Biografi KH. Hasan Mustofa ( Abuya Cilember )

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesanten

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau

4          Karier
4.1       karier Beliau

5         Referensi

1.1  Lahir
Hasan lahir pada tahun 1890 di Bogor, Jawa Barat. Ayahnya adalah Abah Saenan, seorang pengrajin handmade (kerajinan tangan) yang berasal dari Ciamis, sedangkan ibunya adalah orang Banten bernama Hajjah Husniyah binti Kiai Haji Mansur.Dari garis ibunya, dia masih memiliki ikatan darah dengan keluarga kesultanan Banten.

1.2  Riwayat Keluarga
Sepulangnya dari Sempur, Abuya kembali belajar pada Mama KH. Ahmad Satibi Gentur Cianjur, setelah itu disuruh mukim pada Tahun 1918 dan menikah tahun 1920 dengan
1. Ibu Hj Rotibah Binti H. Husen/Embah Idong yang terkenal dermawannya.dikaruniai 15 anak
1.KH. Tajuddin
2.M. Abdullah
3.KH. Apipuddin
4.KH. Burhanuddin
5.Hj. Siti Sholihat
6.KH. Karomuddin
7.KH. Alimuddin
8.M. Fachrul Islam
9.M. Hasbiyallah
10.M. Rafe’i
11.Hj. Siti Karomah
12.Siti Sa’adah
13.Siti Fauzan
14.M. Rodhiallah
15.Hj. Siti Mubarokah

2. Abu Hj. Husniah
Dikaruniai 2 anak
1. M.Nikmatullah (Alm)
2. KH.Rachmatullah
Abu Hj. Husniah Binti Mama TB.KH. Mansyur Bin R. Suhara Binti R. Iyut Binti Embah TB Andung Bin R. Jakir Cikupa Tangerang Bin R. Syake/shoheh Bin Sultan Ageng Tirtayasa Bin sultan Abdul Ma’ali Bin sultan Abul Almafakhir Mahmud Abdul Kadir Kenari Bin Maulana Muhammad Nasruddin Bin Maulana Yusuf Bin Maulana Hasanuddin Banten.

3. Ibu. Hj. Iyar Cimacan Tidak dikaruniai anak
4. Ibu. Eem Tidak dikaruniai anak
5. Ibu Hj. Jamilah Binti Embah Sarbini cucu dari Embah Jasmi.
 

1.3  Wafat
Hasan wafat pada tahun 1975 di Cilember, Cisarua, Bogor.[6] Pasca wafatnya, Pesantren Cilember kemudian dipimpin oleh anak bungsunya, Kiai Haji Rahmatullah pada tahun 1979, setelah sebelumnya dipimpin oleh anaknya yang lain selama 4 tahun. Haul atau Peringatan hari kematiannya selalu diperingati setiap tahun di Pesantren Nurul Huda yang dihadiri ratusan jamaah dari Bogor dan daerah sekitarnya.

2.1   Mengembara Menuntut Ilmu
Menginjak usia dewasa, Hasan menuntut ilmu ke beberapa pesantren di Jawa Barat. Di antaranya adalah Pesantren Cinengah, Cianjur; Pesantren Rawa Belut, Cibadak, Cianjur; dan Pesantren Cihapit, Bandung. Setelah menuntut ilmu dari Bandung, Hasan kemudian melanjutkan pendidikan agamanya di Pesantren Gentur, Cianjur di bawah asuhan Syekh Ahmad Syathibi al-Qonturi. Setelah itu, dia kemudian melanjutkan perjalanan ke Purwakarta dan berguru kepada Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri, Plered.

Setelah melakukan perjalanan keilmuan dari satu pesantren ke pesantren lainnya, Hasan kemudian kembali lagi ke Pesantren Gentur untuk memperdalam ilmunya kepada Syekh Ahmad Syathibi. Di Pesantren Gentur, dia menetap cukup lama dibandingkan menetap di pesantren lainnya.

2.2  Guru-guru Beliau
Guru-guru beliau ketika menuntut ilmu adalah:

1. Mama KH. Ahmad Satibi (Gentur)
2. Mama KH. Ahmad Syuja’i (Gudang Tasikmalaya)
3. Syekh. Hasan Musthofa Bin Usman (Garut)
4. Syekh Abdul Muhi (Pamijahan)
5. Syekh zaenuddin Almalibari
6. Syekh Ibnu Hajar Alhaetami
7. Syekh Zakari Alansyori
8. Syekh Ibnu Hajar Alasqolani
9. Syekh Abdurrohim Aliroqi
10. Alimam Attouddin Ala’toori
11. Alimam Muhiddin Annawawi
12.Syekh Alardabili
13. Alimam Muhammad Bin Yahya
14. Alimam Algojali Hujatul Islam
15. Alimam Haromaen
16. Alimam Abdullah Aljuaeni
17. Alimam Abu Bakar Alqopal
18. Alimam Ibrahim Almaruji
19. Alimam Abu Abbas Bin Syuraj
20. Alimam Abu said Alanbati
21. Alimam Ibrahim Almajani
22. Alimam Syafe’i
23. Alimam Malik Bin Anas
24. ki Nape (Tabi’in)

2.3  Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Pada tahun 1918, Hasan mendirikan sebuah pesantren di daerah Kopo, Cisarua, Bogor. Namun pada tahun 1925, Hasan mendirikan pesantren baru di daerah Cilember, Cisarua, Bogor dan mewakafkan pesantrennya di daerah Kopo kepada Kiai Haji Muhiddin (yang kemudian menjadi Pesantren Nurul Haq, Kopo). Pendirian pesantren baru tersebut dilatarbelakangi oleh permintaan dua orang muridnya, Haji Sidiq dan Haji Mansur karena melihat keadaan masyarakat Cilember yang saat itu masih kurang dalam menjalankan nilai-nilai keislaman.

Pada tahun 1980, Kiai Haji Rahmatullah, anak bungsu Hasan sebagai penerus Pesantren Cilember mengganti nama pesantren menjadi Pesantren Nurul Huda. Bidang keilmuan yang diajarkan di pesantren ini di antaranya adalah akidah, tauhid, fikih, tasawuf, alquran, hadis, nahwu, sharaf, balaghah, dan falak Sejak didirikan, pesantren ini telah mencetak para santri berkualitas yang kemudian menjadi ulama hingga pejabat.

3.1  Anak-anak Beliau
1.KH. Tajuddin
2.M. Abdullah
3.KH. Apipuddin
4.KH. Burhanuddin
5.Hj. Siti Sholihat
6.KH. Karomuddin
7.KH. Alimuddin
8.KH.Rachmatullah

4.1  Karier Beliau
Karier sesuai dengan keilmuan beliau, posisi karier yang diduduki di antaranya:
Pengasuh pesantren Nurul Huda Cilember

Biografi Pendiri Pondok Pesantren Darul Huda

https://www.laduni.id/post/read/75008/biografi-kh-hasan-mustofa-abuya-cilember.html