Setya Novanto Tak Sengaja Mengunyah Sabun, Tisu Bahkan Odol Ketika Hendak Mandi

Pengamat Media Sosial Denny Siregar Kembali Membuat tulisan konyol dan bikin facebooker tertawa terpingkal pingkal membaca tulisan di akun facebooknya yang menggambarkan keadaan Galau Ketua DPR RI Yang Mulia Setya Novanto saat ini akibat terbilat skandal ” papamintasaham”

Berikut ini Tulisan Denny Siregar  Sebagaimana dikutip secara verbatim oleh santri.or.id dari akun facebook pribadinya :

SI TERADU YANG MENGADU

5196ae61-ae19-49a9-abf2-93eada2af584_169Kebayang kira2 apa yang ada dalam pikiran setya novanto sekarang ?

Yang jelas demi mempertahankan posisinya sebagai ketua dpr, ia harus mengeluarkan uang banyak kepada partainya. Ia sebelumnya sudah “ber-investasi” besar pada waktu pemilihan ketua dan jelas belum balik modal karena belum ada proyek makelaran yg gol sampai sekarang. Apalagi ketika jati dirinya terbuka, calon2 kliennya tentu tiarap semua.

Bagi sebagian, menjadi anggota dpr adalah nilai investasi. Mereka rela keluar berapapun sekedar membayar timses sampai amplop utk lapangan. Nilai investasi ini akan semakin besar ketika seseorg ingin berada di senayan. Selain nilai prestise yg tinggi, proyek lebih banyak di pusat mulai pelolosan dana anggaran sampai makelaran seperti yg dilakukan setnov.

Posisi menentukan prestasi. Kalau dulu waktu pelajar, posisi bangku belakang menentukan nilai yang didapat, menjadi anggota dpr siapa yang terlihat dan punya jabatan menentukan harga jual. Pada posisi ketua dpr tidak mungkin maen proyek puluhan M, minimal yang ratusan.

Jangan dikira gaji anggota DPR itu cukup buat makan sebulan. Mereka pasti banyak kurangnya, karena mereka harus menaikkan gaya hidupnya termasuk memelihara partner kerja dan konstituennya. Seorang teman yg dulu pernah menjadi anggota dewan propinsi, bukannya kaya sekarang malah banyak hutang. Itu karena dia tidak mampu memainkan dgn baik proyek di dalam, bukan karena ia jujur tapi hanya karena kurang pengalaman.

Jadi kita harus paham bahwa proyek bagi anggota Dpr adalah uang sampingan yg harus dicari jika ingin terpilih lagi di periode berikutnya, itu pun kalau menang. Menarik ya, melihat bagaimana jabatan yg seharusya amanah, di tangan sebagian orang menjadi peluang.

Dan biasanya ketika mereka akhirnya ketangkap tangan, apa yg mereka dapatkan habis untuk membayar segala pembelaan, mulai aparat hukum sampe pengacara yang – Alhamdulilah – juga sama2 bajingan. Kalau kata mamah jupeh, uang jin di makan setan. Itu memang lingkaran setan.

Jadi bisa kebayang apa yang ada dalam pikiran setnov sekarang. Jelas panik dan berfikir keras berapa lagi biaya yg harus gua keluarkan. Ia harus membayar partai spy membelanya dlm sidang MKD, ia harus juga membayar tim komunikasi eksternal utk memperbaiki namanya di publik dan sekarang sesudah Jakgung dan Kepolisian sudah menyatakan bahwa ada kemungkinan ia menjadi tersangka, ia harus keluar sekian banyak lagi uang utk menutupi mulut banyak orang. Belum lagi ia akan dikelilingi para makelar2 hukum yg menjanjikan bahwa ia akan bebas jika membayar. Makelar yang di makelarin, judulnya.

Dengan Presiden dan Wapres tidak mau menghadiri perkawinan anaknya sebenarnya dari situ terlihat karir setnov sudah habis. Orang akan melihatt bahwa ia sudah tidak dihargai lagi dan bagi komunitas mereka yang gengsinya setinggi bulan, itu berarti “Lu gua.. End.”

Percayalah, pada situasi ini hukuman sebenarnya sdh dimulai. Pikiran tidak akan tenang, ia terus disiksa oleh ketakutannya. Makan rendang serasa sendal karet dikasi bumbu. Saat memotong sirloin steak yg rare medium akan terasa alot sampai ia berfikir, “ini daging apa ban dalam ?”

Waktu duduk di toilet pun, akan susah keluar. Sebab di toiletnya ada televisi besar yg menayangkan persidangan tentang dirinya. Setiap dengar kata “yang mulia”, yang keluar dari perutnya cuma angin yang kejepit dan menjerit saja. Apalagi ketika melihat wajah Maroef Sjamsudin yg sudah menghianatinya muncul di layar, segala sabun, tisu sampe odol di kunyah semua saking geramnya. Sikat gigi salah tempat dipake ngorek kupingnya.

Ah, mungkin saya terlalu berlebihan menggambarkannya. Kalau melihat gayanya, beliau sulit akan melakukan seperti itu. Beliau akan dengan gagah datang ke sidang dan dengan senyum yes highly-nya yg terkenal, beliau akan menjawab pertanyaan anggota MKD dengan kepercayaan diri yg sangat tinggi.

“Saudara teradu, bagaimana sebenarnya perasaan saudara ketika ada yang mengadu dan saudara tidak mendapatkan sandaran bahu tempat mengadu diatas peraduan ?”

“Tampar saya, yang mulia.. Tampar sayaaa…” Terdengar lengkingan dari dalam ruang sidang.

Check Also

Hukum Pancung Untuk TKI : Kisas yang tidak kisasi

(Oleh: Kiai Masdar F. Mas’udi)* Secara harfiah qishash (kisas) berarti pembalasan setimpal: utang nyawa dibayar nyawa; mata …