Biografi Guru Marzuki bin Mirshod

Daftar Isi Profil Guru Marzuki bin Mirshod

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Guru-Guru
  5. Murid-Murid
  6. Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Betawi
  7. Karya-Karya

Kelahiran

As-syekh Ahmad Marzuqi bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Khotib Sa’ad bin Abdurrohman bin Sulthon atau yang kerap disapa akrab dengan Guru Marzuki bin Mirshod lahir pada malam Ahad waktu Isya tanggal 16 Romadhon 1293 H di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Batavia (Jakarta Timur).

Beliau merupakan putra salah seorang khotib di masjidf Al-Jami’ul Anwar Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Jakarta Timur Ahmad Mirshod dengan Hj. Fathimah binti KH. Syihabuddin Maghrobi Al-Madura, berasal dari Madura dari keturunan Ishaq yang makamnya di kota Gresik Jawa Timur.

Pada usia 9 tahun ayahanda berpulang ke Rohmatulloh dan diasuh oleh ibunda tercinta yang sholehah dan taqwa dalam suatu kehidupan rumah tangga yang sangat sederhana.

Wafat

Guru Marzuki bin Mirshod wafat pada pagi hari jum’at 25 Rajab 1352 H, jam 06.15 WIB. Jenazah beliau disalatkan dan di imami oleh Habib ‘Ali bin Abdurrohman Al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang). Kemudian dikebumikan sesudah Salat Asar yang dihadiri oleh para ulama dan ribuan orang.

Pendidikan

Guru Marzuki kecil, beliau memulai pendidikannya dengan belajar kepada KH. Anwar. Beliau belajar al-Qur’an dan berbagai disiplin ilmu agama Islam lainnya.

Ketika  usianya menginjak 16 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya untuk belajar kepada Habib Utsman bin Muhammad Banahsan. Saat berguru kepada Habib Utsman, sang Habib melihat kegeniusannya serta ingatan yang tajam dalam menghafal, yang dimiliki oleh Guru Marzuki bin Mirshod, sehingga membuat sang Habib ingin mengarahkan Guru Marzuki untuk melanjutkan pendidikanya di Mekkah dan dapat belajar kepada para ulama besar di Mekkah.

Setelah 7 tahun beliau belajar di Mekkah, kemudian datang sepucuk surat dari Habib Utsman yang meminta agar Guru Marzuki bin Mirshod dapat kembali ke Jakarta, maka pada tahun 1332 H atas pertimbangan dan persetujuan guru-gurunya di Mekkah beliau kembali pulang ke Jakarta, dengan tugas menggantikan Habib Utsman dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada murid-muridnya. 

Guru-Guru

Guru-guru Guru Marzuki bin Mirshod diantaranya adalah :

  1. As-Syaikh Usman Serawak
  2. As-Syaikh Muhammad Ali Al-Maliki
  3. As-Syaikh Muhammad Amin Sayid Ahmad Ridwan
  4. As-Syaikh Hasbulloh Al-Mishro
  5. As-Syaikh Umar Sumbawa
  6. As-Syaikh Muhammad ‘Umar Syatho
  7. As-Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah)

Murid-Murid

Murid-murid yang didiknya kemudian banyak yang menjadi ulama Betawi terkemuka. Dalam sebuah catatan menyebutkan ada sekitar 41 ulama Betawi terkemuka bahkan lebih. Di antaranya adalah

  1. Mu`allim Thabrani Paseban (kakek dari KH. Maulana Kamal Yusuf)
  2. KH. Abdullah Syafi`i (pendiri perguruan Asy-Syafi’iyyah)
  3. KH. Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah)
  4. KH. Noer Alie (pahlawan nasional, pendiri perguruan At-Taqwa, Bekasi)
  5. KH. Achmad Mursyidi (pendiri perguruan Al-Falah)
  6. KH. Hasbiyallah (pendiri perguruan Al-Wathoniyah)
  7. KH. Ahmad Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah)
  8. Guru Asmat (Cakung)
  9. KH. Mahmud (pendiri Yayasan Perguruan Islam Almamur/Yapima, Bekasi)
  10. KH. Muchtar Thabrani (pendiri YPI Annuur, Bekasi)
  11. KH. Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah)
  12. KH. Ali Syibromalisi (pendiri perguruan Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan, Jakarta).

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Betawi

Berdirinya organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) di tanah Betawi memiliki kisah yang unik. Kisah tersebut diceritakan dari KH. Saifuddin Amsir bahwa ketika Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara diminta untuk mendirikan NU di Jakarta di tanah Betawi, beliau tidak langsung menerima permintaan tersebut, akan tetapi ada satu syarat yang harus di penuhi.

Guru Marzuki bin Mirshod memberikan syarat, jika para santri perempuan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang dipimpin Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy`ari tidak menutup auratnya secara benar, sesuai syariat, ia menolak pendirian dan kehadiran NU di tanah Betawi.

Ia kemudian mengutus orang kepercayaannya ke Tebuireng untuk melihatnya secara langsung. Dari hasil pengamatan orang kepercayaannya ini ia mendapatkan informasi bahwa para perempuan dan santri perempuan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, menutup auratnya dengan benar, sesuai syariat. Atas informasi ini, Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara menerima pendirian NU di tanah Betawi dan ia menjadi pendiri dari NU Jakarta.

Permintaan pendirian NU kepada Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara di tanah Betawi langsung dari Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy`ari. Permintaan kepadanya tentu tidak sembarangan, mempertimbangkan juga pengaruh dan ketokohannya sebagai salah seorang ulama terkemuka di Betawi pada masa itu.

Karya-Karya

Adapun kitab-kitab yang dikarangnya ada 13 buah, yang dapat dilihat sekarang hanya 8 buah. Kitab-kitab tersebut diantaranya :

  1. Zahrulbasaatin fibayaaniddalaail wal baroohin.
  2. Tamrinulazhan al-`ajmiyah fii ma’rifati tirof minal alfadzil‘arobiyah.
  3. Miftahulfauzilabadi fi’ilmil fiqhil Muhammadiyi.
  4. Tuhfaturrohman fibayaniakhlaqi bani akhirzaman.
  5. Sabiluttaqlid.
  6. Sirojul Mubtadi.
  7. Fadhlurrahman.
  8. Arrisaalah balaghah al-Betawi asiirudzunuub wa ahqaral isaawi wal `ibaad.

https://www.laduni.id/post/read/68099/biografi-guru-marzuki-bin-mirshod.html