa “afat” bahaya. Semakain banyak ilmu, maka semakin banyak pula ujian dan bahayanya.

Namun demikian, sambung Gus Ulil, biasanya yang paling banyak afat-nya adalah ilmu yang sedikit. Ironisnya, banyak dari mereka yang sedikit ilmunya sudah merasa paling bisa dalam segala hal. Karena itu, jika ada orang yang sombong dengan pengetahuannya, mungkin ia belajarnya masih tahap awal.

Baca juga:  Ramadan dan Kisah Klise Muslim Kota

Masih tentang ilmu pengetahuan. Rupa-rupanya, masih ada bahaya lain diluar sombong. Karena tiap fase didalam pertambahan ilmu pengetahuan pasti ada bahayanya tersendiri. Benar apa yang disabdakan Nabi:

لكل انسان شيطان

“Tiap-tiap manusia ada syetan (kekuatan jahat) dalam dirinya.”

Artinya, kekuatan jahat itu mengintai setiap fase perjalanan manusia, membuat dan menggiring manusia jatuh pada lobang kesalahan yang fatal.

Karena itu, tak heran jika ulama sekelas Syaikh Barshisa, seorang ahli ibadah yang memiliki kehebatan dalam hal keshalehan dan ketaqwaannya kepada Allah swt. Bahkan, malaikat pun terkagum melihatnya. Syaikh Barshisa sebagaimana dikisahkan dalam kitab Jauhar Mauhub, merupakan sosok yang dikenal sebagai abid (ahli ibadah) dan juga memiliki karomah. Ia memiliki puluhan ribu santri dengan berbagai kehebatan. Ada yang bisa terbang, berjalan diatas awan, dan kehebatan-kehebatan lahiriah lainnya dengan berkah ilmu.

Tak tanggung-tangung, ia beribadah selama 220 tahun tanpa sekalipun melakukan perbuatan maksiat. Namun singkat cerita, diakhir hayatnya, Syaikh Barshisa meninggal dunia dalam keadaan kafur dan su’ul khatimah. Kisah ini menjadi pembelajaran bagi kita untuk mengusahakan diri sebaik mungkin menjauhi dari segala larangan Allah swt. Penting juga untuk memahami bahwa ibadah harus dibarengi dengan ilmu. Dengan ilmu, kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk, sehingga ketika godaan muncul, kita bisa menepis dan tidak terjerumus dengan hal itu.

Syahdan, menurut al-Ghazali, ada sepuluh afat (bahaya) orang yang suka bedebat. Pertama adalah hasud (al-hasad).

ولا ينفك المناظر عن الحسد ، فإنه تارة يغلب وتارة يغلب ، وتارة يحمد كلامه وأخرى يحمد كلام غيره.

Baca juga:  Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia (3/3)

Kata al-Ghazali, orang yang berdebat ada dua kemungkinan; ada menang, ada kalah. Tentunya, yang kalah pasti akan menghasud yang menang. Pun juga, dalam perdebatan ada yang argumennya di sanjung karena kuat, ada yang di caci-maki karena lemah terjatuh dalam sesat pikir (logical fallcy).

Sikap hasud adalah buah dari sikap dendam, sedangkan dendam adalah buah dari kemarahan. Nabi bersabda, “Sikap hasud dapat menghancurkan kebaikan seperti api membakar kayu bakar.” Hakikat hasud adalah orang yang tidak menyukai nikmat Allah yang dikaruniakan kepada saudaranya, sehingga ia merasa senang jika nikmat tersebut hilang darinya.

Kedua, adalah sombong dan merasa tinggi (al-takabbur-al-taraffu’). Sombong ini biasanya terjadi pada orang yang sesama level. Ketiga dengki (al-hikdu). Dia tidak menyukai lawan debatnya jika mendapatkan kebaikan dan keunggulan, dan gembira jika lawannya mendapati kesulitan-kesulitan. Keempat ghibah (al-ghibah). Tidak bisa menjaga mulutnya dari mengatakan hal buruk kepada lawan debatnya, seperti perkataan; kamu bodoh, dungu, dan lainnya.

Kelima, menganggap dirinya paling baik dan bijak (tazkiyah al-nafsi). Suatu waktu Lukman Hakim pernah ditanya, “apa kebenaran yang jelek?” Jawaban Lukma Hakim, “orang yang memuji dirinya sendiri.” Tentu yang di pujikan pada dirinya benar, tapi itu mengandung kesalahan karena merasa dirinya paling baik.

Keenam, mencari kesalahan orang lain (tajassus). Mencari kesalahan, mulai dari substansi argumennya, karakter, hingga kepersoalan pribadi. Ketujuh, senang kalau lawan debatnya tertimpa masalah, dan merasa sedih jika lawannya mendapatkan kebaikan. Kedelapan munafik. Cepat atau lambat pasti akan terjatuh pada kemunafikan.

Baca juga:  Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi (1): Ekonomi Pesantren Mampu Bersaing dalam Skala Global

Mengapa munafik? Umumnya, orang yang berdebat tidak menyukai lawan debatnya, sementara lawan debatnya misalnya, adalah tokoh besar yang mempunyai jejak dan pengikut banyak. Karena pengikut banyak, dia pasti akan mengakui kehebatan sang tokoh, seolah memberikan apresiasi, padahal dalam hatinya tidak menyukainya.

Kesembilan tinggi hati terhadap kebenaran. Orang yang suka berdebat pasti merasa tinggi hati terhadap suatu kebenaran, walaupun musuhnya mengatakan hal yang benar dengan argumentasi tepat, dia pasti akan mencari-cari kelemahannya. Wajar saja jika para filosof muslim mengatakan, perdebatan dalam hierarki kebenaran tidak akan menimbulkan pengetahuan yang tingkat tinggi. Karena baginya, rangking ilmu tertinggi bukan hasil dari debat semata, melainkan karena “al-burhan”. Ada proses-proses yang sesuai dengan aturan didalam ilmu pengetahuan. Misalnya dengan melakukan observasi, kemudian dibuat hipotesis, verifikasi dan lain sebagainya.

Kesepuluh pamer (riya). Dalam hal ini, selalu mempertimbangkan opini lawannya, dan mengikuti selera lawan tanpa substansi yang benar. Inilah godaan-godaan yang bisa menjebak orang-orang berdebat menggunakan pengetahuan yang di anugerahkan Tuhan kepada dirinya, untuk berdebat.

Syahdan, terlepas dari itu semua, menurut al-Ghazali orang yang paling hebatpun pengetahuannya ketika berdebat, maka tidak akan bisa selamat dari salah satu godaan yang sepuluh tersebut. Mungkin dia bisa selamat dari satu jebakan, tapi tidak dengan jebakan yang lain. Tak hanya itu, al-Ghazali juga menegaskan bahwa, sepuluh afat dalam debat di atas disebut dengan “radhail”, penyakit-penyakit hati yang harus di jauhi oleh kaum muslim. Wallahu a’lam bisshawab.

 

https://alif.id/read/safa/gus-ulil-dimensi-pengetahuan-dan-bahaya-debat-b244953p/