Cara Mendidik Santri Luar dan Dalam ala KH. Bisri Mustofa

Laduni.ID, Ngawi – Sebagai orang yang sedang menuntut ilmu, santri membutuhkan pendekatan yang berbeda dibanding pelajar pada umumnya. Seorang santri tidak hanya dibentuk dari luar, melainkan dibentuk luar dan dalam, supaya tidak hanya secara fisik namun secara batiniyah dapat bermanfaat bagi umat.

KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab dikenal dengan Gus Mus bercerita bahwa beliau pernah didawuhi oleh sang ayah, KH Bisri Mustofa, agar mendidik luar dan dalam.

“Kalau kamu sudah punya anak, syukur sampai punya santri. Itu kalau mendidik, jangan hanya luarnya saja, didiklah luar dan dalam,” kata Gus Mus menirukan dawuh sang ayah sebagaimana dikutip dalam unggahan Youtube Ngaji Hijrah.

Mendidik luar dalam memiliki tanggung jawab yang besar, Gus Mus mengisahkan bahwa KH Bisri Mustofa seringkali mendapatkan undangan untuk menjadi penceramah di berbagai kota, sehingga tanggung jawab beliau mendidik santri menjadi terhalang.

“Saya di pondok sini, mengajar santri-santri yang dititipkan oleh wali santri kepadaku. Mereka menitipkan anak-anaknya agar dididik oleh saya. Kadang-kadang ada orang dari Pekalongan, Cirebon, Banyuwangi, Kediri datang ke pondok, meminta saya untuk mengisi ceramah di pengajiannya,” kata Gus Mus menirukan sang ayah.

Walau begitu, KH Bisri Mustofa tetap memenuhi undangan dari berbagai daerah untuk mengisi pengajian. Beliau juga tidak lupa berdoa kepada Allah SWT untuk memberikan pahalanya kepada para santri beliau yang sedang belajar di pondok.

“Pasti sebelum naik mimbar saya akan meminta kepada Allah, ‘Ya Allah, saya dipanggil di sini oleh teman-teman adalah untuk mengisi pengajian. Untuk menyampaikan perintah-Mu, untuk menyampaikan ajaran dari utusan-Mu, baginda Nabi Muhammad SAW. Tetapi sementara saya di sini, saya harus meninggalkan santri-santri yang dititipkan dari wali santri kepada saya untuk saya didik. Karena itu, apabila ada pahala saya dari mengisi pengajian ini, tidak perlu buat saya. Kalau bisa diganti saja untuk santri saya saja pahala tersebut. Santri-santri yang saya tinggal,” lanjut Gus Mus.

Memang terdengar sedikit membingungkan, apakah bisa sebuah pahala ditukar-tukar dan diberikan kepada orang lain? Ternyata, KH Bisri Mustofa mendasarkan pernyataan tersebut pada firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60)

Oleh karena itu banyak santri dari KH Bisri Mustofa menjadi kiai besar yang alim, hal itu dikarenakan keberkahan dari KH Bisri Mustofa. Walaupun santri tersebut jarang mengaji, jarang tadarus, dan menghabiskan waktu hanya dengan bersantai-santai, namun karena keberkahan dari KH Bisri Mustofa santri-santrinya menjadi kiai alim dan besar.


Editor: Daniel Simatupang

https://www.laduni.id/post/read/73447/cara-mendidik-santri-luar-dan-dalam-ala-kh-bisri-mustofa.html