Spirit Sumpah Pemuda sebagai Momentum Cerdas Berliterasi

0 0

Read Time:5 Minute, 54 Second

Oleh Ahmad Rusdiana

RumahBaca.id – Tanggal 28 Oktober 1928 itu memiliki tonggak bersejarah. Peristiwa 94 tahun yang lalu, mengingatkan semangat Sumpah Pemuda yang senantiasa harus ditanamkan ke dalam sanubari. Agar peringatan hari Sumpah Pemuda tidak hanya sekedar rutinitas tahunan maka membutuhkan pemaknaan yang lebih. Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 94 tahun 2022, mengusung tema Dengan semangat hari sumpah pemuda ke 94 ini. “Bersatu Bangun Bangsa,”  tema ini berkaitan dengan “Bangkit Bersama” merupakan tema bulan bahasa dan sastra tahun 2022, yang diperingat bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2022.

Pertanyaannya adalah mengapa bulan bahasa dan sastra di peringati bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda? Karena masih berkaitan dengan Sumpah Pemuda, dimana salah satu ikrar para pemuda pada kongres kedua tanggal 28 oktober 1928, butir ketiga adalah mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Maka, sejak tanggal 28 oktober tahun 1980, bulan bahasa dan Sastra, secara rutin diselenggarakan Kemendikbud sebagai salah satu bentuk memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda, yang menyepakati bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (Berchmans 2022).

Demikian, pentinya peran dan fungsi bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu bangsa di Indonesia. Dengan adanya bahasa, manusia sebagai makhluk sosial dapat berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan sesama, walau setiap wilayah memiliki bahasa daerahnya masing-masing, dapat saling berkomunikasi melalui bahasa resmi, yakni bahasa Indonesia. Sebagai upaya untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa Indonesia, yakni dengan adanya peringatan bulan bahasa setiap tahunnya yang khususnya diadakan oleh Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa. Hal ini bertujuan untuk memelihara semangat dan meningkatkan peran serta masyarakat luas, dalam memelihara bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Namun ironisnya berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Desember 2019, bahwa skor membaca (peringkat 72 dari 77 negara), skor matematika (72 dari 78 negara), dan skor sains (peringkat 70 dari 78 negara). Dari indikator PISA tersebut menunjukkan bahwa siswa Indonesia masih sangat memprihatinkan. Selanjutnya dari data Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Balitbang Kemendikbud (2019) bahwa indeksnya masih termasuk dalam kategori rendah. Untuk provinsi yang paling tinggi indeksnya adalah DKI Jakarta (58,16%) dan Papua (19,90%). Semakin tinggi indeks, maka semakin baik tingkat literasinya. Indeks dalam konteks ini diukur dari 4 (empat) indikator, yaitu: kecakapan membaca, budaya membaca, akses internet, dan akses perpustakaan.

Ketidakmauan membaca masyarakat (a-literasi) menjadi persoalan serius yang dihadapi bangsa. Waktu kita sama 24 jam sehari semalam, kemudian banyak tersedia sumber informasi cetak maupun elektronik. Namun, jika mencermati frekuensinya, sudahkan signifikan antara kegiatan yang kita lakukan selama ini dengan porsi mengasah literasi dengan melahap bahan bacaan. Dalam sehari, berapa kali tanpa disadari yang ternyata kita disibukkan hanya dengan melihat notifikasi, membaca posting, melihat status, maupun sekedar membuka WAG yang ada. Padahal jika mendisiplinkan diri dengan menerapkan waktu 30 menit setiap hari untuk membaca, sungguh banyak sekali manfaatnya.

Untuk hal itu, Peter Drucker seorang ahli Manajemen SDM; pernah mengingatkan, “The best way to predict the future is to create it”. maksudnya “Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya”. Inilah momentum generasi muda ikut berkontribusi merumuskan kebijakan yang akan beriringan dengan perjalanan hidup mereka di masa depan. Maka, tepat jika generasi muda yang merupakan pemilik masa depan Indonesia, mendapatkan ruang dan kesempatan untuk ikut menyumbangkan gagasan pembangunan yang relevan dengan perspektif masa depan melalui literasi. Dengan begitu, generasi muda akan lebih siap menerima tongkat estafet pembangunan bangsa, serta mampu memupuk rasa memiliki atas agenda pembangunan nasional.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan budaya literasi ditengah pemuda agar kegiatan literasi di Indonesia dapat membaik dan menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan tingkat lierasi yang tinggi  bisakah indonesia menerapakan literasi khusnya para pemuda? Tentunya biasa asalkan kita niatkan kepada diri kita untuk memulai lierasi dialam kehidupan sehari-hari contohnya:

Pertama; Membiasakan anak-anak dini untuk membaca dan menulis supaya menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca.dalam hal ini peran orang tua dan guru untuk membantu anak-anak mencintai membaca dan menulis;

Kedua; Kebijakan pendidikan untuk menamatkan 1 buku dalam satu bulan yang kemudian dalam setahun sekali diadakan perlombaan merensensi atau menceritakan kembali buku yang telah dibaca;

Ktiga; Membudayakan membaca di sekolah, membudayakan membaca lebih efektiv pada setiap mata pelajaran, disekolah karena sekolah merupakan wadah pemuda untuk membentuk karakter yang cinta literasi contoh menerapkan lierasi disekolah seperti membuat lomba-lomba yang berbau literasi, pemilihan duta buku dan masih banyak kegiatan untuk menunjang pemuda terhadap cinta tanah air;

Keempat; Menghargai karya tulisan, dengan menghargai karya tulisan berarti anda mendukung budaya menulis akademik tumbuh dengan baik dinegara kita lahiirnya ide-ide yang cermelang untuk mengatasi persoalan bangsa lahir dari tulisan ilmiah .Menghargai tulisan merupakan salah satu langkah untuk mewujudkan budaya literasi diindonesia;

Kelima; Biasakan menulis dibuku harian, logbook; portofolio setiap mata pelajaran, dikarenakan literasi tidak hanya membaca tetapi juga menulis pembiasaan dapat kita lakukan dengan menulis diera teknologi ini biasa menulis diblog. Menulis mestinya di dahului dengan membaca karena keduanya adalah suatu keterampila yang berkesinambungan orang yang terampil menulis biasanya juga pembaca yang baik.

Keenam; Memberikan reward untuk pengunjung perpustakan yang sering berkunjung, berhasil menjawab kuis atau lain sebagainya;

Ketujuh; Bentuk komunitas membaca, dengan komunitas membaca yang bermanfaat agar anda memiliki referensi-referensi terbaru seputar buku-buku yang disukai.

Kedelapan; Mengikuti/menyediakan event-event  literasi diperputaskaan seperti mengadakan lomba untuk segala jenjang dan mengoptimalkan peran perpustakan seperti menambah buku-buku yang baru serta atau bisa juga menambah jumlah kunjungan perpustakaan.

Pentingnya kesadaran literasi baca-tulis dan literasi faktual bagi pemuda bukan tanpa alasan, melainkan didasarkan pada rentang usia perkembangan kognitif yang sudah memasuki tahap formal operasional, ditandai dengan proses berpikirnya semakin logis dan tidak lagi tergantung pada hal-hal yang langsung dan nyata saja. Artinya, ia dapat membayangkan dan menganalisis sesuatu secara abstrak tanpa pertolongan benda atau kejadian konkret (Jean Piaget:2011). Seberapa pentingnya literasi karena mampu melatih otak untuk selalu berkembang dan terstimulasi untuk memecahkan persoalan hidup yang semakin kompleks. Bahan bacaan yang disediakan oleh guru/dosen perpustakaan adalah sebagai sumber pengetahuan yang utuh dan menyeluruh. Agar kemampuan literasi tetap terjaga maka diperlukan aktivitas membaca bahan bacaan untuk meng-update dan meng-upgrade pengetahuan yang dimiliki. Aktivitas membaca mampu mengembangkan kemampuan analitik, kreativitas, kritis, cakap memecahkan masalah, serta pemahaman terhadap suatu hal. Oleh karena itu, agar cerdas berliterasi, maka harus memiliki kemampuan bernalar dari sisi bahasa, kemampuan berhitung (numerasi), dan juga penguatan pendidikan karakter.

Wallahu A’lam Bishowab

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. https://play. google. com/store/books/author?id=Prof.+DR.+H.+A.+Rusdiana,+M.M***red

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Happy

Happy

0 0 %

Sad

Sad

0 0 %

Excited

Excited

0 0 %

Sleepy

Sleepy

0 0 %

Angry

Angry

0 0 %

Surprise

Surprise

0 0 %