PC GP ANSOR Ponorogo dukung AHWA

Banyak pemimpin NU di daerah-daerah maupun di pusat yang tidak yakin akan kekuatan NU. Mereka lebih menyakini kekuatan golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang menghembuskan propaganda agar tidak yakin akan kekuatan yang dimilikinya. Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati mereka oleh propaganda luar yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam tetapi hanya gelugu alias batang pohon kelapa sebagai meriam tiruan. Pemimpin NU yang tolol itu tidak sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU ragu-ragu akan kekuatannya sendiri.

(Jakarta, 1950 KH.Wahab Hasbullah)

PC GP ANSOR Ponorogo Dukung AHWAJika ada pengurus PCNU yang menolak mekanisme AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi), tentu sangat beralasan. Karena kenyataannya, mekanisme pemilihan ketua PBNU yang selama digunakan adalah dengan mekanisme pemilihan langsung. Juga, pemilihan langsung ini adalah salah satu mekanisme yang secara tegas disebutkan dalam AD/ART Nahdlatul Ulama (Pasal 41). Justru, sistem AHWA ini sebagai sebuah mekanisme, perlu dipertanyakan urgensinya. Namun dalam tarik ulur ini, kita tidak bisa serta merta menilai atau bahkan menghakimi sebuah mekanisme, dalam bingkai salah benar atau tepat dan tidak tepat.

Satu hal yang harus kita sadari, sebagai sebuah organisasi besar tentu NU tidak bisa lepas dari campur tangan pihak-pihak luar. Kita tentu masih ingat betapa beratnya era-era perjuangan Gus Dur. Penulis jadi ingat cerita seorang teman wartawan, bagaimana pada satu momen pemilihan ketua umum, para kyai sepuh masuk dalam ruangan tertutup dan menangis keras bermunajat kepada Alloh. Dan masih menampakkan sisa-sisa sembab saat mereka keluar ruangan. Begitu banyak kekuatan dan kepentingan luar yang ingin masuk dalam jaringan NU. Jadi sekali lagi sungguh naif, jika wacana perubahan mekanisme pemilihan ini, dilihat hanya dari kacamata hitam putih belaka. Seakan-akan ini hanya masalah politik uang (rishwah). Ini seakan-akan menghakimi, bahwa para pengurus PCNU sudah gila uang semua. Dalam hal ini, kita harus melihat tarik ulur ini dalam bingkai yang lebih besar. NU bukan sekedar ormas biasa. NU adalah penjangan NKRI dan Pancasila. NU adalah ormas Islam terbesar di dunia. Jika mampu menerobos NU, berarti mampu menembus jantung NKRI.

AHWA dan DEMOKRASI
Penulis yakin, bahwa para pengurus PCNU sangat paham, jika dilihat dari literatur ke-Islaman, utamanya fiqh siyasah, AHWA adalah model yang paling sering dibahas. Namun ketika AHWA mulai dibenturkan dengan demokrasi, maka persoalnya menjadi panjang. Karena pemahaman dan pemaknaan terhadap demokrasi, seringkali terjadi distorsi disana sini. Namun jika kita kerucutkan menjadi demokrasi Pancasila, maka kita akan mendapatkan satu benang merah. Karena dalam demokrasi Pancasila, justru sistem musyawarahlah yang dikedepankan.

Dari sini, usaha membenturkan AHWA dengan demokrasi menjadi tidak relevan. Karena demokrasi sendiri, pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan sistem pemilihan langsung atau tidak langsung. Pada titik ini, penulis tidak ingin memperpanjang perdebatan mengenai demokrasi. Namun yang jelas, dalam mekanisme AHWA, tidak benar jika PCNU tidak dilibatkan. JIka kita sedikit menengok kebelakang, tahun 2013 mekanisme AHWA telah digunakan pada pemilihan ketua PWNU Jawa Timur. Selanjutnya, mekanisme AHWA ini juga menjadi salah satu agenda pembahasan kombes PBNU 2014 di Cilangkap. Ini menunjukkan bahwa mekanisme AHWA ini bukan sekedar by accident tapi memang by design. Berkaca dari mekanisme AHWA dalam pemilihan ketua PWNU Jatim, tidaklah benar jika peran aktif PCNNU kemudian menjadi tidak penting.

KEMBALINYA SUPREMASI ULAMA

Pada era Gus Dur sampai tahun 2000-an, pengelolaan NU secara organisatoris menjadi sangat kuat. NU dikelola dengan sistem manajemen modern. Kantor-kantor NU berdiri dari tingkat pusat sampai ke ranting. Badan-badan dan lajnah bekerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Namun dalam kurun 10-15 tahun ini, ternyata ada satu hal yang semakin kita tinggalkan. Yaitu peran serta pesantren dan supremasi ulama. Bahkan penulis yakin, semua kalangan NU menyadari dan merasakan, bahwa tarikan NU untuk “mengurusi” politik semakin hari semakin kuat. Bahkan sudah hampir menjadi mindset dibeberapa PCNU, bahwa penyeleseian masalah keumatan adalah dengan menggandeng atau bahkan menguasai kekuasaan.

Kepengurusan di PCNU sering kali tidak lepas dari usaha untuk memuluskan satu dua orang untuk meloncat ke dunia politik. “Massa NU itu besar, jika tidak kita urusi, maka akan diurusi orang lain,” demikian kira-kira salah satu dasar berfikir mereka. Akhirnya, keberhasilan kepengurusan, seringkali diidentikkan dengan kemampuan “mengawal seorang kader NU” untuk menempati sebuah posisi politik. Kyai-kyai yang munculpun kemudian kyai-kyai yang dianggap “melek politik”. Sedangkan kyai-kyai pesantren justru menjadi semakin tidak dikenal dan terpinggirkan. Pergeseran-pergeseran ini, tentu sangat dirasakan oleh banyak pengurus NU di kalangan bawah.

Munculnya kembali mekanisme AHWA ini, menurut penulis justru bisa digunakan sebagai salah satu langkah untuk mengembalikan pergeseran-pergeseran yang terjadi. AHWA barangkali bisa menjadi salah satu alternatif mengatasi deideologisasi ditubuh NU. Mengembalikan lagi supremasi ulama, dan meneguhkan kembali NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah. NU tidak lang menjadi kuda tunggangan kepentingan segelintir orang.

GP ANSOR PONOROGO MENDUKUNG AHWA
Sebagaimana penulis kemukakan di atas, antara pemilihan langsung dan AHWA bukanlah masalah benar-salah atau baik-buruk. Namun kita harus melihat ini sebagai usaha kita agar tetap ber-NU secara benar. Kalau kita bandingkan, AHWA memang memiliki keunggulan. Antara lain :

  1. AHWA adalah mekanisme yang memilki dasar yurisprudensi dalam khasanah ke-Islaman dan yang paling sering dibahas daam kitab-kitab fiqh.
  2. AHWA mengembalikan supremasi ulama, tanpa harus mengebiri peran serta pengurus struktural.
  3. AHWA jelas lebih mampu menghadang masuknya kepentingan-kepentingan diluar keumatan.

Melihat kelebihan-kelebihan ini, PC GP ANSOR mendukung mekanisme AHWA dalam pemilihan PBNU 2015.

Penulis : Syamsul Ma’arif.
Ka-Bidang Pengkaderan PC GP ANSOR Ponorogo.

Check Also

Mengoptimalkan Penggunaan Media Sosial Dalam Rangka Menumbuhkan Sikap Nasionalisme Pemuda Menuju Generasi Emas 2045

Oleh : Erwan Yova Ady Pratama SMAN 1 PONOROGO Dewasa ini, secara menyeluruh globalisasi telah …

Leave a Reply