Hikam 6 : Kehendak Besar dan Kehendak Kecil

Oleh :Ulil Abshar-Abdalla

Bismillahirtahmanirrahim
Mari kita mulai ngaji Hikam malam ini dengan membaca Fatehah untuk Syekg Ibn Ataillah (qs), untuk ayah dan guru saya Kiai Abdullah Rifai, dan ibu saya Nyai Salamah.

Mari kita mulai ngaji Hikam seri ke-6. Bismillah…

Syekh Ibn Ataillah berkata:

?? ????? ??????? ????? ????????? ??? ????????? ?? ?????????? ???????? ????????? . ???? ????? ??? ?????????? ????? ?????????? ??? ? ?? ????? ????????? ???????? ? ????? ??????? ?????? ??????? ?? ?? ???????? ?????? ???????

La yakun ta’akh-khuru amadil ‘atha’i ma’a al-ilhahi fi al-du’ai mujiban li ya’sika, fahuwa damina laka al-ijabata fi-ma yakhtaru laka, la fi-ma takhtaru li-nafsika, wa fil-waqti al-ladzi yuridu la fil waqti al-ladzi turid.

Terjemahannya: Janganlah terlambatnya “peparing gusti” atau pemberian Tuhan, sementara engkau sudah berdoa begitu lama, membuatmu putus asa. Sebab, Tuhan pasti mengabulkan permintaanmu dengan cara yang Dia pilih, bukan dengan cara yang engkau pilih. Dia akan mengabulkan permintaan itu pada waktu yang Dia kehendaki, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki.

10399478_123717197633_5241590_nUngkapan bijak Syekh Ibn Ataillah ini memiliki dua pengertian: awam dan khusus.

Pengertian awam. Bagian ini membahas situasi kejiwaan yang biasa mendera orang-orang beriman. Dalam keadaan yang ekstrim, situasi ini bahkan bisa membawa seseorang kepada agnostisisme, tak percaya pada Tuhan lagi. Ada dua situasi di sini: situasi yang sederhana; dan situasi yang akut.

Situasi yang sederhana seperti digambarkan oleh Ibn Ataillah di sini: Engkau berdoa, meminta, dan meminta, dan meminta, tetapi permintaanmu belum juga terwujud. Situasi ini lalu menimbulkan pertanyaan pada kita: Jika Tuhan Maha Mendengar, Maha Mengetahui, kenapa permintaanku tak didengar dan diketahuiNya?

Situasi yang lebih serius dihadapi oleh satu-dua komunitas orang-orang beriman yang menghadapi “kejahatan” yang ekstrim, seperti, misalnya, keadaan yang pernah dihadapi orang-orang Yahudi dalam kamp pembantaian Auschwitz. Pada saat jutaan orang-orang Yahudi menghadapi ancaman terminasi, genosida, penghancuran secara total, orang-orang Yahdi bisa bertanya: Di manakah Tuhan? Kenapa, pada momen itu, Tuhan tidak “turun tangan”?

Situasi yang kurang lebih sama kita jumpai di Aceh waktu terjadi Tsunami pada 2004 dulu. Hampir dua ratus ribu rakyat Aceh menjadi korban tsunami yang teramat dahsyat itu. Orang-orang, menghadapi pemandangan yang mengerikan itu, bisa juga bertanya: di manakah Tuhan? Kenapa Dia diam menghadapi “kekejaman alam” seperti ini?

Dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan dari pihak manusia seperti itu sah-sah saja. Dan Tuhan pun tak melarang kita mengajukannya. Tetapi, di sini, Ibn Ataillah mengajarkan suatu kebijaksanaan sebagai seorang beriman. Sikap yang diajarkan olehnya adalah sikap rendah hati. Kehidupan yang maha luas ini penuh dengan misteri yang belum seluruhnya dapat kita pahami.

Jika kita meminta Tuhan dan belum terkabul, kita mesti mengatakan kepada diri kita: Jangan-jangan Tuhan mengabulkan doaku dengan cara yang lain; bukan dengan cara yang aku kehendaki. Dia lebih tahu hal yang terbaik buat diri saya.

Sikap semacam ini menghindarkan kita untuk berpikir negatif, pikiran yang justru membuat kita sendiri mengalami kelelahan mental. Sikap loba, terlalu buru-buru ingin melihat hasil dari doa kita, kata Ibn ‘Ajibah (penulis komentar atas Kitab Hikam), bisa membuatmu lelah dan sengsara: wa-la tahris, fa-inna al-hirsa ta’abun wa madzallatun. ??? ???? ??? ????? ??? ????? .

Pengertian khusus/mistik. Manakala engkau harus meminta kepada Tuhan, maka jadikanlah permintaanmu itu sebagai bagian dari ibadahmu kepadaNya, bukan permintaan sebagai permintaan. Sebab, berdoa dan meminta Tuhan adalah salah satu ekspresi menyembah Sang Pencipta.

Kita meminta kepada Tuhan bukan karena kita menghendaki ada hasil yang akan datang dari sana; kita meminta bukan karena tujuan “utilitarian” itu. Kita meminta karena memang seorang hamba sudah seharusnya mengajukan permintaan (talab).

Syekh Abdul Aziz al-Mahdawi (semoga kerelaan Tuhan tetap atasnya) berkata: Barangsiapa berdoa dan mengatur-atur Tuhan dengan cara apa permintaannya itu harus dipenuhi, doanya mungkin saja dikabulkan. Tetapi doanya dikabulkan sebagai bentuk “pemanjaan” (istidraj) dari Tuhan kepadanya. Tuhan berkata kepada malaikatnya: Kabulkan saja doanya, karena Aku tak suka mendengar permintaannya lagi.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari ajaran Ibn Ataillah ini?

Sederhana: Kerendah-hatian. Janganlah kita mengeluh atau merasa terdampar putus asa karena “kehendak kecil” kita sebagai manusia tidak berjalan seiringan dengan “kehendak besar’ Tuhan. Alam kadang punya logic-nya sendiri. Pengetahuan kita tentang kompleksitas hidup sangat terbatas. Ada hal-hal yang kerap di luar pengetahuan kita.

Saat kenyataan bekerja tidak sesuai dengan keinginan kita, sikap terbaik yang harus kita ambil adalah: Boleh jadi keinginan saya tidak tepat; boleh jadi ada hal yang tak saya ketahui.

Dengan sikap seperti ini, kita tidak menderita keterdamparan dan keputus-asaan. Sikap positif adalah cara hidup yang paling baik. Sehat secara mental, menggembirakan dalam hidup.

KESIMPULAN NGAJI HIKAM #6

Ini salah satu bagian dalam kitab Hikam yang sangat saya sukai. Bagian ini mengajarkan kita beberapa hal:

1. Kita harus berbaik sangka kepada Pencipta Hidup. Sebab, pilihan lainnya, jika kita tak mau berbaik sangka, ialah berburuk sangka. Sikap yang terakhir ini, selain tak mengubah keadaan, membuat kita berpikiran negatif, dan akhirnya menjerembabkan kita pada sikap hidup yang secara psikologis tak sehat. Sikap negatif pada hidup membuat kita juga bersikap negatif pada lingkungan sekitar. Sikap negatif pada lingkungan sekitar membuat kehidupan mengalami “polusi”. Ujung-ujungnya adalah suasana lingkungan yang serba tegang, uring-uringan, sensitif, tegang. Dengan kata lain: tidak sehat..

Berbaik sangka pada sumber kehidupan membuat kita bisa membangun kehidupan yang sehat, baik pada level personal atau pun sosial.

2. Bagi seorang yang beriman, maksud utama doa bukan agar permintaan kita dikabulkan. Melainkan untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba Tuhan. Berdoa adalah pertanda bahwa kita adalah hamba. Berdoa adalah pertanda bahwa kita menyandarkan diri kita pada otoritas tertinggi dalam hidup, bukan bersikap sombong bahwa “Saya bisa mengatasi keadaan sendiri!”

Dengan kata lain, berdoa adalah pertanda sikap “humility”, kerendah-hatian. Orang yang beriman ialah orang yang rendah hati. Jika doa kita tak membawa kita pada sikap rendah hati, maka curigailah doa itu. Jangan-jangan doa kita hanyalah pura-pura belaka. Atau doa yang hanya ditujukan untuk mengharap sebuah hasil. Doa yang utilitarian.

3. Doa yang sungguh-sungguh dan “genuine” adalah doa yang disertai dengan ikhtiar. Doa yang “beneran” adalah yang menambah kita giat bekerja. Doa yang benar-benar doa ialah yang membuat kita memiliki sikap positif dan optimisme dalam hidup, lalu setelah itu kita makin giat bekerja dan mengusahakan yang terbaik dalam kehidupan ini. Doa yang sebenar doa ialah doa yang menginjeksikan semangat hidup, seperti minuman suplemen.

Doa yang membuat kita malas dan tak melakukan sesuatu, sebaliknya menunggu “keajaiban” saja dari “Atas”, bukanlah doa yang “beneran”.

Sekian Ngaji Hikam seri ke-6. Sampai ketemu besok malam di Ngaji Hikam seri ke-7. Mari kita tutup pengajian ini dengan hamdalah.

Wassalam.

Check Also

Hikam 1 : Usaha Penting, Tapi Bukan Segala-galanya

Oleh :Ulil Abshar-Abdalla Syekh Ibn Atailllah berkata: Min alamat al-itimad ala al-amal, nuqshan al-raja inda …