Catatan Penting Pemikiran Fakhr Razi

Laduni.ID, Jakarta – Ar-Rāzi mengkritik konsep waktu Aristotelean. Pertama, bagi ar-Rāzi waktu ada dan waktu terbukti dengan sendirinya (Apriori) atau beranggapan sebelum mengetahui melihat, menyelidiki, dan sebagainya. Sedangkan Aristotelen berpendapat waktu itu ada dan pembuktianya adalah apostereori atau beranggapan telah mengetahui melihat, menyelidiki, dan sebagainya.

Kedua, bagi Ar-Rāzi esensi waktu adalah tidak tergantung kepada gerak, sedangkan Aristotelen berpendapat waktu adalah ukuran kepada gerak. Ketiga, bagi Ar-Rāzi waktu adalah kuantitas terpisah, sedangakan Aristotelen berpendapat waktu adalah kuantitas berterusan.

Keempat, bagi ar-Rāzi Allah lebih dulu dari alam dan lebih dulunya di luar waktu, sedangkan pendapat Aristotelen Allah lebih dulu secara zat dari alam dan waktunya bersamaan dengan terjadinya alam.

Ar-Rāzi memaparkan sepuluh argumen yang menyatakan waktu adalah Apriori (anggapan sebelum mengetahui melihat, menyelidiki, dan sebagainya).

1. Bayangkan seorang buta yang duduk di rumah yang gelap gulita dan tidak menyadari wujud bola-bola langit dan bintang-bintang. Dia tetap bisa menemukan masa mengalir tanpa henti, sekalipun ia berniat membawa semua gerak, termasuk matanya dan jiwanya kedalam kondisi diam.

Tatkala dia mempertimbangkan kondisi ini dari awal pagi kepada pagi, kemudian dari pagi kewaktu zuhur, sekalipun ia tidak menyadari gerakan semua benda-benda langit, dia mengetahui sendiri semua terbukti dengan sendirinya apa yang telah berlalu dari awal pagi ke pagi adalah setengah dari apa yang berlalu dari awal pagi kesiang hari.

Pengetahuan spontan ini tidak tergantung pada pengetahuannya tentang bola-bola langit dan bintang-bintang yang bergerak. Hal ini menunjukkan pengetahuan tentang keberadaan masa adalah terbukti dengan sendirinya dan tidak membutuhkan bukti apapun.

2. Akal manusia menilai sesuatu apakah sesuatu itu ada atau tiada, sesuatu yang ada dan tiada itu dalam kondisi baharu dan perubahan atau dalam kondisi berterusan dan permanen. Jika sesuatu itu dalam kondisi baharu maka akal menegaskan ruang dan waktu, dan menjadikan ruang dan waktu sebagai wadah bagi sesuatu, akal menyatakan sesuatu itu telah terjadi pada waktu-waktu tertentu.

3. Masa Nabi Adam a.s dan Nabi Muhammad SAW menunjukkan ada masa yang khusus antara keduanya, adanya saudara kembar secara simultan menunjukkan jika saudara kembar adalah wujud dari waktu yang sama. Jadi ilmu tentang keberadaban waktu adalah sesuatu yang sangat jelas dalam akal manusia, makna simultan dan sebelum bukanlah esensi dalam dirinya karna esensinya dan eksistensinya.

4. Terlepas apakah suatu benda sedang bergerak atau diam, konsep gerak mengandaikan sebelumnya keberadaan waktu.

5. Setiap akal manusia tahu secara apriori (beranggapan sebelum mengetahui melihat, menyelidiki, dan sebagainya) bahwa apa yang wujud adalah apa yang wujud azali, wujudnya tak bermula atau wujud baharu, artinya jika kita mempertimbangkan situasi di masa lalu, kita hanya dapat membayangkan waktu telah wujud sebelum itu. Wujud baharu adalah wujud yang memiliki permulaan, yang mana akal manusia tiba pada saat mempertimbangkan bahwa sesuatu itu berasal. Jadi makna azali dan baharu hanya dapat dipahami dengan mengambil wujud waktu sebagai pertimbangan.

6. Waktu bisa dibagi menjadi tahun, bulan, hari dan jam. Diketahui secara apriori bahwa jam adalah bagian dari hari, yang merupakan bagian dari bulan, yang merupakan bagian dari tahun, yang merupakan bagian dari masa. Waktu harus nyata dalam realitas eksternal, jika tidak nyata waktu tidak akan bisa jadi tempat (locus) untuk pembagian-pembagian ini direalitas eksternal.

7. Siapapun mengetahui bahwa masa adalah pendek atau panjang dan ini bukan semata-mata andaian mental atau murni karena masa sesuai dengan sesuatu yang eksternal.

8. Tahun-tahun adalah suksesif dan masa lalu, sekarang dan masa depan adalah berbeda antara satu dengan yang lainnya.

9. Makna simultan adalah dua gerak terjadi pada waktu yang sama.

10. Terbukti bahwa gerak seekor semut yang merayap lebih lambat dari seekor burung. Makna gerak lambat dan gerak cepat adalah gerak cepat menempuh jarak yang sama dengan gerak lambat dalam waktu yang lebih pendek, atau gerak cepat menempuh jarak yang lebih panjang dari jarak yang pendek pada waktu yang sama. Jadi pengetahuan gerak lambat dan gerak cepat adalah terbukti dengan sendirinya dan esensi gerak cepat dan gerak lambat hanya bisa dipahami dengan mempertimbangkan wujud waktu.

Oleh: Firmansyah Djibran El’Syirazi


Editor: Daniel Simatupang

https://www.laduni.id/post/read/73254/catatan-penting-pemikiran-fakhr-razi.html