Menghidupkan Gus Dur dan Cerita dari Depok

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama telah menentapkan orang-orang terbaik yang akan khidmat 2022-2027. Diantara visi yang dicanangkan adalah Menghidupkan Gus Dur. Tentu maknanya adalah menghidupkan pemikiran dan laku-lampah dari Gus Dur.
Ada banyak kisah-kisah inspiratif dari para pendahulu yang telah khidmat di NU, termasuk dari Gus Dur.

Selain memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata, juga dapat dipastikan tidak ada yang meragukan kiprah Gus Dur dalam membela kelompok masyarakat yang lemah. Baik lemah secara politik, sosial, dan ekonomi. Pembelaan Gus Dur pada mereka tdak pandang agama, sosial dan suku bangsa. Siapapun yang lemah, akan dibela oleh Gus Dur.

Juga, tak kalah “seru”nya adalah cara Gus Dur membangun jaringan dan mengembangkan NU sampai ke pelosok-pelosok, untuk perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Seringkali, Gus Dur mengunjungi suatu kampung untuk bertemu kyai atau ustad sekitar. Gus Dur tidak hanya datang melainkan memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Bantuan tidak langsung berupa memberikan jalan supaya pondok maupun lembaga pendidikan yang dikelola bisa lebih berdaya.

Tidak jarang, Gus Dur menggabungkan keduanya. Yakni, membela kelompok yang lemah sekaligus juga memberdayakan masyarakat sekitar, melalui penguatan kapasitas kyai dan tentu saja NU secara organisasi. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Filosofi ini mungkin yang diterapkan oleh Gus Dur.

Baca juga:  Ulama Banjar (170): H. Noor Asyikin

Dalam tulisan ini, saya menyajikan “dayung” Gus Dur di Depok. Walaupun tentu banyak kisah-kisah lainnya, tapi yang menarik adalah dua kisah di bawah ini.

Di sekitar tahun 1990an, salah satu asisten Gus Dur bernama Abdul Shomad (Allahummarham). Ia tinggal di Kemiri Muka, Beji, Depok. Suatu hari, Abdul Shomad mengajak tetangganya, seorang ustad kampung bernama Ahmad Syujai Azzain (Alluhummarhan) untuk bertemu Gus Dur.

Setelah diperkenalkan dan sudah kenal, Gus Dur memerintahkan Ahmad Syujai untuk membuat yayasan yang bergerak dalam bidang sosial, yakni pengajaran dan penampungan anak-anak yatim.

Gus Dur tidak hanya memerintahkan, tetapi juga memberi uang untuk biaya akte notaris yayasan, mengenalkan pada notaris, dan memberikan list donatur.

Daftar nama-nama donatur semuanya sudah dihubungi oleh Gus Dur, sehingga saat Ahmad Syujai mendatangi alamat yang tertera, semuanya mengerti dan langsung memberikan donasi. Bahkan ada yang menjadi donatur rutin bulanan.

Tidak hanya itu, Gus Dur dan Kyai Haji Ma’ruf Amin menjadi penasehat dalam akta notaris yang dibuat. Yayasan yang diberi nama Yayasan Darul Aitam Al-Asyari menjadi sentral gerakan keagamaan dan sosial di Depok saat itu. Sampai sekarang yayasan masih berdiri.

Seringkali, ketika PBNU era Gus Dur memanggil anak yatim binaan Kyai Ahamd Syujai diundang datang ke kantor PBNU, tentu untuk mendoakan NU sekaligus memberikan kegembiraan pada anak-anak yatim, mereka bisa jalan-jalan ke Jakarta.
Gus Dur menyuruh Ahmad Syujai tentu punya pandangan jauh ke depan. Setidaknya, saat itu, belum begitu banyak yayasan yang memperhatikan anak yatim dan kedua menjadi sentral serta motor gerakan NU, yang menyebarkan paham keagamaan wasathiyah tanpa melupakan pemerdayaan kaum lemah.

Baca juga:  Mengenal Mohammad Tabrani Soerjowitjirto, Pencetus Kelahiran Bahasa Indonesia

Terbukti langkah Gus Dur tepat, setidaknya pada era reformasi. Kyai Ahmad Syujai menjadi motor gerakan Mega-Pro saat itu dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada awal-awal didirikan. Kini, generasi kedua dari Kyai Ahmad Syujai mulai kembali berkiprah di NU.

Cerita kedua datang dari kawasan Limo-Meruyung. Saat Gus Dur menjadi ketua tanfidziyah beliau kerap “blusukan” ke daerah-daerah terpencil.

Tahun-tahun tersebut, kawasan Limo-Meruyung tentu masih sangat terpencil. Depok masih menjadi Kotif (Kota Administratif), satu kawasan yang disiapkan menjadi kota madya atau kabupaten.

Secara struktural, Depok saat itu masih ikut di MWC (Majelis Wakil Cabang) Cibinong, Bogor. Ternyata, Gus Dur seringkali datang ke Limo-Meruyung untuk konsolidasi pembentukan ranting.

Tidak lama, pengurus Ranting NU pun terbentuk, melalui aklamasi terpilihlah Kyai Ahyani (Allahummarham) sebaga Rois Syuriah dan Ustad Abdul Azis (Allahummarham) sebagai Tanfidziyah.

Setelah mengetahui sudah terpilih pengurus ranting maka Gus Dur dengan mengendarai motor vespa, datang untuk melantik pengurus ranting. Mungkin, pengurus ranting Meruyung adalah satu-satunya pengurus ranting yang dilantik oleh pengurus PBNU, sampai sekarang.

Sejak saat itu sampai dengan Depok sudah menjadi kota madya dan NU sudah memiliki pengurus di tingkat cabang (PCNU), ketua ranting Meruyung tdak pernah mau menjadi pengurus di struktur yang lebih tinggi, baik menjadi pengurus di MWC maupun PC (Pengurus Cabang). Alasannya sederhana tapi luar biasa. Menjadi pengurus ranting, yang melantik adalah Gus Dur langsung, Ketua Tanfidziyah PBNU saat itu, sedangkan kalau menjadi pengurus MWC atau bahkan PCNU, yang melantik bukan Gus Dur dan bukan juga PBNU.

Baca juga:  Potret Tiga Serangkai dari Tegal (3): Zaldi SA Sang Pionir Master of Ceremony

Bagi Ustad Abdul Azis, tentu ada nilai tersendiri dilantik oleh Gus Dur secara langsung. Ketua Tanfidziyah PBNU yang namanya sudah melejit di kancah nasional dan internasional, berkenan berkordinasi dan melantik pengurus ranting, setingkat kelurahan atau desa.

Sedangkan Kyai Ahyani saat NU Depok sudah makin berkembang dan sudah terbentuk MWC di kecamatan, beliau sudah sangat sepuh sehingga tidak memungkinkan untuk aktif di NU seperti sediakala.
Selamat Harlah NU ke-96 dan Selamat pada para pengurus NU masa khidmat 2022-2027 yang dikukuh tanggal 31-01-2022. Semoga apa yang kita cita-citakan bersama mengenai NU dapat tercapai

https://alif.id/read/mohammad-fathi-royyani/menghidupkan-gus-dur-dan-cerita-dari-depok-2-b243551p/