Shohih, Hikmah Stiker Sholat Jamak 3 Waktu

Shohih, Hikmah Stiker Sholat Jamak 3 waktu
Stiker Sholat 3 waktu

Baru2 baru ini beredar stiker dari tentang menjamak sholat 3 waktu. “Jamak boleh dilakukan tiap hari meski tidak bepergian,” tulis dalam stiker tersebut dikutip Dream.co.id dari laman Beritajatim.com, Selasa 17 Februari 2015. Pendapat ini diklaim berdasarkan Al-Qur’an surat Al Isra’ ayat 78 dan hadist. “Salat jamak juga ada dalam hadits Nabi,” kata Hj Quratul Ayun, istri dari KH Qoyim Ya’qub, pengasuh Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo. Stiker yang sudah masuk ke MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jombang ini diterbitkan PPUW (Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo) Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek.

Keterangan ini, tentu bertentangan dengan pendapat ahli fiqih yang selama ini ada. Baik itu pendapat imam madzhab, majelis tarjih Muhammadiyah, atau bahkan pendapat golongan salafy yang mengklaim paling nyunnah. Adanya dasar dalil dari Al-Qur’an, tentu akan mematahkan semua pendapat sebelumnya. Karena dalil apapun harus dibuang, jika ada dalil shohih dari Al-Qur’an.

Kejadian beredarnya stiker sholat jamak 3 waktu ini, mengingatkan kita tentang polemik hadist shohih yang akhir-akhir ini mencuat. Akhir-akhir ini, memang sedang gencar kampanye “kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah”, kampanye anti madzhab, kampaye “mana dalil shohihnya?”. Dan banyak lagi jorgan-jorgan dan kampanye senada. Dengan adanya kampanye ini, banyak pendapat imam-imam madzhab kemudian dituding-tuding tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tradisi dan amalah ulama-ulama salaf, dianggap bid’ah dan tidak berdasar. Orang-orang yang belajar pada ulama, dibilang taqlid, dan beragama berdasarkan “katanya”.

Dari kejadian ini, sebenarnya kita disadarkan kembali, bahwa “shohih” itu hanyalah sebatas klaim. Dan yang kita klaim sebagai “shohih”, sebenarnya hanyalah penafsiran kita. Paling tidak, dengan kejadian ini, kita bisa saling memahami perbedaan. Selama perbedaan ini, bisa dipertanggung-jawabkan secara jujur. Kita menjadi sadar, bahwa shohihnya sebuah dalil, juga harus didukung oleh “shohih”-nya yang menyampaikan. “shohih”-nya yang menafsirkan.

Semoga, kita selalu mendapatkan guru yang “shohih”, sehingga membawa kita pada pemahaman Islam yang “shohih”. Dan tidak menjadi orang yang merasa paling shohih, namun sebenarnya menyakini sesuatu yang sebenarnya hanya kita kira shohih.

??????????? ??????? ???????? ?????? ???????????? ??????????? ????????? ?????????? ???????? ???????????? ????????????

Check Also

Teguh Dalam Kejujuran

Pesantren memang penuh kenangan. Sementara hidup, terkadang berlalu begitu saja tanpa kita sadari. 15 tahun …

Leave a Reply