Biografi KH. Dimyathi Romly

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4          Organisasi, Karier, dan Karya
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau
4.3       Karya Beliau

5          Referensi

   1.1       Lahir

              KH. Dimyathi Romly lahir di Rejoso, Jombang, pada 3 Mei 1944. Beliau putra KH. Romly Tamim dari istri Nyai Hj. Khadijah binti Lukman (1920–1993) dari Suwaru Mojoagung Jombang. Beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang semuanya laki-laki. Ayahnya adalah Mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah yang berpusat di Rejoso, dan kakeknya, Kiai Tamim Irsyad, adalah pendiri pondok Pesantren Darul Ulum bersama menantunya KH. Cholil Juremi di tahun 1885.
                

   1.2       Riwayat Keluarga
   
              KH. Dimyathi Romly melangsungkan akad nikah dengan Nyai Muflichah pada 12 Februari 1972. Nyai Muflichah adalah putri pertama dari dari KH. Marzuqi Zahid dan Nyai Hj. Halimah Zaini dari pondok Pesantren Langitan Widang, Tuban. Resepsi pernikahan dilangsungkan di Langitan pada tanggal 19 Agustus 1972, kemudian yang kedua di Rejoso pada tanggal 26 Agustus 1972 di rumah Nyai Romly, dan esoknya di kediaman KH. Musta’in Romly. Dari perkawinannya dikaruniai 8 anak yaitu: Ahmad Syihabuddin, Imelda Fajriati, Soraya, Muhammad Afifuddin, Muhammad Izzulhaq, Fara Habibah, Muhammad Mustain Dzul Azmi dan Ahmad Muharram.

   1.3       Wafat
          KH. Dimyathi Romly wafat pada 18 Mei 2016 atau 11 Syakban 1437 H. Ribuan jemaah mengantarkan KH. Dimyathi Romly pada peristirahatan terakhirnya. Almarhum dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Asrama Hidayatul Qur’an Darul Ulum.

    2.1       Masa Menuntut Ilmu  

               KH. Dimyathi Romly tumbuh dalam pengasuhan dan bimbingan langsung kedua orangtuanya dan paman-pamannya di Darul Ulum. Memulai belajar di sifir awwal, sifir tsaani, dan sifir tsaalis, semacam pendidikan pra-sekolah yang belajarnya di masjid. Kemudian bersekolah di Madrasah Ibtida’iyah Rejoso selama enam tahun dan Madrasah Tsanawiyah Rejoso selama tiga tahun. Pada saat sekolah Tsanawiyah inilah, beliau kehilangan buyanya, KH. Romly meninggal dunia pada tahun 1958 dalam usia 72 tahun.

             Selanjutnya KH. Dimyathi Romly bersekolah di Madrasah Aliyah Rejoso atau saat itu disebut Perguruan Muallimin Atas, dan lulus pada tahun 1962 di usia 18 tahun. Selain sekolah formal tersebut, KH. Dimyathi Romly muda kerap mondok tabarukan untuk mendapatkan ilmu dan keberkahan dari para kiai dan ulama. Di antaranya di Ploso Mojo Kediri di bawah pengasuhan KH. Djazuli Usman, allahu yarham.

            Pendidikan tingkat atas diselesaikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya, jurusan Syariah hingga mendapat gelar Bachelor of Art (BA), lulus pada tahun 1966. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum dan mendapat gelar Sarjana Hukum (SH). Sambil menyelesaikan kuliahnya, beliau juga mengabdi di pondok Darul Ulum sebagai guru di Pendidikan Guru Agama (PGA) menjadi Kepala Sekolah SMA Darul Ulum dan kemudian sebagai Kepala Sekolah PGAN 6 Tahun Rejoso. Kemudian beliau diangkat menjadi Pegawai Negeri pada tanggal 1 Oktober 1967, dan menjadi dosen di IAIN Surabaya sejak tahun 1979.          

    2.2       Guru-guru Beliau
                Guru-guru beliau sewaktu belajar menuntut ilmu adalah:

                KH. Romly Tamim
                KH. Djazuli Utsman

    2.3       Mengasuh Pesantren    
               Pernikahan KH. Dimyathi Romly dan Nyai Muflichah meskipun menyatukan dua karakter yang berbeda, sesungguhnya juga ada persamaannya, sama-sama sangat peduli dengan pendidikan. Mereka memahami, bahwa di antara cara untuk membangun peradaban mulia adalah melalui pendidikan yang baik. Keduanya adalah pengajar yang menjadi dosen dan guru. Mereka adalah pasangan pendidik, pembina dan pengasuh Asrama Al Husna di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

    3.1       Murid-murid Beliau 
                Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren Darul Ulum

   4.1       Riwayat Organisasi
              Rais Syuriah PBNU (2015-2016)

   4.2       Karier Beliau
             
Ketua Umum MPP Darul Ulum
              Beliau menjadi pengasuh pesantren Darul Ulum
              Menjadi anggota DPRD tingkat I Jawa Timur dari Golkar, pada tahun 1997–1999 dan dilanjut perode berikutnya tahun 1999–2004.      

Dalam perjalanan hidup KH. Dimyathi Romly, ada jalan utama yang menjadi pilihan takdirnya, yaitu jalan tarekat. Inilah perjalanan hidup beliau yang istimewa. Sebuah jalan takdir yang sama sekali tidak disangka dan dibayangkan sebelumnya. Inilah amanah besar yang tiba-tiba turun dari langit menimpanya dengan serta merta.

Semua dimulai ketika KH. Rifa’i Romly, al Mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah saat itu, yang sekaligus kakak tertuanya berpulang pada tanggal 12 Desember 1994. Musyawarah Majelis Pimpinan Pondok Darul Ulum yang diketuai oleh KH. As’ad Umar (1933–2010) menghasilkan keputusan bahwa KH. Dimyathi Romly yang menggantikan KH. Rifa’i Romly sebagai Mursyid Tarekat.

 Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah (TQN) didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas. Beliau tinggal di Mekah, mendapatkan baiat Qadiriyah dari Syekh Samsudin dan baiat Naqsabandiyah dari Syekh Sulaiman Zuhdi. Kemudian kedua Tarekat ini digabungkan menjadi satu. Di Tanah Suci, Syekh Ahmad Khatib memiliki tiga khalifah yaitu Syekh Abdul Karim (Banten), Syekh Tolhah (Cirebon), dan Syekh Ahmad Hasbullah (Madura).

Sepeninggal Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Abdul Karim diangkat menjadi mursyid Tarekat. Setelah kepemimpinan Syekh Abdul Karim, TQN mulai berkembang dan kempemimpinan tidak lagi tunggal. Syekh Abdul Karim digantikan oleh Syekh Asnawi Caringin yang kemudian membaiat Kiai Muslih Abdurahman (Mranggen Demak) sebagai mursyid TQN. Demikian pula, Syekh Tolhah membaiat muridnya Abdullah Mubarok (Abah Sepuh) sebagai mursyid TQN di Suryalaya, Tasikmalaya. Demikian juga Syekh Ahmad Hasbullah membaiat Syeikh Cholil Juremi sebagai muryid TQN yang berpusat di Rejoso, Peterongan, Jombang. Dengan demikian setelah kepemimpinan Syekh Abdul Karim, ada tiga pusat TQN terbesar di Indonesia.

Setelah Kiai Cholil Juremi meninggal dunia, tampuk kepemimpinan TQN di Rejoso diserahkan kepada adik iparnya, KH. Romly Tamim. KH. Romly Tamim adalah guru sufi yang sangat berpengaruh di Indonesia. Beliaulah yang menulis zikir istighatsah yang terkenal bagi kalangan Nahdliyin. Setelah KH. Romly Tamim wafat, kepemimpinan TQN digantikan oleh KH. Musta’in Romly. Setelah wafatnya Kiai Musta’in, beliau digantikan oleh KH. Rifa’i Romly. Singkat cerita, inilah kisah sampai KH. Dimyathi Romly menjadi mursyid TQN sepeninggal KH. Rifa’i Romly.

Mengikuti cerita di atas tentang apa itu tarekat dan asal-usulnya, jelaslah bahwa ini adalah urusan yang besar. Lalu dapatkah dibayangkan? Beliau yang masa mudanya penuh dengan keisengan dan kenakalan, suka bercanda, santai dan terkesan slenge’an, tiba-tiba mendapat amanah yang benar-benar serius. Beliau yang suka dan dekat dengan anak-kecil ini harus menghadapi jemaah tarekat yang kebanyakan sudah sepuh.

Menjadi seorang mursid, artinya menjadi seorang penunjuk jalan (tarekat). Tentunya penunjuk jalan adalah orang-orang yang sangat paham dan telah mengenal jalan dengan baik, yang akan membimbing dan menunjukkan jalan lurus menuju Allah. Mungkin banyak yang menyangsikan, namun ini bagian dari cara Allah memilih hamba-Nya. Akhirnya KH. Dimyathi Romly dibaiat menjadi Mursid Tarekat pada tanggal 30 Desember 1995.

Seiring berjalannya waktu, beliau berusaha menjalankan perannya sebagai mursid ini dengan sebaik-baiknya. Mengikuti jejak Buyanya KH. Romly Tamim dan sebagaimana yang dicontohkan dua kakaknya yang menjadi Mursid sebelumnya, KH. Musta’in Romly dan KH. Rifa’i Romly. KH. Dimyathi Romly memperkuat jaringan TQN Rejoso, dengan membentuk Ikatan Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah (ITQON) yang berpusat di Pesantren Darul Ulum Rejoso.

Inilah tarekat, jalan utama KH. Dimyathi Romly dari perjalanan hidupnya di dunia. Kegiatan rutin tarekat biasa disebut dengan istilah Kemisan, yaitu pengajian pekanan setiap kamis di Darul Ulum. Maka saat itu ratusan tamu dan jemaah tarekat akan berdatangan dari berbagai daerah di sekitar Jombang seperti Nganjuk, Kediri, Madiun, Mojokerto dan lainnya.

Beliau juga banyak menerima undangan pengajian tarekat di daerah yang cukup jauh, seperti Purwokerto, Purworejo, Riau, Jambi, Pekan Baru, Lampung, Palangkaraya, Pangkalan Bun, Tarakan, Bima NTB, dan lain-lain. Selain itu, ada tiga acara tahunan, yaitu Suwelasan pada 11 Muharram dan 11 Rabiul Akhir serta acara Syakbanan yang diadakan setiap nisfu Syakban. Pada ketiga acara ini, ribuan jemaah tarekat dari penjuru nusantara berdatangan untuk mengikuti pengajian akbar. Sebuah agenda tahunan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para jemaah tarekat dan juga para santri Darul Ulum.

https://ulamanusantaracenter.com/k-h-dimyathi-romly-tamim/

https://www.laduni.id/post/read/74717/biografi-kh-dimyathi-romly.html