Biografi KH. Sonhaji (Mbah Jimbun)

Daftar Isi Profil KH. Sonhaji

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mursyid Tarekat
  6. Teladan
  7. Chart Silsilah Sanad

 

Kelahiran

KH. Zainal Abidin atau yang biasa akrab dipanggil KH. Sonhaji, Mbah Son atau Mbah Jimbun lahir pada tahun 1916  di Jimbun, Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Chasbulloh dan Nyai Mairah.

Wafat

KH. Sonhaji wafat dalam usia 92 tahun pada hari Senin 17 Maret 2008 M sekitar pukul 17.00 WIB. Kemudian jenazah beliau dimakamkan di Jimbun, Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah.

Ada satu pesan yang sering didawuhkan saat beberapa bulan menjelang kewafatannya yang didengar oleh salah satu cucunya, Gus Ahmad Danyalin Al-Ishaqi yaitu sabda Nabi Saw.:

“Hendaklah engkau selalu bersama Allah. Jika tidak mampu, berusahalah selalu bersama orang-orang yang dekat dengan Allah. Karena sesungguhnya orang itulah yang akan menyampaikanmu kepada Allah.”(HR. Abu Daud).

Keluarga

KH. Sonhaji  melepas masa lajangnya dengan menikahi Ibu Nyai Nurul Kholidiyah Purwodadi, janda dari Mbah Mangliatau KH. Hasan Asy’ari.

Pendidikan

KH. Sonhaji kecil belajar ilmu agama di Pesantren Jetis, dulu belum memiliki nama, sekarang dinamai Pondok Pesantren Al-Huda. Pesantren Al-Huda Jetis ini sekarang diasuh oleh KH. Wahib Mahfudz, cucu Mbah Abdurrahman, pendiri Pesantren Jetis.

Mbah Abdurahman juga merupakan kakek KH. Sonhaji. Kemudian setelah belajar pertamanya di Pesantren Jetis, beliau melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Lirap dan Pesantren Sumolangu (Kebumen).

Saat memasuki usia remaja, KH. Sonhaji muda melanglang dari satu pesantren ke pesantren lain. Dirinya sempat berguru kepada Mbah Dalhar di Pesantren Watucongol dan KH. Muhajir di Pesantren Bendo Pare (Kediri). Sewaktu menimba ilmu atau nyantri di Pesantren Bendo, konon KH. Sonhaji muda ini berganti nama menjadi Maqsud.

Mursyid Tarekat

KH. Sonhaji adalah mursyid Tarekat Naqsabandiyah Qadiriyah, sanad dan ijazah Tarekat Naqsabandiyah Qadiriyah diperoleh dari Syekh KH. Utsman bin Nadi al-Ishaqi Jatipurwo (Surabaya). Usai menunaikan ibadah haji, beliau beralih nama Sonhaji Chasbullah, yakni Sonhaji bin Chasbulloh.

Beliau merupakan besan dari Syekh KH. Utsman bin Nadi al-Ishaqi Jatipurwo, disamping juga berguru thariqah hingga disempurnakan sampai mendapatkan “Ijazah Kemursyidan dan Izin” dari Mbah Utsman al-Ishaqi. Secara nasab beliau masih keturunan ulama-ulama besar, berdarah biru, yang bersambung ke para sunan (Wali Songo) penyebar Islam di Nusantara ini.

KH. Sonhaji semakin dikenal publik sejak namanya disebut langsung oleh Gus Dur sebagai guru tarekatnya pada sebuah acara keagamaan (Istigasah Kubra) di Gelora Bung Karno. Sejak itulah, KH. Sonhaji ini terkenal dan dibahas dimana-mana biografi ketokohannya dalam bidang Tarekat Naqsabandiyah Qadiriyah.

Teladan

Setiap kali Gus Dur datang ke Kebumen, beliau selalu menyempatkan sowan menemui sang guru. Salah satu ajaran KH. Sonhaji yang melekat pada diri Gus Dur adalah kesederhanaan.

Ajaran tentang kesederhanaan hidup ini bukan hanya secara lisan, namun juga diajarkan melalui tindak laku beliau. Karena pembelajaran yang terbaik yaitu dari tauladan langsung melalui tingkah laku.

Semasa hidupnya, KH. Sonhaji dikenal sebagai sosok yang bersahaja. Bahkan, para tetangga sering menjumpai dirinya belanja sayuran sendiri di Pasar Tengok. Sebuah pemandangan yang terbilang langka sekarang ini. Meski notabenenya merupakan kyai yang memiliki banyak santri.

Mungkin jika KH. Sonhaji menugaskan seorang santri untuk berbelanja, ia langsung sendiko dhawuh atau melaksanakan apa yang diperintahkan, namun KH. Sonhaji lebih memilih untuk berbelanja ke pasar sendiri. Sungguh hal tersebut merupakan teladan yang amat konkret.

Meski terpisah jarak cukup jauh (Kebumen-Jakarta), hubungan guru dan murid itu terbilang hangat. Sesekali Gus Dur berkirim surat kepada sang guru. Demikian pun sebaliknya.

“Gus Dur kuwi wonge nggunake adab, arep mlebu thoriqoh liyo wae isih  sempat kirim surat; (Gus Dur itu orangnya beretika, mau masuk tarekan lain saja, minta izin dengan, berkirim surat, red),” kata Mbah Jimbun, seperti dituturkan kembali oleh Gus Hakim Lukman.

Chart Silsilah Sanad

Berikut ini chart silsilah sanad guru KH. Sonhaji (Mbah Jimbun) dapat dilihat DI SINIdan chart silsilah sanad murid beliau dapat dilihat DI SINI.


Artikel ini sebelumnya diedit tanggal 12 September 2020, dan terakhir diedit tanggal 05 September 2022.

https://www.laduni.id/post/read/68671/biografi-kh-sonhaji-mbah-jimbun.html