Biografi KH. Ahmad Maimun Adnan

Daftar Isi Biografi KH. Ahmad Maimun Adnan

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama
  7. Chart Silsilah Sanad

Kelahiran

KH. Ahmad Maimun Adnan lahir pada tanggal 22 Juli 1933 di Desa Tanggungan Baureno, Bojonegoro. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara, dari pasangan KH. Adnan dan Nyai Robi’ah. Saudara-saudara beliau di antaranya adalah Abdul Hamid, Umamah, Ahmad Maimun Adnan, Abdul Majid, Sholihah, Zaenah, M. Chozin dan Choiroh.

Wafat

Ketika usia KH. Ahmad Maimun Adnan semakin sepuh, tapi masih tetap bersemangat dalam beraktivitas, baik berdakwah di luar ataupun mengajar di Pondok Pesantren Al-Ishlah.

Tepat pada hari Minggu tanggal 1 Februari 2015, KH. Ahmad Maimun Adnan harus diinfus sebab gula darah beliau turun drastis akibat tidak mau makan dan tidak mau minum. Padahal sebelumnya, KH. Maimun Adnan masih mengajar ‘ngaji kitab’ di beberapa tempat, salah satunya pengajian Kitab Al-Hikam yang diminta oleh para santri dan alumni.

Ketika itu KH. Ahmad Maimun Adnan bercerita bahwa beliau mendapatkan ijazah dari KH. Abdul Hadi dan Syaikh Masduki Lasem dalam mengajar Kitab Al-Hikam saat usianya sudah menginjak 40 tahun. Beliau juga berpesan kepada para santri dan para alumni untuk ikut menjalankan ijazah dari dua guru beliau, yaitu jika ingin mengajar Kitab Al-Hikam, usia mereka harus sudah mencapai 40 tahun. Dan pengajian saat itu adalah pengajian kitab kuning yang terakhir KH. Ahmad Maimun Adnan sampaikan kepada para santri dan alumni.

Pada hari Senin 16 Februari 2015 pukul 17.00 kondisi beliau semakin kritis, suhu tubuhnya sudah semakin dingin dan pukul 22.25 beliau menghembuskan nafas terakhir diusia 82 tahun.

Sebelum KH. Ahmad Maimun Adnan meninggal, beliau berpesan kepada kedua putri yang tertua, yaitu Ibu Hj. Hakimatuz Zahidiyah dan Ibu Hj. Hatimah Maknunah, “Sesungguhnya semua peninggalan dunia tidak akan pernah dibawa mati, hanya sifat arif, lapang dada dan sifat kekeluargaan yang akan diperhitungkan. Ndue dulur akeh, dunyo ojok digae rebutan. Lak isok podo ngelengno mas, mbak lan adek ayo podo ngelengno, Ben sesok nak akherat isok kumpul maneh.”

Keluarga

Ayah beliau merupakan seorang guru ngaji sekaligus pedagang tembakau yang sukses di desanya. Meskipun ayahnya sosok yang berpengaruh di Desa Tanggungan, tidak menjadikan Kiyai Maimun kecil dikenal sebagai pribadi yang sombong. Sebaliknya beliau dikenal sebagai pribadi yang lembut, mudah bergaul dan suka mengajak ngaji teman-teman sepermainannya.

Pada suatu kesempatan saat masih kecil, Kiyai Maimun tengah bermain kelereng di depan rumahnya dan mendengar suara adzan dari saung yang dibangun oleh Kiyai Adnan. Beliau langsung berdiri dan membereskan kelereng yang tergeletak, kemudian berkata pada temannya, “Ayo wes saiki awakmu melok aku sembayang sek, ben engkok aku diolehi dolen maneh ambek bapakku.” Lalu, dua puluh teman Kiyai Maimun kecil hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya dari belakang.

Di lain waktu, Kiyai Maimun juga mengajak teman dekatnya yang bernama Darda’ untuk ikut mengaji dengannya. Ketika itu di Desa Tanggungan terdapat pagelaran pencak silat yang diisi dengan acara-acara pemujaan, Kiyai Maimun kecil dilarang untuk keluar oleh orang tuanya. Teman-temannya pun mencari keberadaannya.

Saat itu, Abu Darda’, teman Kiyai Maimun kecil mengetuk pintu rumahnya untuk mengajaknya keluar dan menonton. Namun Kiyai Maimun kecil menolak dan berkata, “Melok aku ngaji ae nak Deso kidul kono, engkok mulene ayo dolen maneh. Di desa ini memang masih memegang tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka, sehingga saat itu Kiyai Adnan yang salah satu dari alumni dari pondok pesantren ingin merubah kebiasaan dari masyarakat sekitar.

Beliau mendirikan sebuah saung atau langgar yang mana tempat ini diisi ngaji Al-Qur’an selepas habis Subuh dan Ashar. Di saung atau langgar ini Kiyai Adnan mempunyai sepuluh santri yang semuanya dari luar Desa Tanggungan. Dan di tempat ini juga pendidikan agama pertama Kiyai Maimun kecil dilakukan.

Selain sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul, di keluarga Kiyai Maimun juga dikenal sebagai pribadi yang penurut, tidak banyak berbicara. Di antara saudara-saudaranya, Kiyai Maimun kecil adalah anak yang paling sering dibawa oleh Kiyai Adnan ketika mengisi pengajian di luar Desa Tanggungan.

Saat menginjak usia 13 tahun, Kiyai Maimun remaja harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi teman dan sekaligus gurunya meninggal dunia. Usia di mana ketika itu beliau menjadi satu-satunya kakak laki-laki tertua yang harus menggantikan posisi ayahnya. Di saat masih merasakan kesedihan, Kiyai Maimun remaja harus sudah siap menggantikan posisi ayahnya sebagai penanggung jawab atas adik-adik serta ibunya. Dikarenakan kakak perempuan tertuanya telah menikah dan kakak laki-lakinya telah meninggal dunia.

Di usia ini juga beliau harus mampu membagi konsentrasi untuk nasib dirinya sendiri dan untuk nasib keluarganya. Sehingga Kiyai Maimun memutuskan untuk menunda keberangkatannya ke pondok pesantren, beliau ingin membantu ibunya terlebih dahulu, mulai dari pengasuhan adik-adiknya, hingga harus menggantikan ayahnya untuk turut serta menjual tembakau bersama Ahmad, adik dari Kiyai Adnan atau paman dari Kiyai Maimun.

Sementara saat itu perekonomian pasti keluarga Kiyai Maimun hanya bergantung pada hasil pertanian, peternakan, serta tanaman bambu peninggalan Kiyai Adnan yang dikelola oleh ibu Nyai Robi’ah.

Pada tahun 1962 Nyai Robi’ah kedatangan saudaranya dari Desa Bungah Gresik yaitu KH. Chudlori beserta istrinya, Nyai Aisyah. Sebagaimana informasi, bahwa KH. Chudlori adalah suami dari Nyai Aisyah yang merupakan ponakan dari Nyai Robi’ah. Mereka datang ke Desa Tanggungan dengan tujuan meminta KH. Ahmad Maimun Adnan untuk bisa diambil menantu dan akan dinikahkan dengan Siti Hawwa.

Nyai Robiah menjelaskan bahwa Siti Hawwa adalah sosok yang hafal Al-Qur’an, sehingga beliau memutuskan untuk menerima lamaran dari KH. Chudlori yang merupakan sepupu ipar dari KH. Ahmad Maimun Adnan. Dan tepat pada tanggal 15 Agustus 1962 atau 14 Maulud 1894 KH. Maimun Adnan dan Nyai Siti Hawwa menikah di Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah, Gresik. Dari pernikahan tersebut KH. Ahmad Maimun Adnan dikaruniai 13 orang anak.

Pendidikan

KH. Ahmad Maimun Adnan merupakan sosok seorang Kiyai yang mempunyai kharisma tinggi di hadapan santri maupun di mata masyarakat. Memang wibawa dari seorang Kiyai di mata para santri dan masyarakat sering dikaitkan dengan sisi keilmuannya. Demikian pula KH. Ahmad Maimun Adnan, sebelum beliau merintis pondok pesantren Al-Ishlah, terlebih dahulu belajar ilmu agama di berbagai pondok pesantren. Sejak usia delapan tahun, Kiyai Maimun kecil sudah diperkenalkan ilmu agama dengan mempelajari ilmu alat terlebih dahulu, yakni ilmu shorof.

Ilmu shorof adalah pasangan dari ilmu nahwu yang menekankan kepada pembahasan bentuk kata dalam Bahasa Arab. Pembelajaran ini dilakukan secara langsung oleh ayah Kiyai Maimun langsung, yakni Kiyai Adnan. Karena menurut ayahnya, ilmu shorof merupakan dasar dari ilmu-ilmu agama, sehingga kalau Kiyai Maimun dapat memahami ilmu shorof sama saja seperti berikhtiar memahami ilmu agama yang lain.

Menginjak usia sembilan tahun, Kiyai Adnan mulai membatasi pergaulan Kiyai Maimun kecil, dikarenakan kondisi desa Tanggungan saat itu masih belum semarak islamnya. Saat itu, di desanya tersebut tidak sedikit yang percaya akan ilmu-ilmu perdukunan, minum-minuman keras serta terjadi pelecehan di mana-mana. Keadaan ini membuat KH. Adnan merasa khawatir kalau Kiyai Maimun kecil terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

Sistem pengasuhan dengan nilai-nilai keagamaan sangat ditekankan oleh KH. Adnan kepada keluarganya, tak terkecuali kepada Kiyai Maimun kecil. Untuk menarik rasa simpati anaknya itu, KH. Adnan mempunyai cara tersendiri dalam pembelajaran. Dimulai dengan seringnya Kiyai Maimun kecil diajak berkeliling ketika ada undangan untuk mengisi pengajian sambil menyelipkan beberapa kata yang harus dihafalkan, atau dengan cara mengajaknya menjual tembakau ke kota dengan catatan harus semangat dalam belajar ilmu shorof.

Namun, di usia tiga belas tahun, Kiyai Maimun kecil harus kehilangan sosok ayah sekaligus teman yang telah menemaninya selama ini. KH. Adnan berpulang ke rahmatullah. Saat itu Kiyai Maimun remaja harus dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu yang pertama harus membantu ibu untuk mengasuh adik-adik serta menggantikan sosok ayah bagi keluarganya dan yang kedua harus memenuhi amanah KH. Adnan yang disampaikan kepada Nyai Robia’ah bahwa Kiyai Maimun harus pergi menuntut ilmu ke pondok pesantren. Pesan ayahnya; “Nak, bapak sampean tidak mewariskan harta, hanya buku-buku inilah yang ditinggalkan bapakmu. Lalu, jika kamu tidak bisa membaca, lalu siapa yang akan membacanya?”

Setelah memikirkan hal tersebut keputusan Kiyai Maimun remaja adalah membantu ibunya terlebih dahulu untuk mengasuh adik-adiknya dan turut mengurus hasil pertanian, peternakan peninggalan KH. Adnan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.

Kemudian, di tahun 1948 saat menginjak usia 15 tahun, akhirnya Kiyai Maimun remaja dengan berat hati harus meninggalkan ibu serta adik-adiknya untuk pergi belajar ilmu agama. Pesantren pertama yang dipilih adalah Pondok Pesantren Langitan, Widang ,Tuban yang pada saat itu tengah di pimpin oleh KH. Abdul Hadi Zahid. Menurut informasi, KH. Abdul Hadi sendiri adalah teman seperjuangan dari KH. Adnan ayah dari Kiyai Maimun selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Maskumambang Dukun, Gresik.

Selama menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Langitan, Kiyai Maimun menjalaninya dengan pulang-pergi yang mana pada saat itu perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki dari rumah dan menyebrangi Bengawan Solo untuk sampai di pondok pesantren.

Ketika itu jarak yang ditempuh antara Desa Tanggungan dengan Pondok Pesantren Langitan adalah 65,2 Km. Kegiatan ini berlangsung hinggga Kiyai Maimun menyelesaikan pendidikan MI selama 4 tahun. Setelah kelulusannya, Kiyai Maimun memutuskan untuk menginap di Pondok Pesantren Langitan guna menyelesaikan pembelajaran kitab kuning yang tertinggal selama beliau melakukan perjalanan pulang-pergi. Dan setelah kelulusannya tersebut beliau hanya pulang di hari Kamis dan menginap di hari Sabtu.

Kegiatan ini dinilai unik oleh salah satu guru Kiyai Maimun di pondok pesantren, sehingga Maimun diberikan julukan Mislituko. Mislituko adalah julukan khusus yang diberikan KH. Anwar Jasri kepada Kiyai Maimun yang saat itu sebagai santri yang sering tidur namun berprestasi. Menurut KH. Anwar Jasri, Kiyai Maimun adalah sosok yang bekerja keras bukan hanya untuk dirinya saja melainkan juga untuk keluarganya.

Seperti yang pernah KH. Anwar Jasri sampaikan kepada Kiyai Maimun, “Masio wujud badane nak pondok, tapi ati lan pikirane tetep keri nak omah. Atine alus, dadi mesti ancen dikarekno gak digowo. Ibukmu pasti sehat lak awakmu yo sehat, ibukmu pasti seneng lak awakmu seneng, lan ibukmu pasti terus ndungakno masio awakmu lali ndungakno.”

Memang benar apa yang telah disampaikan oleh KH. Anwar Jasri bahwa Kiyai Maimun adalah sosok yang mencintai keluarganya. Terbukti ketika masih menjadi santri, Kiyai Maimun sangat bekerja keras untuk tetap membantu ibunya dengan cara membawa telur dari rumah yang akan dijual terlebih dahulu di pasar, yang nantinya hasil penjualan telur itulah yang menjadi uang saku untuknya ketika berada di pondok pesantren.

Selain itu Kiyai Maimun juga sering membawa bekal jeruk nipis dan bunga melati untuk biaya membayar tambangan menyebrang Bengawan Solo demi menghemat biaya pengeluaran ibunya. KH. Anwar Jasri sangat bersimpati kepada Kiyai Maimun karena kecerdasan dan ketanggapannya dalam memahami suatu pelajaran. Selain itu belliau juga sangat memegang teguh nilai-nilai ketawadhu’an nya sebagai santri, sehingga KH. Anwar Jasri menyuruh Kiyai Maimun menggantikannya untuk mengajar Kitab Imrithi yang saat itu telah sampai di Bab Na’at.

Menurut KH. Anwar Jasri, Kiyai Maimun telah berhasil memberikan pemahaman kepada santri-santri yang diajarnya. Karena keberhasilannya itu, KH. Anwar Jasri kembali memberikan Kiyai Maimun tugas mengaji beberapa kitab sebagai guru di Jeramba komplek Pondok selatan. Adapun kitab yang diajarkan Kiyai Maimun di antaranya adalah Kitab Imrithi, Kitab Alfiyah, Kitab Uqudul Juman, dan kitab-kitab lainnya yang berkenaan dengan ushul fiqih.

Di tahun berikutnya, tepatnya tahun 1956 setelah menyelesaikan belajar dan mengajar selama delapan tahun di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban, Kiyai Maimun merasa bahwa pengetahuannya belum cukup. Akhirnya beliau memutuskan untuk kembali belajar. Lokasi yang dipilih cukup jauh, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem Jawa Tengah yang saat itu tengah dipimpin oleh KH. Ma’sum.

Tujuan dari memilih Pondok Pesantren Al-Hidayah adalah untuk memperdalam pengetahuannya mengenai ilmu alat dan juga ilmu tasawwuf. Dalam perjalanan ini Kiyai Maimun tidak sendiri, melainkan bersama dengan Mohammad Kholil Kuro yang merupakan sahabatnya yang telah bersama dari awal masuk dan belajar di Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur.

Di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem, Kiyai Ahmad Maimun Adnan berguru kepada tiga ulama besar Lasem sekaligus yaitu Syaikh Masduki, KH. Baidhowi dan KH. Ma’sum. Beliau belajar kitab-kitab kecil berupa Bidayatul Hidayah dan Sulam Taufiq kepada KH. Ma’sum setelah shalat Ashar. Kemudian belajar Kitab Jam’ul Jawami’ kepada KH. Baidhowi setelah shalat Dhuha. Dan yang terakhir beliau belajar kepada Syaikh Masduki beberapa bidang keilmuan, di antaranya adalah Ushul Fiqih, Balaghoh, Mantiq, Tasawwuf dengan Kitab Al-Hikam dan juga belajar Tafsir, yang dilakukan hampir setiap hari.

Dari sinilah, KH. Ahmad Maimun Adnan mengaku bahwa beliau sangat mengidolakan sosok Syaikh Masduki. Setelah lima tahun di Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem dan berhasil mengkhatamkan kitab-kitab yang dipelajarinya, perjalanan Kiyai Maimun dalam menimba ilmu kembali dilakukan. Kali ini pondok pesantren yang dipilih adalah Pondok Pesantren Poncol Beringin Salatiga, Jawa Tengah. Menurutnya pondok pesantren ini terkenal pengajian kilatan Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sehingga beliau tertarik karena dengan waktu singkat pasti dapat mengkhatamkan dua kitab tersebut.

Kiyai Maimun hanya butuh waktu satu tahun untuk mengkhatamkan Kitab Hadis Shahih Bukhori dan Shahih Muslim kepada guru beliau yang bernama KH. Ahmad Asy’ari di tahun 1961.

Setelah perjalanan panjang yang di lalui oleh KH. Ahmad Maimun Adnan, beliau memutuskan kembali ke Desa Tanggungan yang mana di desa kelahirannya tersebut terdapat pondok pesantren yang telah dirintis oleh KH. Adnan. Sebagai penerus pemimpin pondok pesantren, KH. Ahmad Maimun Adnan harus ekstra mencurahkan tenaga serta pikiran demi kemajuan pondok pesantren ayahnya yang bernama Tanwirul Qulub.

Saat KH. Ahmad Maimun Adnan masih belajar di berbagai pondok pesantren, kepemimpinan sebelumnya digantikan oleh KH. Abu Darda’ yang tidak lain adalah paman ipar beliau, suami dari bibi nya yang bernama Choiroh. Tapi setelah beliau pulang, kepemimpinan mulai dipegang kembali oleh beliau. Perubahan pertama yang KH. Ahmad Maimun Adnan lakukan adalah dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyyah dan mendirikan pondok putri di Pondok Pesantren Tanwirul Qulub.

Mendirikan Pesantren

Sepulang dari pondok pesantren Poncol Beringin Salatiga, Jawa Tengah, KH. Ahmad Maimun Adnan, pulang kembali ke kampung halaman untuk berdakwah sekaligus menikah. KH. Ahmad Maimun Adnan adalah figur yang bijaksana dan lembut hatinya. Terbukti, pernah suatu hari ada satu rombongan mobil datang ke ndalem beliau untuk bersilaturrahmi. Ketika itu rombongan tersebut diberikan jamuan seperti biasa, ada teh dan beberapa hidangan lainnya bertepatan dengan hari kamis. Saat itu satu rumah KH. Ahmad Maimun Adnan tengah menjalankan ibadah puasa sunnah hari Kamis, namun karena beliau sangat menghargai dan menghormati tamu tersebut beliau meminta kepada istrinya untuk dipersiapkan satu gelas buthek kosong.

Ibu Nyai Hawwa (Istri KH. Ahmad Maimun Adnan) sempat bingung untuk apa gelas tersebut, namun KH. Ahmad Maimun Adnan berbisik kepada Ibu Nyai Hawwa, “aku sakaken ambek dulurku, wedi sungkan lak ape mangan mergo aku poso. Padahal kabeh ketokane luwe.”

Kemudian, bermula dari keinginan beberapa santri untuk menimba ilmu keagamaan, berguru dan mengaji kitab kuning (At-Turats Al-Islami) kepada KH. Ahmad Maimun Adnan secara sorogan dengan sistem halaqah secara sederhana, kemudian pengajian halaqah ini terus berkembang dari tahun ke tahun, begitu juga dengan jumlah santri yang ikut mengaji. Semakin banyak santri yang menetap atau mondok dan mengaji di tempat KH. Ahmad Maimun Adnan, semakin tidak memadai tempat tinggal atau asrama pondokan untuk para santri.

Dengan semangat menuntut ilmu keagamaan dalam rangka Tafaqquh fid Din dan semangat berkorban dan berjuang Li i’lai Kalimatillah, maka atas inisiatif sendiri para santri mendirikan gubuk-gubuk sederhana atau pondokan sederhana di sekitar rumah KH. Ahmad Maimun Adnan supaya dapat menetap dan menimba ilmu keagamaan dari sang Kiyai.

Melihat perkembangan pengajian halaqah yang sedemikan rupa, para santri berinisiatif untuk mengadakan musyawarah di antara mereka. Tapi pada intinya mereka sangat membutuhkan satu wadah atau pondok pesantren yang dapat digunakan sebagai tempat pendidikan dan pengajaran yang berkualitas dalam rangka Tafaqquh fid Din dan sebagai tempat berjuang Li i’la i Kalimatillah atau meninggikan kalimat Allah.

Akhirnya, dengan niat yang tulus dan ikhlas karena mencari ridho Allah, para santri itu kemudian sowan dan matur kepada KH. Ahmad Maimun Adnan. Setelah mendengar penjelasan para santri bahwa mendirikan pondok pesantren sudah merupakan suatu kebutuhan guna mencapai yang lebih baik, maka pada akhirnya KH. Ahmad Maimun Adnan menyetujui sebagaimana keinginan para santri tersebut.

Sebagai catatan, bahwa pada waktu itu, KH. Ahmad Maimun Adnan adalah ketua Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah, Gresik. Pada tahun 1962, beliau bersama teman-teman beliau mendirikan Madrasah Tsanawiyyah Assa’adah ,Bungah, kemudian menyusul mendirikan Madarasah Aliyah Assa’adah, Bungah.

KH. Ahmad Maimun Adnan juga yang mempunyai inisiatif dan gagasan serta menjadi pioner yang mempelopori pendirian Perguruan Tinggi (STAI) Qomaruddin Bungah. Sebagai orang yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Mbah Kyai Qomaruddin, beliau selalu mengajarkan untuk memberikan sesuatu yang baik kepada masyarakat, memberikan kontribusi yang manfaat kepada masyarakat dan sebisa mungkin berjasa sebaik-baiknya, tetapi jangan sampai minta jasa dan mengharapkan penghargaan. Sebab setiap yang berjasa pasti akan mendapatkan jasa dan penghargaan dengan sendirinya.

Demikian itu sebagian dari kontribusi dan jasa yang pernah diberikan oleh KH. Ahmad Maimun Adnan di dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Sebagai ketua Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin, Bungah dan karena memang di Bungah sudah berdiri Pondok Pesantren Qomaruddin, beliaupun bersilaturrahim dan sowan kepada KH. M. Sholih (Mbah Sholih) yang pada waktu itu sebagai pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin, Bungah untuk mengutarakan niat dan keinginan para santri yang mengaji di tempat beliau dalam mendirikan Pondok Pesantren. KH. M. Sholih (mbah Sholih) setelah mendengar penjelasan dari KH. Ahmad maimun Adnan, akhirnya menyetujui pendirian pondok pesantren oleh KH. Ahmad Maimun Adnan guna saling melengkapi dan dapat melakukan sinergi di dunia pendidikan dan pengajaran di desa Bungah.

Akhirnya pada tahun 1982, secara resmi Pondok Pesantren Al-Ishlah berdiri di desa Bungah, kecamatan Bungah, kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pondok Pesantren Al-Ishlah adalah merupakan kerabat dan keluarga dari Pondok Pesantren Qomaruddin, Bungah, meski masing-masing mempunyai karakter dan kepribadian yang berbeda. 

Selain kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas, KH. Ahmad Maimun Adnan juga aktif mengisi beberapa pengajian rutin yang diadakan di tiga tempat, yaitu:

1. Majelis Ta’lim di Dusun Dimoro Desa Babakbowo. Secara umum pada waktu itu, di tahun 1965 kehidupan beragama di Kabupaten Gresik sangat terpengaruh oleh situasi politik pasca peristiwa G-30 S/PKI 1965. Secara psikologis, akibat dari peristiwa itu keadaan sosial budaya masyarakat di daerah-daerah juga tertekan. Di daerah ini pun mulai menggalakkan kegiatan-kegiatan keagamaaan dengan cara mengadakan pengajian yang diisi oleh KH. Ahmad Maimun Adnan.

Dimulai dari pukul 16.00 sampai habis shalat Maghrib, kitab yang diajarkan adalah terjemahan dari Kitab Sulam Safinah. Kitab Sulam Safinah karya Syaikh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al-Hadhrami dipilih oleh KH. Ahmad Maimun Adnan guna memperkenalkan dasar-dasar agama Islam. Diawali dengan pembahasan seputar tauhid, mencakup pembahasan sifat-sifat Allah SWT dan diakhiri dengan pembahasan tentang hal-hal yang tidak membatalkan puasa ketika masuk ke dalam anggota tubuh.

2. Pengajian Bulanan Kitab Kuning (Untuk Umum) di Pondok Pesantren Al-Ishlah bagian selatan. Pengajian kitab kuning ini dilaksanakan setiap satu bulan sekali di hari Kamis legi. Pengajian ini diikuti oleh masyarakat sekitar pondok pesantren Al-Ishlah dan sejumlah santri kalong yang berasal dari Desa Tanggungan Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro, Desa Kebomelati Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban, dan dari Kota Malang.

Adapun materi yang disampaikan diambil dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang menerangkan tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan penyakit hati, pengobatannya dan cara mendidik hati.

Dalam Pengajian para santri kalong ataupun masyarakat sekitar tidak dipungut biaya padahal pengajian ini dilakukan atas usulan masyarakat sekitar yang ingin menambah pengetahuan dalam hal kajian agama Islam. Sebelum kegiatan pengajian dimulai, KH. Ahmad Maimun Adnan meminta kepada seluruh santri yang mengikuti pengajian ini untuk mengawali kegiatan dimulai dengan Istighosah yang dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Maimun Adnan dengan tujuan agar pengajian ini diberikan kelancaran dan kemanfaatan.

3. Program pengajian juga dilaksanakan khusus di Bulan Ramadhan setelah sholat Ashar dan pengajian malam kamisan di Masjid Jami’ Kiyai Gede, Bungah. Di adakanya pengajian di masjid ini tidak terlepas dari jabatan beliau saat itu sebagai Ketua Umum Ta’mir Masjid jami’ Kiai Gede Bungah, sejak tahun 1977 sampai 2009. Selain pengajian beliau juga berhasil dalam program perenovasian masjid di tahun 1995-1996.

Peranan di Nahdlatul Ulama

Selain berkecimpung di Pondok Pesantren Al-Ishlah, KH. Ahmad Maimun Adnan juga berkarir di organisasi NU (Nahdlatul Ulama), bahkan beliau sempat menjabat sebagai Ketua PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) anak cabang Bungah tahun 1964. Setelah kesuksesannya menjadi ketua PERGUNU, KH. Ahmad Maimun Adnan kembali dipercaya sebagai Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif, anak cabang Bungah, Gresik pada tahun 1966.

Pada tahun 1968 KH. Ahmad Maimun Adnan kembali ditunjuk untuk menjadi ketua Syuriah di Majelis Wakil Cabang Bungah, Gresik, namun beliau menolak karena banyak anggota lain yang lebih mampu untuk memimpin, sehingga beliau memutuskan untuk memilih menjadi Sekertaris Syuriah di Majelis Wakil Cabang Bungah, Gresik.

Pada tahun 2000 KH. Ahmad Maimun Adnan diminta untuk menggantikan posisi Ketua di Majelis Wakil Cabang Bungah, Gresik, yang saat itu diisi oleh KH. Muhammad Zubair Abdul Karim. Karena KH. Muhammad Zubair Abdul Karim meninggal, maka seluruh anggota sepakat bahwa mengangkat KH. Ahmad Maimun Adnan sebagai ketua adalah keputusan yang tepat, karena beliau sudah banyak pengalaman dan tentunya mampu memberikan pelajaran bagi para generasi penerusnya.

Chart Silsilah Sanad

Berikut ini chart silsilah sanad guru KH. Ahmad Maimun Adnan dapat dilihat di sini.


Artikel ini sebelumnya diedit tanggal 02 September 2022, dan kembali diedit dengan penyelarasan bahasa tanggal 22 Juli 2023.

https://www.laduni.id/post/read/67910/biografi-kh-ahmad-maimun-adnan.html