70 Tahun dan 1.031 Halaman

Ketangguhan intelektual dibuktikan dengan penulisan disertasi, kolom, atau makalah. Tulisan-tulisan itu mengandung pelbagai pemikiran berpengaruh besar atau kecil. Intelektual tak cuma hadir dan terlibat dengan tulisan-tulisan. Intelektual bisa mewujudkan ide-ide dengan menjadi pengajar, pengurus organisasi, atau sibuk di politik.

Pada suatu masa, Indonesia diramaikan dengan buku-buku biografi. Ratusan buku itu mengisahkan para pengusaha, politisi, artis, dan militer. Biografi untuk intelektual terhitung sedikit. Kita masih bisa mencatat buku otobiografi pun sedikit. Dulu, penulisan biografi dilakukan penulis-penulis dicap profesional dalam misi mengenalkan dan membesarkan para tokoh. Siasat berbeda bila intelektual atau tokoh kondang sanggup menulis sendiri. Kita biasa menamakan itu otobiografi.

Sekian nama teringat sebagai penulis otobiografi: Rosihan Anwar, Deliar Noer, Ajip Rosidi. Kita ingin menelusuri halaman-halaman otobiografi ditulis oleh Deliar Noer (1926-2008). Pada masa Orde Baru, ia diakui sebagai intelektual mumpuni. Ia pun mewujudkan ide-ide setelah keruntuhan rezim Orde Baru dengan berpolitik, tak cuma berurusan dengan mengajar, seminar, atau penulisan buku.

Di majalah Gatra, 31 Agustus 1996, kita membuka lagi dokumentasi penerbitan buku Deliar Noer. Kita mengutip: “Otobiografi berjudul Aku Bagian Ummat, Aku Bagian Bangsa itu diterbitkan oleh Mizan, Bandung, untuk memperingati 70 tahun Deliar Noer, yang jatuh pada 9 Februari 1996. Tebal buku cukup mencengangkan: 1.031 halaman. Ditulis sendiri oleh Deliar Noer selama kurang-lebih satu tahun.”

Di Indonesia, buku otobiografi itu mungkin paling tebal. Deliar Noer sanggup menulis panjang, bukti kebiasaan menulis dilakukan sejak lama. Penulisan otobiografi berbekal ingatan-ingatan dari beragam pengalaman dan pengamatan. Kita tak usah menuntut harus ada daftar pustaka panjang. Di buku otobiografi, kita mengenali sosok dan ide-ide digerakkan selama puluhan tahun. Pembaca bakal makin dekat, turut mengerti masa-masa dilalui tokoh dengan pelbagai peristiwa dan pemaknaan.

Baca juga:  Citra Islam Anarkisme

Penerbitan buku digenapi dengan membuat acara di gedung bundar LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Acara di situ: peluncuran buku dan diskusi bertema “Indonesia Menatap Masa Depan.” Usia makin tua tapi Deliar Noer masih ingin terus berbagi pengalaman dan pemikiran. Buku itu membuktikan kemauan besar tak harus surut gara-gara umur.

Deliar Noer bakal terus dikenang dengan kita membaca 1.031 halaman. Pembaca memerlukan ketabahan untuk khatam. Beragam ingatan ditulis oleh Deliar Noer. Kita membaca sosok tapi mendapat imbuhan mengerti sejarah Indonesia, dari masa ke masa.

Deliar Noer (1996) mengungkapkan: “Maka, beberapa orang bekas anak angkat dan mahasiswaku dahulu, menyarankan perlunya ulang tahunku ke-70 diperingati secara khusus dengan mengundang banyak saudara, dengan penerbitan buku serta penyelenggaraan seminar, aku hanya bisa lebih bersyukur, walaupun kupikir saran anak-anakku tadi berlebihan. Otobiografi ini merupakan salah satu pencerminan kesyukuran itu yang kuharapkan manfaatnya bagi masyarakat secara umum. Penilaian tentang isinya kuserahkan saja pada pembaca.”

Buku tebal menandai usia. Kita menilai Deliar Noer sudah matang dalam olah pemikiran dan mahir menggerakkan bahasa. Pengisahan diri bersama orang-orang pernah menentukan biografi bukan perkara sulit. Ia telah mengalami masa-masa bertumbuh untuk menjadi intelektual dengan penguatan misi agama dan kebangsaan.

Baca juga:  Saran Abraham Maslow untuk Pemerintah dalam Penerapan PPKM Darurat

Pada 1945, Deliar Noer dari Medan ke Jakarta. Di sana, ia menghuni di asrama untuk studi dan mengerti perubahan-perubahan. Deliar Noer berada dalam gejolak-gejolak sejarah. Kita mengutip: “Walau pun pembicaraan di asrama menyangkut soal-soal pergerakan, tak berapa orang di antara kami yang hadir pada proklamasi kemerdekaan. Di antara kami berempat yang dari Medan, hanya Kamil yang hadir di Pegangsaan Timur pada waktu proklamasi. Di rumah dialah pula yang terus-menerus menceritakan pengalamannya, serta apa yang ia lihat. Apalagi ia  memang sukan bercerita, mungkin disertai bumbu segala.”

Deliar Noer masih remaja. Episode itu turut menguatkan hasrat mempelajari dan menulis sejarah Indonesia. Pada masa berbeda, ia berhasil menulis buku-buku mengenai gerakan Islam dan partai politik di Indonesia. Dua buku terpenting: Gerakan Modern Islam di Indonesia: 1900-1942 dan Partai Islam di Pentas Nasional: 1945-1965.

Pada masa 1950-an, Deliar Noer tekun dalam studi dan pergerakan. Ia pun mendapat kesempatan melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat. Sosok berjasa bernama Kahin, peneliti masalah nasionalisme di Indonesia. Di Amerika Serikat, Deliar Noer takjub dengan pesta keintelektualan dan serius dalam studi.

Takjub saat masuk perpustakaan di Cornell: “Kota ini memang ideal untuk belajar. Perpustakaannya besar bukan main. Aku baru tahu bahwa sekitar dua juta buku terdapat di sana, di antaranya koleksi Indonesia dalam bahasa beragam, termasuk Melayu, jawa, Bugis, dan sebagainya. Koleksi ini terbesar di Amerika Serikat…” Ia terpesona buku-buku tapi mustahil khatam untuk semua koleksi di Cornell. Ia memerlukan buku-buku dalam penggarapan disertasi. “Praktis aku setiap hari ke perpustakaan,” kenang Deliar Noer.

Baca juga:  Kliping Keagamaan (19): Antara Penulis dan Pembaca Agama

Peristiwa penting dialami pada 15 September 1962. Deliar Noer mengingat dan membagikan kisah: “Aku ujian di hadapan pembimbingku… Setelah dekat tiga jam, aku dipersilakan keluar, dan diminta menunggu dan tidak pergi ke mana-mana… Lama juga rasanya aku menunggu itu, lebih 15 menit. Akhirnya, Prof Kahin keluar menjumpaiku. Mukanya cerah dan ia senyum: tentulah aku lulus, kupikir. Dan benar saja, ia langsung mengucapkan selamat kepadaku.” Ia merampungkan studi. Deliar Noer menjadi pemikir makin penting bagi Indonesia. Ia berjanji pulang ke Indonesia untuk mengajar.

Kita mengutip puisi gubahan Deliar Noer berjudul “Perjalanan”. Puisi digubah pada 17 Januari 1953. Ia mungkin merancang “perjalanan” intelektual, bukan cuma kehadiran di pelbagai negara. Puisi mengandung janji untuk terbuktikan. Kita mengutip: Kami penaka bulan bintang/ Bintang kemenangan, bukan emas, perak, suasa/ bukan bintang letak di dada. Ia pun menjadi “bintang” intelektual di Indonesia. Ia telah berjalan dan mewujudkan. Begitu.

https://alif.id/read/bandung-mawardi/70-tahun-dan-1-031-halaman-b245470p/