Mengoptimalkan Penggunaan Media Sosial Dalam Rangka Menumbuhkan Sikap Nasionalisme Pemuda Menuju Generasi Emas 2045

Oleh : Erwan Yova Ady Pratama

SMAN 1 PONOROGO

benderaDewasa ini, secara menyeluruh globalisasi telah mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan, baik dalam diri kita sendiri, keluarga, maupun masyarakat di sekitar kita. Dalam perkembangannya, globalisasi membawa efek yang mengejutkan bagi kita sebagai makhluk sosial, banyak kebaikan dari globalisasi yang dapat dirasakan saat ini, salah satu contohnya adalah kemudahan yang kita peroleh dalam berhubungan antara satu dengan yang lain. Dahulu, tak kan mungkin menyebarkan sebuah kabar atau informasi tanpa adanya sebuah pertemuan serta tatap muka langsung antara informan dengan penerima. Jikalaupun bisa menyebarkan kabar tanpa terjadi tatap muka, maka membutuhkan waktu yang sangat lama sekali agar berita atau informasi tersebut tersampaikan, karena memang dalam penyampaiannya masih menggunakan cara yang sangat tradisional atau bahkan masih dengan menggunakan tenaga manusia untuk melakukannya. Namun kini, semuanya telah berubah tak seperti dulu lagi, tak perlu payah untuk mengirim surat yang harus menunggu seminggu atau sebulan baru sampai di tempat tujuan, maka dengan adanya handphone kita dapat menggunakannya untuk mengirim pesan melalui SMS (Short Message Service) atau bisa juga berbicara secara langsung melalui telpon, sehingga dalam hitungan beberapa detik saja kita sudah dapat berhubungan dengan orang lain. Tidak hanya itu, dengan kebaikan internet masyarakat seluruh dunia dapat dengan mudah mengetahui informasi dari sebuah kejadian yang tentunya juga berasal dari berbagai sudut dunia. Mereka juga dapat bertatap muka langsung tanpa perlu bertemu dengan menggunakan Video Call serta juga dapat mengupdate segala aktivitasnya dalam media sosial yang mereka punya. Dan perlu diingat sekali lagi bahwa semua itu dapat kita akses dengan mudahnya hanya dalam hitungan detik saja. Maka dari itu, saya ucapkan selamat datang di era baru, era dimana semuanya serba mudah dan canggih, cepat serta instan berkat kemajuan teknologi yang merupakan akibat dari perkembangan globalisasi.

            Namun kenyataannya dalam memandang sesuatu tak bisa kita hanya melihat dengan sebelah mata saja, kita harus membuka kedua mata kita lebar-lebar agar segala sesuatu tersebut terlihat dengan jelas serta dapat kita rasakan secara menyeluruh. Maka, terlalu naif jika kita hanya mengatakan bahwa globalisasi cukup membuat kita nyaman dengan hidup didalam eranya, terpenuhi segala keinginan dengan menengadah pada kecanggihannya dan pada akhirnya terlahir sebuah mindset yang salah namun sudah kaprah dengan mengikuti seluruh arus globalisasi kemanapun ia berlabuh adalah jalan satu-satunya untuk dapat mengimbangi perkembangannya. Sisi kelam dibalik kemajuan teknologi akibat dari perkembangan globalisasi tak bisa ditutupi lagi. Banyak dari mereka yang terlena seperti mabuk asmara ketika terbujuk rayuan nikmatnya dunia maya. Dan tak kan sadar bahwa secara tidak langsung banyak jati diri seorang manusia atau bahkan sebuah bangsa tergadaikan dengan mudahnya pada sebuah kemudahan yang pada dasarnya hanya bersifat maya. Sisi kelam dibalik globalisasi selalu muncul dalam topik hangat sebuah berita dan bahkan selalu menjadi headline di sosial media. Dan tak lain tak bukan pelaku utamanya adalah seseorang yang seharusnya menjadi harapan sebuah bangsa dan negara dalam menghadapi kerasnya persaingan dunia. Seseorang yang seharusnya menjadi penerus estafet perjuangan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Maka jika ditanya sipakah mereka ? maka jawabannya tentu saja merekalah para Pemuda!.

Apakah ada yang salah dari pemuda di era ini ?

            Pemuda yang sejatinya manusia paling penting yang menentukan nasib sebuah bangsa sampai sekarang hqdefaultbelum sadar bahwa merekalah tonggak masa depan serta penentu maju mundurnya sebuah negara. Pemuda yang diharapkan menyerap seluruh ajaran serta semangat para pahlawan seakan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Banyak dari mereka tak sesuai dengan yang para pendahulu kita inginkan. Pendahulu kita hanya berharap agar kita sebagai Pemuda harus selalu berbalut semangat Nasionalisme serta belajar dari sejarah para pendahulu. Namun miris, jangankan untuk mengerti dan paham dengan sejarah, mungkin menyebutkan beberapa nama dari pejuang kemerdekaan adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Jika pemerintahan sekarang dikatakan tidak pernah mengenalkan para pejuang bangsa ini kepada pemuda, maka perkataan tersebut merupakan hal yang salah besar. Karena secara tidak kita sadari sebenarnya pemerintah sudah berusaha dan berupaya dalam rangka mengenang dan mengenalkan para Pejuang Kemerdekaan dengan melakukan banyak hal mulai dari menampakkan foto pahlawan dalam berbagai seri uang rupiah, menjadikan hari lahirnya seagai hari libur nasional seperti pada Hari Lahir R.A Kartini yang selalu kita peringati setiap tanggal 21 April, sampai pada sesuatu yang sakral di peringatan resmi setiap Hari Senin dengan mengadakan upacara bendera, serta dengan kebiasaan menundukkan kepala sejenak sekedar untuk mengenang jasanya pada waktu Lagu Mengheningkan Cipta mulai diperdengarkan. Tak hanya itu, jika kita ingat kembali jauh waktu kita duduk di bangku TK atau SD dulu, pasti di tembok kelas kita terdapat sosok yang terpampang nyata wajah-wajah mereka para pahlawan yang telah terenggut demi Nusantara lengkap dengan tempat dan tanggal lahir serta hari dimana mereka wafat. Dalam hal ini sekolah pada dasarnya sama melakukan apa yang dilakukan oleh pemerintah, sejak kita sekolah di TK atau SD kita dahulu pihak sekolah sudah berupaya untuk mengenalkan wajah serta nama para pahlawan dan bahkan lengkap dengan tanggal lahir mereka. Tidak hanya pahlawan, teks proklamasi dan kelima dasar negara selalu mejadi hal yang wajib dipasang pada setiap bangunan kelas. Namun, miris kini jika tahu bahwa harapan mereka tidak sesuai dengan realita yang ada, betapa perih dan tersayatnya hati pemilik foto yang tertempel di tembok tersebut, ketika dua tahun kita belajar di Taman Kanak-kanak (TK) ditambah 6 tahun di Sekolah Dasar (SD) hanya menganggapnya sebagai hiasan dan tidak pernah meliriknya. Jika dulu pemuda di era perjuangan harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan sebuah kehidupan yang layak, maka kini kita yang hanya tinggal meneruskan perjuangan saja mengapa masih terasa sulit sekali untuk melakukanya, padahal dengan semua kecanggihan teknologi dan globalisasi seharusnya kita dapat dengan mudah untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Lalu, ada apa dengan kita ? apakah ada sesuatu yang salah dari kita sehingga kita sulit untuk mewujudkannya ? padahal saya yakin dengan seluruh kabar baik dari globalisasi ini seharusnya dapat membawa pemuda dan Negara Indonesia menjadi lebih baik.

Memanfaatkan kebaikan globalisasi.

            Dalam memanfaatkan kabar baik dari globalisasi, sebenarnya masyarakat Indonesia sudah dapat menerapkannya dan disebutkan juga bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki penetrasi pengguna internet sebanyak 93,4 juta pengguna. Menurut informasi yang dilansir dari data Global Web Index, hampir semua media sosial dimiliki oleh pengguna internet Indonesia. Masyarakat Indonesia seakan berbondong-bondong dan tak mau kalah dalam penggunaan sosial media yang seolah wajib dimiliki semuanya seperti Facebook, Google+, Twitter, YouTube, Instagram, Path dan juga LinkedIn. Pengaruh Facebook ke pengguna internet Indonesia begitu kuat. Ada sekitar 10-15 juta pengguna aktif Facebook yang bertambah di setiap bulannya. Pengguna aktif ini berkisar dari umur 25-40 tahun yang mempunyai smartphone ataupun tablet. Hal ini menjadikan Facebook sebagai media sosial yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia. Selain Facebook, Twitter juga telah menjadi media sosial ‘sekunder’ bagi para pengguna internet Indonesia. Uniknya, Jakarta ternyata menjadi kota yang paling gemar nge-tweet dengan persentase 2,4% dari tweet global, yang mampu mengalahkan London dan Tokyo di urutan kedua dan ketiga. Tweet yang hadir dari kota Jakarta bisa mengeluarkan 385 tweets per detik. (okezone.com)

Untitled-1Dengan semua kabar baik dari teknologi modern tersebut, seharusnya para pemuda dapat menggunakannya secara bijak karena memang dari segi jumlah merekalah kelompok terbanyak memakainya serta kelompok yang paling sering aktif di dalamnya. Namun pahit jika kita melihat sesuai dengan fakta, bahwa banyak dari mereka yang malah kecanduan dengan dunia maya hingga sampai lupa siapakah jati dirinya. Media sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi bukaan wajib setiap hari, setelah bangun tidur, berangkat sekolah, waktu pelajaran, bahkan sampai kembali tidur pun mereka masih mengecek status media sosialnya. Kemudahan dalam menyebarkan informasi digunakan untuk melaporkan setiap aktivitas dengan menulis status kemudian membagikan/share di media sosial mereka. Bangun tidur dishare, makan dishare, putus cinta dishare, beribadah dishare, olahraga dishare serta masih banyak lagi hal lain yang mereka share. Akhirnya, penggunaan media sosial hanya sebatas aktivitas untuk membuang waktu saja, padahal jika waktu yang dimiliki pemuda tersebut digunakan untuk mempelajari sejarah Indonesia sehingga menjadikan semakin kuat rasa Nasionalisme yang mereka punya atau memikirkan sebuah solusi untuk mengatasi problematika yang dialami oleh negara ini, maka jauh lebih baik daripada dihabiskan untuk update status yang pada dasarnya takkan berbuah apa-apa. Namun, dengan begitu bukan berati juga kita harus anti dengan semua kenyamanan yang media sosial berikan, kita tak perlu menjauhi atau bahkan mengharamkan penggunaannya, hanya saja kita harus dapat memanfaatkan secara bijak kebaikan dari media sosial sehingga kita dapat berjalan beriringan dengan perkembanganya. Kita juga harus dapat memanfaatkan kemudahan yang diberikan untuk memperkuat jiwa Nasionalisme kita, sehingga walaupun zaman sudah berubah namun jati diri kita tidak akan pernah berubah seperti apa yang para pahlawan cita-citakan. Rasa Nasionalisme yang semakin luntur akibat sikap acuh tak acuh serta sikap tidak ingin tahu-menahu minimal dapat kita kurangi dengan menggunakan sarana dari kemudahan media sosial ini. Media sosial dapat kita gunakan sebagai ajang dakwah menyebarkan semangat cinta tanah air dan jiwa Patriotisme yang tentunya dengan bobot yang ringan sehingga dapat dengan mudah dikonsumsi oleh sasaran utamanya yaitu para pemuda. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan sikap Nasionalisme pada diri pemuda melalui sarana media sosial, dan kita beri nama gerakan menumbuhkan cinta tanah air kepada pemuda melalui media sosial ini dengan sebutan “Dakwah Nasionalisme” dan berikut langkah yang dapat ditempuh :

  1. Mulai dari sesuatu yang kecil.

Banyak makanan dan minuman Indonesia yang belum diketahui oleh para pemuda karena memang mereka lebih menyukai makanan fast food ala barat yang memang juga merupakan bagian dari perkembangan globalisasi. Maka, dapat kita tumbuhkan kembali jiwa Nasionalisme mulai dari sesuatu yang kecil yaitu dengan mencintai produk asli dalam negeri. Kita dapat mengenalkan makanan dan minuman tradisional Indonesia dengan memfotonya kemudian dishare di media sosial, atau mungkin juga kita bisa mengunggah video pembuatannya agar mereka dapat membuatnya sendiri, dan untuk menampungnya kita dapat membuat sebuah grup seperti “Wisata Kuliner Ponorogo”. Dengan harapan bahwa dengan dimulai dari sesuatu yang kecil yaitu mengkonsumsi makanan dan minuman asli Indonesia, maka rasa cinta tanah air mulai tumbuh dan semakin lama semakin besar.C4649582025F06D2

  1. Tekankan bahwa “Nasionalisme Harga Mati”

Jiwa Nasionalisme pemuda hanya tumbuh ketika Timnas Indonesia bertanding di Laga Internasional saja, itupun jika kalah dicaci maki. Ditambah dengan alasan mereka yang berkata “gak Nasionalisme gak dosa”, maka inilah yang membuat mereka semakin jauh dari sikap cinta tanah air. Maka cara yang dapat digunakan pada media sosial sebagai sarana dakwah Nasionalisme dengan sering membagikan sejarah atau kondisi negara saat ini dalam bentuk puisi, artikel, fakta-fakta ataupun sajak serta tentunya harus dilengkapi poster atau gambar yang menarik sehingga mereka dapat mencerna maksudnya dengan lebih mudah.

 

  1. Ubah topik pembicaraan.

Dalam menggunakan media sosial para pemuda hanya menggunakannya untuk membuat status cinta, patah hati, jomblo, selingkuh atau lainnya yang pada dasarnya sama sekali tidak bermanfaat. Maka, mulai sekarang mari kita ubah topik pembicaraan dengan masalah-masalah terkini yang dialami oleh Indonesia yang tentunya memerlukan pemikiran solutif dan inovatif mereka. Ajak mereka beralih dari galau tak karuan dengan mencoba berfikir untuk negara dan masa depan. Dengan harapan, kedepannya topik pembicaraan mereka akan teralihkan, tidak hanya di media sosial tetapi juga di kehidupan nyata sehingga dapat menjadi bahan diskusi dengan teman sebaya mereka. Jika, bahan pembicaraan pemuda seluruh negeri ini mengenai masalah yang dialami oleh negeri ini dan mereka berusaha berdiskusi untuk mencari solusi dan penyelesaian bersama, maka akan tergugah sikap Nasionalisme pada diri setiap pemuda seluruh penjuru negeri. Akhirnya, jika seluruh pemuda mulai bergerak untuk memajukan Indonesia, maka tidak hanya membawa kabar baik saja kedepannya tetapi juga akan membawa perubahan besar untuk Indonesia.

Dahsyatnya kekuatan dari Media Sosial.

Dalam menghitung peluang keberhasilan Dakwah Nasionalisme kepada pemuda melalui media sosial ini, dapat dihitung dengan menggunakan ilmu statistika. Dalam perhitungan peluang kali ini kita gunakan metode forecasting (peramalan) dengan regresi linier sederhana dan berikut contohnya : Jika Iwan memiliki 200 teman dalam akun Facebooknya, kemudian Iwan menggunggah sebuah artikel yang membawa seluruh semangat Nasionalisme dalam akun media sosialnya, maka 200 teman Facebook Iwan akan melihat iklan tersebut. Dengan asumsi bahwa 10% teman Facebook Iwan melihat dan menyebarkan kembali artikel tersebut dan rata-rata jumlah teman dari teman Iwan yang tidak dikenal Iwan adalah 10 orang, maka jumlah orang yang melihat iklan tersebut dapat dihitung sebagai berikut :

y = 200 + (10% x 200 x 10)

y = 200 + 200

y = 400 orang

 

Keterangan :

y = Jumlah pelihat iklan

x = Jumlah teman Iwan

 

Mari kita hitung jika teman Iwan sebanyak 300 orang, 400 orang dan 500 orang.

  • x1 = 200   à y1 = 400 orang
  • x2 = 300   à y2 = 300 + (10% x 300 x 10)

       = 300 + 300

       = 600 orang

  • x3 = 400   à y3 = 400 + (10% x 400 x 10)

       = 400 + 400

       = 800 orang

  • x4 = 500   à y4 = 500 + (10% x 500 x 10)

       = 500 + 500

       = 1000 orang

Dengan demikian persamaan regresi dapat dicari sebagai berikut :

y = a + bx   à
Ø ?xy = (x1y1 + x2 y2 + x3 y3+ x4 y4)

= (80.000+180.000+320.000

+ 500.000)

= 1.080.000

Ø x? y?   = 350 x 700

= 245.000

Ø ?x2 = x12 + x22 + x32 + x42

= 40.000 + 90.000 +

160.000 + 250.000

= 540.000

Ø x? ?x = 350 x 1400

= 490.000

 

Ø

 

 

Ø a = y? – bx?

= 700 – (16,7 x 350)

= 700 – 5845

= -5145

Maka,

y = -5145 + 16,7

Artinya : tanda negatif (-) pada koefisien a (-5145) artinya jika tidak ada sosial media, maka artikel yang berisi seluruh jiwa Nasionalismenya Iwan tidak akan tersebar, sedangkan tanda positif (+) pada koefisien b (+16,7) artinya jika jumlah teman Iwan di Facebook bertambah 1 orang saja, maka jumlah pelihat artikel Iwan naik sebesar 16,7 kali.

Asumsi Akhir :

            Jika jumlah artikel Iwan bertambah dan x% dari pelihat Iwan Adi tersebut menyebarkannya dan menerapkannya, maka pemuda yang berjiwa Nasionalisme akan terus tumbuh dan meningkat sebanding dengan peningkatan jumlah pelihat artikel Iwan.

            Terkait dengan itu semua, walaupun secara perhitungan peluang tersebar dan melekatnya sikap Nasionalisme dengan metode Dakwah Naionalisme ini sangat besar, namun tetap perlu dukungan dari berbagai pihak, khususnya dari pemerintah yang pada dasarnya memanglah tugas wajib mereka untuk meneruskan serta melekatkan semangat cinta tanah air kepada seluruh masyarakat Indonesia ini. Pemerintah harus mendukung dengan ikut melakukan sesuai diatas yaitu menerapkannya pada akun media sosial atau situs resmi mereka, bahkan jika perlu Dakwah Nasionalisme ini dijadikan sebuah proyek Nasional dalam rangka melestarikan aset bangsa serta menumbuhkan rasa cinta tanah air kepada seluruh warga negara Indonesia. Tidak hanya itu, kita sebagai pemuda sepatutnya juga sadar bahwa pentingnya menumbuhkan sikap Nasionalisme sejak dini itu perlu yaitu dimulai dengan peduli pada kondisi lingkungan sekitar kita, mengenal dan menghormati jasa pahlawan, mempelajari sejarah para pendahulu, belajar dari kesalahan mereka serta meneruskan semangat juang kepada generasi berikutnya, sehingga jika semua langkah tersebut dilakukan maka dapat dipastikan Dakwah Nasionalisme ini akan terus berkelanjutan dan akan mencetak generasi emas yang tangguh, kritis, serta nasionalis yang akan menjadi hadiah di tahun 2045, 100 tahun Indonesia Merdeka.

Check Also

Hukum Pancung Untuk TKI : Kisas yang tidak kisasi

(Oleh: Kiai Masdar F. Mas’udi)* Secara harfiah qishash (kisas) berarti pembalasan setimpal: utang nyawa dibayar nyawa; mata …