Politik praktris akibatkan disorientasi NU

Kyai dan PolitikPesta Elit Pengurus Gudang
Sebentar lagi Ponorogo akan kembali menggelar pemilihan bupati. Dikalangan NU, seperti biasa, mulai terasa ada kasak kusuk. Para tikus-tikus dan garong pun mulai berkeliaran.

Yah… Bagaimanapun, NU adalah lumbung yang memikat bagi mereka. Apalagi, mayoritas masyarakat Ponorogo adalah warga Nahdliyin. Para tikus itu mulai bersiap-siap melobangi kantong-kantong NU. Mereka saling berebut sebelum akhirnya NU benar-benar digarong. Kembali digarong seperti biasanya. Ya… benar-benar biasa, dan tidak ada yang perlu dirisaukan lagi.

Saking biasanya, para pengurus “gudang” NU itu pun sekarang justru sudah mulai bersiap-siap. Mereka menyiapkan kantong-kantong NU hingga tertata rapi, lengkap bersama label harganya. Mereka juga berdandan agar dikira “cantik” oleh para garong itu. “Biar diculik garong”, kata mereka. Ironi memang.

Mereka sepertinya lupa kalau mereka adalah pengurus “gudang” NU. Mereka dibutakan oleh kekuasaan, sehingga ke-NU-annya pun ikhlas dijual. Dijual dengan harga yang sangat murah. Namun harus diterima pahit oleh warga NU. Kepentingan umat sudah terkooptasi oleh kepentingan sebagian elit pengurus “gudang”. Naudzubillah….

NU jauh dengan umat, jika visinya kekuasaan dan kekayaan, bukan keumatan.
NUjauh dengan ulama dan pesantren, jika misinya kepentingan dunia bukan akhirat.

* * *
Sudah saatnya sadar
Sudah saatnya para pengurus NU tersadar kembali, bahwa kedua matanya hampir terbutakan oleh politik kepentingan, sehingga tak jelas lagi visinya. Sudah saatnya, para pengurus NU mengekang syahwat politiknya. Pengurus harus mulai melatih hatinya dengan lebih banyak berteman dengan kaum duafa daripada aghniya’. Pengurus harus kembali berlatih bersimpuh mendengar dawuh ulama, daripada depe-depe menjilat pantat pejabat.

Sudah saatnya, NU kembali menjadi komunitas untuk ndandakne awak. Menjadi habitat yang subur untuk tumbuhnya jiwa keikhlasan. Mengingat kembali pesan Imam Al Ghozali :

Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan; dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan (Ihya’ Ulumuddin II hal. 381)

Membina umat tak harus melulu soal duit. Menata umat tak harus melalui bagi-bagi kekuasaan. NU tak boleh lagi hanya menjadi batu loncatan para bajingan loncat. Ingat dawuh Gus Dur, “NU jangan hanya bertugas nyurung montor mogok”. Tak usah terkecoh lagi dengan slogan-slogan busuk sok suci.

Orang lain sering menggunakan potensi NU, sedangkan masyarakat NU sendiri sangat sedikit mendapat manfaat dari organisasi. NU dan warganya sekadar dijadikan alat oleh oknum dan kelompok tertentu –termasuk penguasa –untuk meraih kepentingan, dan mereka meninggalkan NU dan warganya ketika merasa tidak dibutuhkan. (KH Musthofa Bisri – Tashwirul Afkar No. 6 Tahun 1999: 76)

Sudah saatnya NU berbenah diri. Buang jauh-jauh sikap elitis, hiduplah bersaama umat sebagaimana yang diajarkan Rosululloh. Jaga NU dari rongrongan orang-orang yang ingin memanfaatkannya secara tidak benar.

Jadi, NU tetap harus bersih dari politik praktis, karena sudah menyatakan kembali ke Khittah NU 1926, yakni NU harus berkhidmat kepada kepentingan rakyat. Meski itu juga susah sekali, bahkan saat ini jadi macet. (Kyai Sahal Mahfidz)

Mari kita jadikan NU sebagai wahana saling mengingatkan dalam kebaikan. Dan tetaplah bersama umat. Ingat Rosululloh, “Ummatii…ummatii… ummatii…!”

Mari berbenah
Tak ada kata berhenti, tak ada kata selesei. Mari kita terus berbenah. Kita cocokan kembali diri kita masing-masing dengan visi misi NU. Kita tata kembali pengkaderannya. Kita tata kembali organisasinya. Jangan sampai susunan struktur hanya jadi pajangan dinding. Jangan biarkan NU mati enggan tapi hidup segan.

Untuk ukuran organisasi, mestinya NU itu sudah bubar, tetapi kok tidak bubar juga … Bila dilihat dari kacamata organisasi. NU itu organisasi apa? NU itu kalau rapat tidak pernah kuorum, keputusan-keputusannya juga tidak pernah mulus. Pokoknya NU itu tidak seperti organisasi …(KH Muatofa Bisri – Jurnal Tashwirul Afkar, No. 6 tahun 1999, hlm. 76)

Jangan sampai kegalauan Gus Abd. A’la benar-benar terjadi.

NU akan berada pada titik nadir yang tidak dirasakan lagi manfaatnya oleh masyarakat luas.(Prof. Dr. H. ABD. A’LA, MA – PP Annuqayah)

Check Also

MEMBANGKITKAN CINTA TANAH AIR PEMUDA INDONESIA UNTUK MENANGKAL FAHAM RADIKAL

Oleh : Yasin Subagio, S.Pd  MTs. Ma’arif 1 Ponorogo Bulan agustus merupakan bulan yang bersejarah …

Leave a Reply