Biografi Kyai Ageng Banyu Biru (Kyai Ageng Purwoto Sidik) Guru Spiritual Joko Tingkir

Kyai Ageng Banyu Biru lahir sekitar tahun 1472 an dan terlahir dengan Nama Raden Kebo Kanigoro. Beliau adalah Cucu dari Prabu Brawijaya V dari permaisuri Putri Champa ( Vietnam Tengah) yang mempunyai putri dan diberi nama Ratu Pembayun. Dan ayah beliau adalah Prabu Handayaningrat atau Sayyid Muhammad Kabungsuan atau Kyai Ageng Sepuh, raja dari Pengging Pajang. Beliau juga dikenal dengan nama Kyai Ageng Purwoto Sidik.

Dari pernikahan dengan Raden Ayu Kardinah atau Nyai Gadhung Melati dikarunia putra :

1.3 Nasab Kyai Ageng Banyu Biru 

Jika diambil dari garis keturunan Ibu beliau adalah cucu dari Prabu Brawijaya V Bhre Kertabhumi dengan silsilah sebagai berikut :

  1. Prabu Brawijaya V Bhre Kertabhumi
  2. Ratu Pembayun
  3. Kyai Ageng Banyu Biru atau Kyai Kebo Kanigoro atau Kyai Ageng Purwoto Sidik

Jika diambil dari garis keturunan Ayah beliau masih keturunan dari Rasulullah SAW, dengan silsilah sebagai berikut :

  1. Rasulullah Muhammad saw, berputra:
  2. Sayyidah Fathimah az-Zahra, berputra:
  3. Sayyidina Husain, berputra:
  4. Sayyid Ali Zainal Abidin, berputra:
  5. Sayyid Muhammad al-Baqir, berputra:
  6. Sayyid Ja’far Shadiq, berputra:
  7. Sayyid Ali al-Uraidhi, berputra:
  8. Sayyid Muhammad, berputra:
  9. Sayyid Isa bin Muhammad, berputra:
  10. Sayyid Ahmad al-Muhajir, berputra:
  11. Sayyid Ubaidillah, berputra:
  12. Sayyid Alwi, berputra:
  13. Sayyid Muhammad, berptra:
  14. Sayyid Alwi, berputra:
  15. Sayyid Ali Khali’ Qasam, berputra:
  16. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath, berputra:
  17. Sayyid Alwi Ammil Faqih, berputra:
  18. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, berputra:
  19. Sayyid Ahmad Jalaluddin, berputra:
  20. Sayyid Husain Jamaluddin, berputra:
  21. Sayyid Maulana Ahmad Jumadil Kubra, berputra
  22. Sayyid Muhammad Kabungsuan atau Pangeran Handayaningrat atau Jaka Sengara, berputra:
  23. Kyai Ageng Banyu Biru atau Kyai Kebo Kanigoro atau Kyai Ageng Purwoto Sidik

1.4 Wafat

Kyai Ageng Kyai Ageng Banyu Biru di perkirakan wafat sekitar tahun akhir tahun 1600 an Masehi dan dimakamkan di Kawasan Desa Jatingarang, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo. 

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Kyai Ageng Banyu Biru

2.1 Guru-guru Kyai Ageng Banyu Biru

  1. Prabu Handayaningrat
  2. Prabu Brawijaya V Bhre Kertabhumi
  3. Sunan Ampel
  4. Sunan Bonang
  5. Sunan Kalijaga
  6. Syekh Siti Jenar

3  Penerus Kyai Ageng Banyu Biru

3.1 Anak-anak Kyai Ageng Banyu Biru
 

  1. Endang Widuri atau Roro Sekar Rinonce atau Rara Tenggok atau Rara Sari Once
  2. Kyai Ageng Gribig (Malang)

3.2 Murid-murid Kyai Ageng Banyu Biru

  1. Kyai Mas Wila 
  2. Kyai Mas Wuragil
  3. Kyai Mas Manca
  4. Raden Mas Karebet atau Jaka Tingkir

4. Perjalanan Hidup Kyai Ageng Banyu Biru

Tersebutlah pada zaman Kerajaan Islam Demak-Mataram seorang kyai agung yang gemar laku tapa brata bernama Kyai Ageng Purwoto Sidik (yang lebih dikenal dengan julukan Kyai Ageng Banyu Biru). Kyai Ageng Purwoto Sidik adalah guru spiritual dari Jaka Tingkir (Raden Mas Karebet) pendiri Kerajaan Islam Pajang yang menggantikan dinasti Kerajaan Demak Bintoro. Selain berguru kepada Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyu Biru), maka Jaka Tingkir (Raden Mas Karebet) juga berguru kepada Sunan Kalijaga (Wali Agung Tanah Jawa) dan Syaikh Siti Jenar (yang juga dikenal dengan Syaikh Ali Hasan atau Syaikh Lemah Abang). Dalam kehidupan spiritualnya, Kyai Ageng Purwoto Sidik sering mengembara dan berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah yang lain. Maka tak heran bila dalam pengembaraan tersebut, Kyai Ageng Purwoto Sidik banyak meninggalkan “Petilasan-Petilasan” (untuk bertapa brata atau tempat bermukim yang beliau tinggalkan).

4.1 Kisah Orang Tua Kyai Ageng Banyu Biru

Prabu Brawijaya V Bhre Kertabhumi mempunyai Putri yang bernama Ratu Pembayun dari permaisuri Putri Champa ( Vietnam Tengah) yang kemudian dinikahkan dengan Ratu Pajang Pengging yang bernama Sri Handayaningrat. Beliau adalah raja yang sakti juga seorang Panglima di medan laga, menurut catatan banyak ratu-ratu sabrang yang ditaklukkan, banyak daerah-daerah berlindung pada Prabu Handayaningrat karena kesaktiannya.Prabu Handayaningrat ketika masih muda gemar sekali berperang. 

Raja Bali bernama Prabu Kalagerjita dari Negara Bali Agung tak mengakui kekuasaan Srinarendra Brawijaya Majapahit. Tiga tahun sudah, Raja Bali Agung tak menghaturkan upeti ke Majapahit. Raja Bali Agung prabu Kalagerjita berusaha mencari dan meminta bantuan pada negara lain untuk menyerang Majapahit, konon prajurit sejumlah tiga leksa (1 leksa = 10.000, 3 leksa = 30.000) dikerahkan untuk memukul Negara Balambangan (Blambangan). Prajurit Negara, Bali Agung unggul, para Adipati Brangwetan (kawasan-kawasan di Timur) dibikin tunduk olehnya.Waktu itu orang-orang Bali sedang mujur nasibnya selalu unggul dalam peperangan, sebaliknya prajurit-prajurit Jawa nasibnya sedang sial, mereka kalah dalam peperangan. Ketika  pasukan-pasukan dari Bali menyerang ke arah Barat, prajurit-prajurit Majapahit yang bertempur melawannya banyak yang dikalahkan oleh prajurit-prajurit dari Bali. 

Waktu itu Raja Majapahit Prabu Brawijaya sangat kesal memikirkan tentang kekalahan Wadyabala Majapahit menghadapi orang-orang dari Bali Agung beserta sekutu-sekutunya. Konon Sri Brawijaya mengadakan sayembara, yang berbunyi “Siapa saja yang dapat membantu kesulitan Negara Majapahit, dapat mengalahkan musuh dari Negara Bali Agung dan sekutu-sekutunya maka akan diambil menantu oleh Raja Majapahit Sang Prabu Brawijaya”. Dia akan di jodohkan dengan putri raja yang sulung. Konon sesudah sayembara diumumkan, banyak Raja-raja yang berusaha membantu dalam berperang melawan Raja Bali Agung. Maksudnya tak lain mengharapkan dapat di jodohkan dengan putri Prabu Brawijaya yang sulung tadi. Kecantikan sang putri memang bagaikan Dewi Supraba, konon Sri Handayaningrat dari Pajang Pengginglah yang memasuki sayembara Raja Majapahit, menang dalam peperangannya. 

Akhirnya Raja Bali menyerah kalah, dilanjutkan pula Sri Handayaningrat pergi ke Timur untuk menaklukkan Pulau Sembawa (Sumbawa), Pulau Praguwa (Gowa), Pulau Selebes (Sulawesi), Pulau Ternate, Manila, Pulau Burneo (Kalimantan), Rajanya menyerah, tunduk pada Sri Handayaningrat termasuk seluruh kawasan daerah jajahannya. Sri Handayaningrat ke pulau yang besar dan memanjang, bernama Pulau Sumatra. Rajanya pun dapat dikalahkannya. Konon Sri Handayaningrat telah melebarkan jajahan Majapahit hampir ke seluruh pelosok Nusantara, kesemuanya pun tunduk menyerah pada Majapahit.

Ratu Pembayun mempunyai adik lelaki bernama Sang Lembu Peteng, tampan rupawan. Sang Lembu Peteng tinggal sebagai Adipati di Mandura (Madura) atau lebih di kenal dengan nama Joko Tole dan adik putri yang cantik jelita. Bernama Ratu Masrara, yang sampai akhir hayatnya mengabdi di Pengging Pajang.

4.2 Perjalanan Menuntut Ilmu Kyai Ageng Banyu Biru

Konon Raja Pajang  Pengging Sri Handayaningrat wafat, dan meninggalkan putra 2 orang lelaki. Yang sulung bernama Raden Kebo Kanigara (1472 M) dan yang bungsu bernama Raden Kebo Kenanga (1473 M). Atas kehendak kakeknya, kedua putra Sri Handayaningrat tidak diangkat menjadi Ratu. Namun Pengging  Pajang yang semula bentuk kerajaan, diubah kedudukannya menjadi sebuah Kadipaten. Dibagi dua untuk para putra Sri Handayaningrat, dinamakan Pengging tua dan Pengging muda. Kedua putra tadi selalu masih diasuh oleh ibundanya, permaisuri Raja Handayaningrat.

Tak selang berapa lama, ibunda permaisuri Handayaningrat meninggal dunia. Jadilah Raden Kebo Kanigara dan Raden Kebo Kenanga Yatim Piatu yang tak mempunyai ibu dan bapa lagi. Karena kejadian ini kakeknya Prabu Brawijaya menghendaki kedua cucunya untuk dibawa ke Majapahit. Raden Kebo Kenanga dan Raden Kebo Kanigara di anggap oleh Prabu Brawijaya seperti putra mereka sendiri, kasih sayang tertumpah ke pada mereka. Apalagi permaisuri raja, Kanjeng Ratu Andarawati sangat menyayangi mereka. Raja dan Permaisuri seperti Ayah dan Ibu bagi mereka. Kerajaan Pajang  Pengging setelah diubah kedudukannya menjadi Kabupaten diserahkan kepada para Kesatria dan para Sentana Raja Handayaningrat, diurus pula oleh para Mantri yang bijaksana tak ubahnya bagaikan cara menata pemerintahan pada waktu Raja Handayaningrat dahulu.

Konon pada waktu Prabu Brawijaya V, lolos dari Kerajaan Majapahit, permaisuri raja Ratu Andarawati tak menyertainya. Adapun Putri Andarawati sepeninggal Raja Brawijaya hijrah menuju  Ampel Gading yang terkenal diasuh oleh Sunan Ampel, dan satu lagi cucunya putra dari Sunan Ampel bernama Sinuhun Benang atau Sunan Bonang. Keduanya sebagai penyebar Agama Islam yang besar, sebagai penganut agama Islam yang tekun dan berwibawa. Raja Brawijaya dahulu sebelum meloloskan diri dari Kerajaan Majapahit untuk muksa, meninggalkan pesan kepada permaisuri Kanjeng Ratu Andarawati bahwasanya sepeninggal Prabu Brawijaya hendaknya Kanjeng Ratu Andarawati tetap berada di Majapahit. Ditugaskan kepada Kanjeng Ratu Andarawati untuk tetap menjaga putra, cucu dan Sentana, punggawa Majapahit. Ditekankan pula bahwasanya mereka diwajibkan memeluk agama Islam agama suci dan luhur itu.

Karena bagi Prabu Brawijaya, tak ada bedanya Budha dan Agama Islam itu, sebab pada diri Prabu Brawijaya sebenarnya sudah “Islam”. Sang Prabu Brawijaya telah mengenal apa hakekat menyembah Tuhan Yang Maha Esa tadi, baginya tak akan ada kesulitan untuk menempuhnya. Sebab beliau adalah seorang yang bijaksana berbudi luhur, tahu apa yang dinamakan hakekat hukum “Sangkan Paran” (manusia berasal dari Tuhan kembali pula akhirnya ke Tuhan Yang Maha Kuasa). 

Selanjutnya sang Permaisuri Ratu Andarawati tinggal di tempat Sunan Bonang atau disebut juga Prabu Anyakrakusuma, tak ketinggalan Raden Kebo Kanigara dan Raden Kebo Kenanga turut serta mengikuti eyangda Ratu Andarawati. Banyak pula cucu-cucu dari permaisuri Ratu Andarawati yang turut di Bonang, sebab sesungguhnya mereka sangat menghormati kepada Ratu Andarawati, apalagi Jeng Susuhunan Benang Anyakrakusuma. Raden Kebo Kenanga dan adiknya Raden Kebo Kanigara masih saudara sepupu dengan Sunan Bonang, Tidak mustahil tali persaudaraan antara Sunan Bonang, Raden Kebo Kanigara dan Raden Kebo Kenanga sangat akrabnya. Selain itu Adipati Mandura Lembu Peteng pun bermukim di Benang, bersama-sama dengan saudara-saudaranya menuntut agama Islam. 

Selama di Benang Adipati Mandura sangat mengasihi kepada kedua kemenakannya Raden Kebo Kenanga dan Raden Kebo Kanigara, apalagi dengan Sunan Bonang. Karena masih keponakan dengan Adipati Mandura Lembu Peteng, menantu Arya Baribin di Madura. Pesan lain Prabu Brawijaya kepada Ratu Andarawati, bahwa sepeninggal raja, hendaknya kerukunan tetap dibina antara trah Majapahit. Tidak mustahil jika antara keturunan-keturunan Majapahit terjalin keakraban yang mendalam sekali, terbukti Sunan  Giri, Sunan Drajad, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati mengasihi kepada raja putra Majapahit Raden Kebo Kenanga dan Raden Kebo Kanigara. Tak ubahnya mereka memberikan bakti dan sayang kepada Prabu Brawijaya Ratu Agung Majapahit. 

Tak berapa lama, Ratu Dwarawati permaisuri Prabu Brawijaya mangkat dikarenakan sudah lanjut usianya, jenazahnya dimakamkan di Karangkemuning. Banyak putra Santana keturunan Majapahit yang sedih karenanya, mereka seakan-akan kehilangan pepundhen orang tua. Kemudian menyusul Sunan Bonang  juga telah wafat , jenazahnya dimakamkan di Asrama Sunya Bonang. Ditandai dengan sengkala Wisik Sukci Adining Bumi, tahun Jawa 1445 atau tahun Masyekhi 1523. Digantikan oleh adiknya Sunan Drajad dengan gelar Wali Gos Kutubrahman. Konon selang setengah tahun dari wafatnya Sunan Bonang  mangkat pula Dipati Mandura Lembu Peteng. Jenazah nya dimakamkan di Karang Kajenar terletak di bagian bawah makam Ibu Prameswari. Putranya menggantikan sebagai Dipati Mandura, yang bernama Lembu Wara.

Sepeninggal  Ratu Andarawati, Sunan Bonang dan pamandanya Adipati Lembu Peteng Mandura, Raden Kebo Kanigara dan Raden Kebo Kenanga merasa waktunya kembali ke Pengging, sebab kedua-duanya ingin mengabdikan pada jalan kehidupannya masing-masing. Raden Kebo Kanigara memillih bermukim di Gunung Merapi, hidup sebagai seorang penyebar agama Islam bersama dengan istri sebagai endang dan putra-putranya sebagai manguyu dan jejanggan. Kyai Ageng Banyu Biru  membuang semua ambisi politiknya dan strategi meraih kekuasaan yang agak berbeda. Karena itulah beliau tampil kiai yang soleh dan terpelajar. Tidak lagi berkuasa sebagai bendera di atas bawahnya, dia beralih sebagai empu bagi santri-santrinya. Beliau adalah kiai dari pesantren di daerah yang bernama Banyu Biru di wilayah Sukoharjo Jawa Tengah, seorang Ulama yang rendah hati yang menolak penghormatan dan sanggup bergabung dengan pengikut-pengikutnya untuk bekerja di sawah dan ladang. 

Raden Kebo Kanigoro  memilih kehidupannya sebagai layaknya seorang santri, tak diinginkannya hidup selayaknya seorang Raja Putra Pengging. Seluruh penduduk dalam pimpinan Raden Kebo Kanigoro sangat maju ibadahnya, tekun dalam mendalami agama. Semuanya melakukan ibadah agama Islam. Sehari-hari yang mereka lakukan hanya beribadah, setelah bersembahyang pergilah ke sawah atau ke ladang.

4.3 Perjalanan Menuntut Ilmu Dari Syekh Siti Jenar

Ada  seorang Waliyullah sakti bernama Syekh Siti Jenar Susuhunan di Lemah Bang. Terkenal seorang ahli laku tapa brata, memiliki segala ilmu tinggi, ahli rasa dan tak akan terkecoh ataupun keliru dalam membedakan rasa manisnya gula dan bukan gula. Seorang pertapa yang memiliki ilmu yang sempurna dalam penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, beliau tahu dalam penghayatan kehidupannya dalam menjalankan ibadah agama “mana ada dan mana tiada”, dan memahami tentang ajaran “manunggaling kawula dan gusti”, juga  “awal dari ada dan akhir dari ada” singkat kata Syekh Siti Jenar, adalah seorang yang tahu apa yang akan terjadi, seorang yang bersifat terbuka di dalam sikap dan hatinya maupun dasar-dasar penghayatan hidupnya. Seorang waliyullah sakti yang sudah tanpa aling-aling (penghalang) lagi, memiliki ilmu mampu tak kena pati, sempurna dalam pelepasan diri. Mendalami sedalam-dalamnya akan ilmu kesempurnaan hidup atau kemuksaan diri. 

Kyai Ageng Banyu Biru menerima kedatangan Waliyullah Syekh Siti Jenar dengan segala kerendahan hati dan keterbukaannya. Lama Syekh Siti Jenar bermukim di Pengging, Kyai Ageng Banyu Biru berguru kepada waliyullah tadi. Segala ilmu yang dimiliki oleh Waliyullah Syekh Siti Jenar diberikan pada Kyai Ageng Pengging, singkat cerita tak ada ilmu yang tidak diajarkan padanya. Sekarang Kyai Ageng Pengging hampir setara ilmunya dengan Syekh Siti Jenar, beliau adalah muridnya kesayangan dan terkasih. Setelah menetap lama di Pengging, pulanglah Syekh Siti Jenar ke tempat tinggalnya, kembali ke daerah Lemah Abang atau Siti Jenar.

Konon selain Kyai Ageng Banyu Biru, sahabat-sahabat beliau sejumlah 40 orang turut berguru pula pada Waliyullah Syekh Siti Jenar. Mereka adalah :
Kyai Gede Pengging, Kyai Gede Getasaji, Kyai Gede Balak, Kyai Gede Butuh, Kyai Gede Ngerang, Kyai Gede Jati, Kyai Gede TingKyair, Kyai Gede Petalunan, Kyai Gede Pringapus, Kyai Gede Nganggas, Kyai Gede Wanalapa, Kyai Gede Paladadi, Kyai Gede Ngambat, Kyai Gede Karangwaru, Kyai Gede Babadan, Kyai Gede Wanantara, Kyai Gede Majasta, Kyai Gede Tambakbaya, Kyai Gede Bakilan, Kyai Gede Tembalang, Kyai Gede Karanggayam, Kyai Gede Selandaka, Kyai Gede Purwasada, Kyai Gede kebokangan, Kyai Gede Kenalas, Kyai Gede Waturante, Kyai Gede Taruntum, Kyai Gede Pataruman, Kyai Gede Banyuwangi, Kyai Gede Puma, Kyai Gede Wanasaba, Kyai Gede Kare, Kyai Gede Gegulu, Kyai Gede Candi digunung Pragota, Kyai Gede Adibaya, Kyai Gede Karurungan, Kyai Gede Jatingalih, Kyai Gede Wanadadi, Kyai Gede Tambangan, Kyai Gede Ngampuhan, Kyai Gede Bangsri Panengah.
Keempat puluh sahabat seilmu dan seperguruan tadi, mengikrarkan persaudaraan dengan Kyai Ageng Banyu Biru. Semakin kokoh dan akrab persahabatannya, antara Pengging, dan daerah-daerah yang dikuasai oleh sahabat-sahabatnya tadi.

Ketika Syekh Siti Jenar kembali ke padepokannya, Kyai Ageng Banyu Biru turut mengantarkannya, beserta keempat puluh sahabat-sahabatnya. Kyai ageng Pengging dan keempat puluh sahabat-sahabatnya menetap di kediaman Syekh Siti Jenar lumayan lama sambil mempelajari dan memperdalam beragam ilmu, aneka permasalahan kehidupan, yang selalu di bahas dengan Syekh Siti Jenar. Sampai akhirnya dirasa cukup beliau menuntut Ilmu kepada Syekh Siti Jenar. Kyai Ageng Banyu Biru mohon pamit bersama-sama keempat puluh sahabatnya. 

4.4 Perjalanan Dakwah Kyai Ageng Banyu Biru

Setelah dirasa cukup akhirnya Raden Kebo Kanigoro memutuskan melakukan perjalanan menyebarkan dakwah agama Islam beserta Istri dan anaknya tanpa diikuti satu orang kawula dari Pengging. Setelah sekitar tujuh tahun Kyai Ageng Purwoto Sidik mengembara, beliau kemudian hijrah ke Rejosari, Semin, Gunungkidul. Ditempat itu beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang. Setelah beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang cukup lama, lalu beliau meneruskan pengembaraan sampai di Jatingarang, Sukoharjo (dulu bernama hutan Wonogung). Ditempat baru ini  Kyai Ageng Purwoto Sidik melakukan “Tapa Kungkum” di sendang setempat. 

Konon karena pancaran dari energi spiritual Kyai Ageng Purwoto Sidik, maka air Sendang Wonogung mendadak berubah berwarna biru. Hingga, sendang itu pun seiring berjalannya waktu kemudian dinamakan “Sendang Banyu Biru”. Berdasarkan peristiwa ini pula, Kyai Ageng Purwoto Sidik diberi julukan “Kyai Ageng Banyu Biru”. Pada era selanjutnya, julukan “Kyai Ageng Banyu Biru” digunakan pula oleh murid-murid dan orang-orang sesudah beliau yang memang cinta pada sosok ketokohan beliau.

Perlu diketahui bahwa dusun Banyu Biru berada di Selatan kota Solo (Jawa Tengah), yang disebut-sebut sebagai tempat Jaka Tingkir (Sultan Kerajaan Pajang) berguru (menimba ilmu). Setelah Jaka Tingkir berguru kepada Kyai Ageng Banyu Biru, beliau kemudian melakukan perjalanan ke Gunung Majasto, selanjutnya ke Pajang. Jalur gethek-nya menjadi dasar penamaan dusun-dusun di wilayah itu, yakni: Watu Kelir, Toh Saji, Pengkol, Kedung Apon dan Kedung Srengenge. Selain Sendang Banyu Biru, ada “Delapan Sendang” lain sebagai Petilasan Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyu Biru), yakni: Sendang Margomulyo, Sendang Krapyak, Sendang Margojati, Sendang Bendo, Sendang Gupak Warak, Sendang Danumulyo, Sendang Siluwih dan Sendang Sepanjang. Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan sendang lainnya tersebar di Weru, Sukoharjo. Semua sendang itu kini airnya telah menyusut. Bahkan Sendang Banyu Biru sudah tidak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah “masjid”.
Setelah Meninggalnya Syekh Siti Jenar, murid-murid beliau berduka sangat dalam. Seakan-akan mereka ditinggal orang tuanya, sebab Syekh Siti Jenar selain sebagai guru, di hati mereka tak ubahnya bagaikan orang tua sendiri. Sedih bagaikan anak yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya, yang tertinggal hanyalah kenangan kasih sayang Syekh Siti Jenar saja. Yang sangat dalam menjangkau di lubuk hati mereka, sehingga mereka seakan-akan turut merasakan penderitaannya maupun kemulyaannya.
Setelah peristiwa Syekh Siti Jenar, kemudian beliau mendengar kabar tentang apa yang terjadi denga adiknya Kyai Ageng Pengging.

Maka demi keamanan beliau dan keluarganya maka diputuskan untuk melakukan perjalanan untuk sementara menjauh dari suasana politik yang sedang panas pada saat itu sambil melakukan dakwah sampai keadaan kembali tentram. Untuk sementara urusan pesantren di titipkan kepada para santri-santri beliau sambil berpesan tetap selalu melakukan dakwah dan jangan sampai berhenti.
Ada banyak lika-liku hidup yang harus dilalui tokoh Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyu Biru) mulai dari pengejaran dari pihak-pihak yang tidak senang terhadap pribadinya, hingga perjalanan hidupnya yang sering berpindah-pindah tempat karena mencari keselamatan jiwa dan raga karena rentetan perpolitikan kerajaan di atas. Dalam perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah tersebut, Ki Kebo Kanigoro sering berganti nama samaran agar tidak diketahui identitas dirinya. Begitu pula, para keturunan dan keluarganya juga selalu berganti nama samaran untuk keselamatan mereka.

4.5 Tanda Pohon Jati Kyai Ageng Banyu Biru

Dalam perjalanannya Kyai Ageng Banyu Biru  yang biasanya atau rata-rata ditandai dengan “Pohon Jati” beserta sebagian keturunan lainnya. Telah disebutkan bahwa, pada zaman dahulu kala, sebuah pohon sering dijadikan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” (sesuatu tanda sebagai pesan rahasia) untuk mereka yang memiliki latar belakang tertentu. Misalnya, tanda “Pohon Sawo” selalu digunakan oleh para keturunan Panembahan Sawo Ing Kajoran (yakni; semua para trah Kajoran hampir selalu menggunakan sandi/tanda Pohon Sawo bagi semua keturunannya). Dalam kirata basa orang Jawa, Pohon Sawo di-kiratabasa-kan dengan bahasa al-Qur’an sebagai “Sawwu Shufufakum…” (rapatkanlah barisan kalian/ rapatkanlah barisan saudara-saudara kalian/ rapatkanlah trah keturunan kalian…). Ini yang masyhur dan saya dapatkan dari kisah para sesepuh. 

Sebagaimana telah disebutkan bahwa sebuah pohon merupakan salah satu “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” (sesuatu tanda sebagai pesan rahasia) yang banyak digunakan oleh sesepuh atau tokoh masa lalu. Pohon Boddhi misalnya, selalu dipakai simbol atau tanda bagi umat agama Buddha dimanapun berada. Sebab pohon Boddhi tersebut memiliki nilai sejarah bagi umat Buddha. Konon Sang Buddha Gautama mendapat pencerahan sempurna saat melakukan semedi (meditasi) di bawah Pohon Boddhi. Oleh karena hal tersebut, maka para siswa dan pengikut Sang Buddha sampai saat ini mengistimewakan Pohon Boddhi tersebut. Makna “Pohon Boddhi” adalah pohon pencerahan. Dari sini, mungkin pula bahwa makna “Pohon Jati” dari tanda Kyai Ageng Banyu Biru adalah pohon ilmu sejati yang selalu beliau dalami dan ajarkan pada santrinya. Dan pada akhirnya, oleh orang Jawa, tempat singgah bertanda “Pohon Jati” tersebut dipakai sebagai tempat mengirim doa kepada tokoh yang bersangkutan.

Mengenai banyak petilasan Kyai Ageng Banyu Biru yang ditandai dengan Pohon Jati, banyak dapat info dari para sesepuh apa kirata basa “Pohon Jati” yang selalu digunakan “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” dari Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyu Biru, dan keluarganya) yang terkenal sebagai murid Syaikh Siti Jenar dan berdekatan erat dengan Sunan Kalijaga, Sang Wali Tanah Jawa. Ada kemungkinan, makna atau kirata basa “Pohon Jati” yang rata-rata hampir ada dan melekat dengan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyu Biru dan keluarganya) dimaksudkan adalah beliau merupakan penganut “Ilmu Sejati” (Ilmu Kasunyatan) yang diajarkan Syaikh Siti Jenar. Dengan demikian, rata-rata petilasan Ki Kebo Kanigoro (Kiai Purwoto Siddiq Banyu Biru) ditandai dengan Pohon Jati (artinya, pohon keilmuan Sejati). 

Petilasan Kyai Ageng Banyu Biru, Nyai Gadhung Melati, Rara Sekar Rinonce yang berada di sebelah Timur bagian Utara Pom Bensin, di daerah kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar yang sejak zaman dahulu ditandai dengan Pohon Jati yang besar. Petilasan tersebut dinamakan “Petilasan Jati Kurung”, sebab pohon Jati tersebut dulu dikurung pagar melingkar disekelilingnya. Hingga saat ini, Pohon Jati yang disebut “Petilasan Jatikurung” sebagai petilasan ketiga tokoh tersebut beserta para pengikutnya masih berdiri kokoh. Konon, di tempat inilah Kyai Ageng Banyu Biru  beserta keluarga dan para pengikutnya sempat membuat “Rumah Joglo” dan menjadi semacam pusat pemerintahan setingkat kadipaten atau kecamatan atau pemerintahan lebih kecil lainnya. Hingga akhirnya, beliaulah yang merupakan cikal bakal kecamatan Kanigoro-Blitar.

Petilasan Rara Sekar Rinonce yang merupakan anggota keluarga Kyai Ageng Banyu Biru; salah satu tokoh yang cikal bakal kecamatan Kanigoro-Blitar dan sekaligus sebagai cikal bakal dusun Dogong, desa Gogodeso, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar dulu juga berupa tanda Pohon Jati yang besar. Namun Pohon Jati tersebut telah mati dan tinggal tonggaknya saja. Kemudian para warga dusun Dogong membuatkan monumen sederhana kepada tokoh cikal bakal tersebut. Sumber dari Ustadz Ahmad Kulli Syaiin Ulama Setempat menyatakan: “… ndisik pase cikal bakal dusun Dogong iku ono Wit Jatine mas…terus koyoke mati lan ditandani bangunan sai iki kae…” (dulu tepat di cikal bakal tersebut ada Pohon Jati-nya mas… Lalu mati dan ditandai bangunan/monumen tersebut). Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ustadz Kholik Mawardi bahwa dulu ada Pohon jati-nya. Petilasan ini berada dalam areal “Makam Umum” desa Gogodeso dan berdekatan dengan sumber/mbelik, yang berada di sebelah Timur-nya.

Petilasan Nyai Gadhung Melati , Kyai Ageng Banyu Biru, Rara Sekar Rinonce  yang berada di desa Maliran, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut dinamakan “Petilasan Jati Gerot”, sebab dulu kala ada Pohon Jati yang bergerot-gerot ditiup angin. Bahkan, sebelum menjadi desa Maliran, konon desa tersebut dinamakan desa Jati Gerot. Petilasan tersebut dibangun seperti sebuah makam, padahal hal itu bukanlah makam, tetapi hanyalah sebuah petilasan. 

Petilasan Nyai Gadhung Melati , Kyai Ageng Banyu Biru, Rara Sekar Rinonce yang berada di desa Dayu, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut berada dekat sumber mata air. Konon, menurut Mbah Jawoko Jatimalang, petilasan yang ada di desa Dayu, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar tersebut dulu kala ada tanda beberapa pohon yang berada di dekat sumber air, serta bangunan berupa patung Singa dan Naga sebagaimana yang dibangun etnis Tionghoa. Namun tanda-tanda patung Singa dan Naga tersebut sudah tidak ada lagi saat ini.

Petilasan Nyai Gadhung Melati , Rara Sekar Rinonce yang merupakan anggota keluarga Kyai Ageng Banyu Biru yang berada di Utara Sumber Kucur desa Selokajang, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar. Petilasan tersebut juga ditandai dengan “Pohon Jati” yang berusia cukup lama. Namun Pohon Jati tersebut telah tiada dan ditebang oleh pemilik pekarangan di tempat tersebut. Saat ini hanya terdapat tonggak Pohon Jati dan bekas dibakari dupa wangi, terdapat pula cok bakal dari sebagian warga yang nyekar di tempat tersebut.

Petilasan Kyai Ageng Banyu Biru di dukuh Kaligayam, desa Rejosari, kecamatan Semin. Petilasan ini juga ditandai dengan Pohon Jati pula. Pohon Jati yang berusia ratusan tahun tersebut telah roboh dimakan usia. Konon pohon jati tersebut dinamakan “Pohon Jati Bedug” di dukuh Kaligayam sebagai petilasan Kyai Ageng Banyu Biru ketika singgah dan melakukan kegiatan spiritual di tempat tersebut.

Putra Kyai Ageng Banyu Biru yang bernama Kyai Ageng Gribig juga menggunakan tanda pohon Jati untuk menyebut dusun yang ditempatinya, yakni Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Konon di Jatinom tersebut dahulu juga ditandai “Pohon Jati Enom” (pohon Jati yang masih muda). Tak dapat diketahui secara pasti di mana Pohon Jatinom (Pohon Jati Muda) tersebut berada. Namun, arti daerah bernama “Jatinom” tidak lepas dari keturunan Kyai Ageng Banyu Biru bernama Kyai Ageng Gribig yang menandai daerah tersebut dengan Pohon Jati. Diceritakan salah satu sesepuh bahwa Kyai Ageng Gribig inilah yang dilegendakan warga Rawapening-Ambarawa dengan Raden Baru Klinting yang mencari ayahnya dipuncak gunung.

Tentu saja tidak semua Kyai Ageng Banyu Biru semua ditandai atau ditanami dengan Pohon Jati. Sebab usaha pengejaran Ki Kebo Kanigoro dari rentetan perpolitikan pada masa itu bisa jadi tidak menyempatkan beliau dan para cantriknya untuk memberi semua yang ditempatinya saat beliau singgah dengan Pohon Jati. Artinya, hanya tempat-tempat tertentu yang nyaman ditempatinya saja yang diberi “tanda” atau “tetenger” atau “sandi” berupa Pohon Jati. Misalnya, di Kademangan-Blitar berada di Selatan Sungai Berantas bergandengan dengan langgar (mushalla) juga ada Petilasan Nyai Gadhung Melati yang merupakan istri dari Ki Kebo Kanigoro.

Begitu pula, petilasan Kyai Ageng Banyu Biru yang berada di lereng Gunung Merapi, dan lain sebagainya. Tak jauh dari itu, Dusun Sekardangan, Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro konon merupakan tempat terakhir ketika Nyai Gadhung Melati dan putrinya bernama Rara Sekar Rinonce untuk memutuskan kembali menyusul Kyai Ageng Banyu Biru  di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Mbah Kyai Zainuddin Sesepuh dan Ulama daerah Sekardangan mengatakan: “…. Embuh, ndisik critane Mbahe Wedok karo anake mbalik maneh ning Jawa Tengah…” (Nggak tahu, tapi ceritanya dulu Eyang Putri dan anak perempuannya kembali lagi ke Jawa Tengah). Namun sebelum kembali ke Jawa Tengah konon Nyai Gadhung Melati sempat berkunjung dulu ke rumah anaknya Ki Ageng Gribig  yang berada di Malang. Kata Mbah Kiai Zainuddin: “Sakdurunge mbalik ning Sukoharjo, Mbahe Wedok ndisik menyang Malang dhisik.” Hal tersebut juga dibenarkan oleh Mbah Bayan Mayar yang mendapat cerita dari Mbah Markalam (kakeknya). 

Dari perjalanan dan persinggahan Kyai Ageng Banyu Biru dan keluarganya yang cukup melelahkan karena rentetan perpolitikan pada saaat itu, kemudian mereka kembali menetap terakhir di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kyai Ageng Banyu Biru dimakamkan di tempat tersebut. Begitu pula, Nyai Gadhung Melati, Rara Sekar Rinonce dimakamkan dalam areal “Makam Banyu Biru” tersebut.

4.6 Pertemuan dengan Mas Karebet atau Jaka Tingkir.

Kyai Ageng Banyu Biru adalah pemimpin sebuah padepokan. Banyak para siswa yang berguru kepada beliau. Kyai Ageng Banyu Biru dibantu oleh dua orang adik laki-lakinya, yaitu Kyai Mas Wila dan Kyai Mas Wuragil . Disana, sudah beberapa waktu yang lama, telah menetap dan berguru seorang pemuda keturunan Prabhu Brawijaya V, Kyai Mas Manca, dia adalah keturunan Arya Jambuleka II. Sedangkan Arya Jambuleka II adalah putra Arya Jambuleka I. Dan Arya Jambuleka I adalah putra selir Prabhu Brawijaya V.

Kyai Ageng Banyu Biru yang waskita (firasat) batinnya, pagi itu memerintahkan para siswa untuk membersihkan Padepokan. Tak ada yang mengetahui apa maksud beliau. Hanya Kyai Mas Manca yang diberitahu bahwasanya sore hari nanti, akan datang seorang tamu keturunan Prabhu Brawijaya V yang hendak berguru ke padepokan tersebut. Dan benar, menjelang selesai sembahyang sore, seorang pemuda nampak memasuki Padepokan serta meminta ijin kepada seorang cantrik (siswa) untuk bertemu dengan Kyai Ageng Banyu Biru. Cantrik tersebut segera menghadap Kyai Ageng. Diperintahkan Kyai Mas Manca untuk menyambut kedatangan pemuda tersebut yang tak lain adalah Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir terkejut juga mendapati kedatangannya disambut sedemikian rupa oleh Kyai Ageng. Rupanya beliau sudah tahu pasti bahwa pada sore hari itu akan kedatangannya. Didepan Kyai Ageng  Jaka Tingkir menceritakan apa sebabnya hingga dirinya sampai ke Padepokan Banyu Biru. Berhari-hari Jaka Tingkir berusaha mencari letak padepokan tersebut, dan pada akhirnya berkat petunjuk-Nya, akhirnya sampai juga dan bisa bertemu langsung dengan Kyai Ageng Banyu Biru.Kyai Ageng Banyu Biru memperkenalkan Kyai Mas Manca kepada Jaka Tingkir. Kedua pemuda keturunan Majapahit itu saling berpelukan bahagia. Bahkan, Kyai Mas Manca sedemikian bahagianya sampai-sampai menitikkan air mata. 

Kyai Ageng Banyu Biru memerintahkan Jaka Tingkir tinggal di Padepokan untuk sementara waktu. Dengan ditemani Kyai Mas Manca, Jaka Tingkir mempelajari berbagai macam ilmu dari Kyai Ageng Banyu Biru. Kini, Jaka Tingkir lebih mendalami Ilmu Kesempurnaan. beliau benar-benar mendalami Ilmu tinggi tersebut. Berbulan-bulan Jaka Tingkir digembleng dengan Tapa Brata dan Samadhi. Kecerdasaan dan kesungguhan Jaka Tingkir membuat Kyai Ageng sangat menyayanginya. Berbagai lontar-lontar rahasia dengan mudah dikuasainya. Hanya dalam beberapa bulan, kemajuan spiritual Jaka Tingkir sudah sedemikian pesatnya. Jaka Tingkir yang dulu lebih mumpuni dalam Olah Kanuragan, kini, Kesadaran spiritual-nya benar-benar terasah tajam berkat bimbingan Kyai Ageng Banyu Biru.
Kyai Ageng Banyu Biru bangga melihat perkembangan Jaka Tingkir. Ketika sudah dirasa cukup, Kyai Ageng memerintahkan Jaka Tingkir untuk turun dari Padepokan. Konon, dari Kyai Ageng Banyu Biru, Jaka Tingkir mendapatkan Aji Lembu Sekilan, yaitu sebuah ilmu kesaktian yang langka, yang berguna untuk melindungi tubuh dari berbagai serangan dalam batas satu jengkal jari ( satu jengkal jari dalam bahasa Jawa adalah sekilan). Kyai Ageng Banyu Biru-pun memerintahkan Kyai Mas Manca, Kyai Mas Wila dan Kyai Mas Wuragil untuk menemani Jaka Tingkir. Sebelum meninggalkan padepokan, Kyai Ageng memberikan sebuah rencana jitu kepada Jaka Tingkir agar dapat kembali diterima oleh Sultan Trenggana

Pada setiap musim penghujan, Sultan Trenggana pasti meninggalkan ibu kota Demak dan berdiam diri di Pegunungan Prawata. Banjir seringkali melanda ibu kota Demak. Dan tidak banyak yang tahu bahwasanya Sultan kerapkali berdiam diri di Pegunungan Prawata tiap kali musim banjir tiba. Hanya para Pasukan Pengawal Sultan saja yang mengetahuinya. Untuk kembali mendapatkan kepercayaan Sultan Trenggana, Kyai Ageng Banyu Biru menyarankan kepada Jaka Tingkir membuat sebuah keonaran dengan meminta bantuan beberapa gerilyawan. Keonaran tersebut harus mampu mengancam keselamatan Sultan Trenggana yang tengah bermukin di Pegunungan Prawata. Dapat dipastikan, tidak bakalan banyak prajurit angkatan bersenjata Demak yang berada disana. Sebelum pasukan bantuan Demak datang dari Demak menuju Pegunungan Prawata, Jaka Tingkir harus secepatnya tampil menjadi sosok penyelamat. Dengan demikian, Sultan pasti akan kembali menaruh kepercayaan kepadanya.

5. Keteladanan Kyai Ageng Banyu Biru

Kyai Ageng Banyu Biru dikisahkan sebagai seorang yang lembut hati . beliau meskipun pewaris sah dari Kerajaan Pengging akan tetapi tidak berambisi untuk meneruskan jabatan dari ayahandanya untuk menjadi Raja yang berikutnya. Sedari kecil sudah terlihat bahwa beliau sangat berminat untuk menekuni Ilmu agama yang diajarkan oleh Sepupunya yaitu Sunan Ampel kemudian dilanjutkan belajar kepada Sunan Bonang yang kemudian dilanjutkan berguru kepada Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Bahkan ketika dalam perjalanan dakwah beliau terpaksa harus melakukan perjalanan dakwah dengan cara melakukan perjalanan dari daerah sat uke daerah lainnya demi menghindari memanasnya politik pada waktu itu, beliau melakukannya dengan sangat ikhlas dan tawakkal.

Karena didikan dari guru-guru beliau  dan ketekunan beliau dalam mendalami ilmu Agama, beliau lebih memilih untuk melanjutkan perjuangan untuk menyebarkan Agama Islam ke pelosok Nusantara dan meninggalkan semua urusan duniawi. Beliau dengan sabar dan istiqomah melakukan perjalanan untuk menyebarkan dakwah yang dibantu istri dan anak-anaknya yang juga menjadi muridnya. Berdasarkan Ajaran dari guru-guru beliau mengajarkan Agama Islam tanpa menggunakan paksaan. Akhirnya Kyai Ageng Banyu Biru kembali ke pesantren beliau di dusun Sarehan, desa Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Tidak lama kemudian banyak orang berdatangan ingin bertempat tinggal dan belajar kepadanya. 

6. Referensi

  1. Buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto,
  2. Buku Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta: Transpustaka, 2011
  3. Suroyo,  A.M.  Djuliati,  dkk.  1995.  Penelitian  Lokasi  Bekas  Kraton  Demak.Kerjasama Bappeda Tingkat I Jawa Tengah dengan Fakultas Sastra UNDIP Semarang.
  4. Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Koleksi KGB. No 7.
  5. Sudibya, Z.H. 1980. Babad Tanah Jawi. Jakarta: Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  6. Babad Tanah Jawi
  7. Babad Tanah Jawi Demakan
  8. Serat Kandha
  9. Cerita tutur masyarakat Jawa
  10. Babad Jaka Tingkir
     
  11.  

https://www.laduni.id/post/read/517136/biografi-kyai-ageng-banyu-biru-kyai-ageng-purwoto-sidik-guru-spiritual-joko-tingkir.html