Biografi KH. Yahya Syabrowi

Daftar Isi Profil KH. Yahya Syabrowi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Teladan

Kelahiran

KH. Yahya Syabrowi lahir pada tahun 1907 M di Perkampungan Tattat Sampang, Madura. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Syabrowi dengan Nyai Latifah.

Ibu beliau adalah salah satu putri KH. Ismail Ombul, Sampang Madura, yang merupakan salah satu keturunan dari Syekh Sulaiman Mojoagung, pendiri Pondok Pesantren Sidogiri.

Wafat

KH. Yahya Syabrowi wafat tahun 1987. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit yang beliau rintis, Rumah Sakit Islam Gondanglegi Malang.

Keluarga

Setelah Nyantri kepada KH. Kholil Bangkalan dan mendapat isyaroh dari gurunya, KH. Bukhori membatalkan niat untuk berdakwah ke Jawa Tengah, melainkan pergi menuju Malang untuk berdakwah. Pada tahun 1937, sampailah KH. Yahya Syabrowi di desa Ganjaran bersama keponakannya. Sesampainya KH. Yahya Syabrowi di Ganjaran, beliau dinikahkan oleh KH. Bukhori dengan putrinya sendiri.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai, 15 anak, putra-putri beliau diantaranya:

  1. Khozin, Lahir Malam Kamis (Jam 2) 16 Jumadil Akhir 1358/1939)
  2. Rasyidah, meninggal  ketika berusia 9 tahun
  3. Aisyah, Ahad 22 Syawal 1362 H/1943 (menikah hari Jum’at 19 Syawal 1379 H/1960 M)
  4. Munifah, Kamis 20 Muharram 1365 H/1946 M (menikah Jum’at 14 Dzulhijjah 1381/1962)
  5. Ahmad, malam kamis pahing, 23 Muharram 1368 H/ 1948 M
  6. Hamimah, malam kamis legi 20 Dzulhijjah 1367 H/ 1953 M
  7. Sa’id, yang satu lagi meninggal keguguran berkelamin laki-laki
  8. Muhammad Syakir, Sabtu Wage Pagi, 24 Dzul Hijjah 1375 H/ 13 Agustus 1955
  9. Mahmudah, Malam Rabu Wage 14 Sya’ban 1377/ 5 Februari 1958 (meninggal pada saat usia 7 hari)
  10. Qoshidah, malam Senin Kliwon, 6 Ramadlan 1378 H/ 16 Maret 1959 (meninggal Jum’at Wage Rajab 1385 H/29 Oktober 1965)
  11. Ghoniyah, malam Senin Kliwon 16 Jumada Akhir 1380 H/ 5 Desember 1960
  12. Khasyi’ah, Rabu pagi, Syawal 1382 H/ Februari 1963
  13. Jazilah, malam Selasa Wage 25 Dzulhijjah 1384 H/27 April 1965 (meninggal ketika kecil)
  14. Mukhlis, Malam Jum’at Legi 25 Robi’ul Akhir 1386 H/ 12 Agustus 1966
  15. Madarik, Senin Wage 23 Shofar 1392 H/10 April 1972.

Pendidikan

KH. Yahya Syabrowi memulai pendidikannya dengan belajar kepada orang tuanya sendiri, KH Syabrowi. Dari beliaulah Kiai Yahya menuntut dasar-dasar ilmu agama dan kehidupan. Setelah menginjak dewasa beliau melanjutkan studinya kepada Kiai Makki Sampang selama delapan tahun. Berkat prestasi dan kepandaian beliau, Kiai Yahya diperintahkan membantu mengajar di pondok pesantren tersebut.

Setelah itu, beliau melanjutkan belajarnya ke Pondok Pesantren Panji Sidoarjo yang diasuh oleh KH. Khozin. Sebagai Tafaulan terhadap guru, putra pertama beliau diberi nama yang sama dengan gurunya, yaitu KH. Khozin. Di pondok pesantren tersebut, beliau juga mendapat kepercayaan mewakili Kiai untuk mengajarkan kitab kuning.

Mendirikan Pesantren

Setelah kurang lebih sepuluh tahun bermukim di desa Ganjaran, KH. Yahya Syabrowi mulai merintis Madrasah Miftahussyibyan yang kini berubah nama dan kita kenal sebagai Pondok Raudlatul Ulum pada tahun 1949 M. Perubahan nama itu atas istikharah KH. Khozin Yahya, putra kiai Yahya Syabrowi sendiri. Perintisan dan pembangunan pondok pesantren ini merupakan perintah dari paman sekaligus mertua beliau sendiri, KH. Bukhori Ismail. 

Dengan bantuan ulama serta para tokoh masyarakat kala itu, di antaranya KH. As’ad (pendiri Pesantren Miftahul Ulum), KH. Qoffal Muhammad (mertua KH. Qoffal Syabrawi), Hafidz Abdurrozak (seorang alumni Gontor), Bapak Dumyati dari Jombang dan lainnya.

Sebagai Kiai karismatik, kontribusi beliau terhadap umat sangat besar. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum salah satu bukti nyatanya. Bermula dari pondok pesantren itu muncullah berbagai pondok pesantren di sekitar Raudlatul Ulum, bahkan hingga kini tercatat 17 pondok pesantren di desa Ganjaran. Selain pendidikan agama, lembaga formal demi mengimbangi perkembangan zaman juga beliau dirikan di bawah naungan pesantren.

Mulai dari MI, MTS, MA, bahkan pada tahun 1985, Kiai Yahya berkerjasama dengan salah satu pendiri Unisma Malang, membuka Fakultas Syari’ah Unisma di desa Putat Lor. Saat ini perguruan tinggi itu tetap eksis dengan nama  STAI Al-Qolam. Terlepas dari dunia pendidikan, beliau juga berperan di bidang sosial kemasyarakatan, hal ini terbukti dengan peran beliau sebagai salah satu penggagas Rumah Sakit Islam Gondanglegi Malang.

Perjuangan mengemban estafet nabi Muhammad saw. tidaklah mudah, butuh kesabaran ekstra yang harus ditanamkan dalam diri sang Da’i. Asam garam perjuangan juga telah dirasakan oleh Kiai Yahya Syabrowi dalam mengembangkan pondok pesantren yang didirikannya. Pada awalnya, kegiatan pendidikan pondok pesantren Roudlatul Ulum dilaksanakan di rumah penduduk dan rumah ibadah.

Di antara lokasi yang dijadikan tempat proses pembelajaran itu adalah rumah Nyai Zakariya dan musholla KH Ahmad Hambali. Hingga pada akhirnya Kepala Desa Ganjaran saat itu, H Abdurrahman ikut serta dalam membantu perjuangan Kiai dengan mengupayakan tanah wakaf untuk lahan gedung madrasah.

KH. Yahya Syabrowi sehari-harinya mengajarkan kitab tafsir al-Jalalain, kitab hadits Riyadhussholihin dan kitab nahwu-shorof Ibnu Aqiel dan rutin diulang tatkala sudah khatam. Ketiga kitab klasik ini dibaca usai sholat Maghrib hingga menjelang Isya’. Sehabis sholat Dhuhur, beliau membaca al-Iqna’ dan ditambah kitab kecil lainnya dengan metode sorogan.

Teladan

KH. Yahya Syabrowi dikenal sebagai sosok kiai yang sangat istiqomah dalam menjaga sholat berjamaah. Bahkan beliau akan mengajak sholat anak kecil sekalipun, jika ketinggalan berjamaah. Terlebih lagi Istiqomah beliau dalam bangun malam, sangat beliau perhatikan dalam kehidupan beliau.

Konsep dalam kitab Bidayatul Hidayah diterapkan dalam keseharian beliau, hal ini terbukti dengan tidak terlepasnya beliau dari doa-doa. Mulai dari doa mau tidur, bangun tidur, masuk kamar kecil, doa setelah wudlu’, hingga doa naik kendaraan beliau baca. Bahkan jika turun hujan pertama dari musim kemarau, beliau mandi berhujan-hujan sebagaimana disunnahkan.

Keistiqomahan yang beliau tekuni menjadi nilai lebih bagi pribadinya sehingga mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah swt. Sebagai Kiai yang Tawadhu dan Mukasyif. Sebuah kisah yang dialami oleh Ustadz Isma’il Fathulloh (Boro), ustadz berperawakan kurus ini berniat membeli tv untuk keluarganya. Sesampainya di gerbang timur pesantren, kiai Yahya memanggil dan memegang pundaknya sambil berkata ”Kalau mau jadi anakku, jangan beli tv !” Padahal ia belum mengucapkan sepatah katapun.

Perhatian beliau terhadap santri tidak hanya dalam kedisiplinan belaka, memang, setiap hari beliau sendiri yang mengontrol para santi untuk melaksanakan kegiatan bahkan langsung terjun ke kamar-kamar santri. Beliau lebih perhatian kepada santri dalam hal Birrul Walidain, bahkan dimulai dari perkataan santri terhadap orang tuanya.

Kiai Yahya Syabrowi pernah berkata ”Tenimbeng tang santreh tak abesah ke oreng tuanah, ango’ tak abesah ke sengko’ (ketimbang Santri saya tidak berbahasa halus kepada orang tuanya, lebih baik tidak usah berbahasa halus kepada saya).

Selain pendidikan agama, lembaga formal demi mengimbangi perkembangan zaman juga beliau dirikan di bawah naungan pesantren. Mulai dari MI, MTS, MA, bahkan pada tahun 1985, Kiai Yahya berkerjasama dengan salah satu pendiri Unisma Malang, membuka Fakultas Syari’ah Unisma di desa Putat Lor. Saat ini perguruan tinggi itu tetap eksis dengan nama  STAI Al-Qolam.

https://www.laduni.id/post/read/66495/biografi-kh-yahya-syabrowi.html