MEMBANGKITKAN CINTA TANAH AIR PEMUDA INDONESIA UNTUK MENANGKAL FAHAM RADIKAL

Oleh : Yasin Subagio, S.Pd

MTs. Ma’arif 1 Ponorogo

555ef6080423bd5a418b4567

Bulan agustus merupakan bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Setiap tahun di bulan agustus rutin diperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak kegiatan yang diselenggarakan di banyak tempat untuk memperingati hari kemerdekaan, makam pahlawan mendadak ramai dikunjungi peziarah, kisah-kisah hidup para veteran perang kemerdekaan banyak diungkap oleh media, mereka berlomba mengangkat nasib veteran yang belum begitu diperhatikan pemerintah. Seakan akan di bulan agustus semua orang cinta tanah air dan memiliki jiwa nasionalisme, tapi apa yang terjadi setelah bulan agustus ? Seakan akan rasa nasionalisme itu hanya tumbuh sesaat, makam pahlawan akan kembali sepi, para veteran perang akan kembali menjalani kehidupannya yang suram, para pejabat akan kembali ke rutinitasnya, korupsi semakin merajalela, para pemuda akan kembali ke kehidupan gaulnya, lantas kemana rasa nasionalisme yang sempat menggebu-gebu tadi? Ironi, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi pemuda Indonesia saat ini. Jangankan hafal pancasila dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, urutan sila pancasila saja banyak yang tidak hafal. Padahal dengan mengamalkan nilai-nilai luhur pancasila saja mereka bisa memiliki rasa cinta tanah air dan jiwa nasionalisme yang tinggi.

Mungkin masyarakat kita terbiasa menjalani seremonial sesaat dalam memperingari hari kemerdekaan dan setelah itu semangat untuk mengisi kemerdekaan seaakan padam. Bagi pemuda Indonesia sudah saaatnya memperingati hari kemerdekaan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif yang berkesinambungan. Jangan sampai hanya melakukan hal-hal yang bersifat seremonial belaka. Mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan tidak cukup dengan mengikuti upacara detik-detik proklamasi, atau berpartisipasi dalam lomba-lomba perayaan tujuhbelasan. Kita sebagai pemuda Indonesia harus melakukan tindakan nyata yang dapat membangkitkan rasa cinta tanah air. Saat ini banyak bermunculan faham-faham baru yang dapat memecah belah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) dan mengancam ideologi Pancasila. Di samping gerakan separatis yang masih ada, munculnya faham-faham baru tersebut sangat potensial mengancam NKRI. Mereka menyerang ideologi kita dari segala lini, mulai dari aspek pendidikan dan yang paling meresahkan melalui aspek agama.

Sebagai Negara muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi target yang empuk bagi faham-faham baru tersebut, bahkan tidak sedikit yang menjurus ke gerakan radikal. Jika tidak mempunyai keimanan yang kuat, umat muslim di Indonesia sangat rawan menjadi makanan empuk gerakan tersebut. Banyak isu-isu yang dibuat untuk mengadu domba antar sesama muslim dan non muslim. Kasus yang terbaru terjadi di Tolikara Papua, di mana umat muslim dilarang dan dibubarkan paksa ketika melakukan sholat idul fitri, merupakan contoh upaya adu domba muslim dengan non muslim.Sedangkan dengan sesama muslim mereka berusaha membuat adu domba dalam masalah ibadah-ibadah islam dan budaya islam di nusantara. Hal ini sangat meresahkan masyarakat luas terutama masyarakat awam. Tidak sedikit dari mereka terbawa faham gerakan tersebut, terutama para generasi muda. Bahkan banyak kaum terpelajar yang masuk ke faham tersebut.

Perlu dikembangkan konsep dan pemikiran yang kuat untuk menangkal gerakan faham radikal tersebut. Seperti tema yang diangkat dalam muktamar Nahdlatul Ulama ( NU ) ke 33 di Jombang pada tanggal 1-5 Agustus 2015, MENEGUHKAN ISLAM NUSANTARA UNTUK PERADABAN INDONESIA DAN DUNIA . Sebagai Negara mayoritas muslim terbesar, Islam di Indonesia merupakan agama islam yang paling toleran. Hal ini dibuktikan dengan tidak adannya konflik antar sesama muslim di Indonesia yang berdampak besar pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini karena islam di nusantara bisa hidup berdampingan dengan kearifan budaya lokal sehingga menjadi suatu komposisi yang pas sebagai sebuah akulturasi kebudayaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Islam yang ramah menjadi fondasi yang kuat untuk kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa. Dan dalam konsep yang diusung Nahdlatul Ulama tercermin hubbul wathan minal iman.

Cinta tanah air merupakan kewajiban bagi semua warga negara Indonesia terutama bagi para pemuda. Sebagai pemuda Indonesia sudah menjadi kewajiban untuk cinta tanah air. Karena dengan cinta tanah air dan iman yang kuat, kita akan mampu menghadapi tantangan global saat ini. Kita akan mampu menangkal faham radikal. Sudah sepantasnya kita pemuda Indonesia berjuang mengisi kemerdekaan dengan semangat keimanan dan cinta tanah air. Kewajiban bagi generasi muda untuk membela tanah air, tempat kita dilahirkan,tempat kita hidup, dan tempat kita mendirikan dan menjalankan ajaran islam. Hubbul wathan minal iman, berarti cinta tanah air sebagian dari iman. Mari kita tingkatkan iman Islam kita dan kita cintai tanah air kita, dirgahayu bangsaku, dirgahayu Indonesiaku. Merdeka !

Check Also

Hukum Pancung Untuk TKI : Kisas yang tidak kisasi

(Oleh: Kiai Masdar F. Mas’udi)* Secara harfiahqishash(kisas) berarti pembalasan setimpal: utang nyawa dibayar nyawa; mata …