Gus Mus : Sikap Tawassuth wal I’tidal

gus-mus-akhlak_3160060035648266143_oSudah selayaknya umat Islam menjadi ummatan wasatha, umat tengah-tengah, sebagaimana diisyaratkan kitab suci mereka Al-Quran Q. 2: 143). Rasul mereka, Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengajarkan tapi juga senantiasa mencotohkan sikap dan perilaku tengah-tengah. Tawassuth wal I’tidal.

Sikap Tawassuth wal I’tidal, tengah-tengah dan jejeg akan mempermudah kita untuk berlaku adil dan istiqamah, dua hal sangat mulia sekaligus sulit yang sering diseru-tegaskan Al-Quran. Untuk menjadi orang yang adil dan istiqamah akan lebih sulit lagi -kalau tidak mustahil- bagi mereka yang tidak membiasakan sikap dan perilaku tawassuth wal i’tidal.

Kebalikan dari tawassuth wal i’tidal ialah tatharruf, ekstrim, berlebih-lebihan. Dari segi pengerahan energi, tatharruf kiranya jauh lebih banyak memerlukan energi dibanding tawassuth; seperti halnya meninggalkan maksiat tentu lebih tidak ribet mengerahkan energi katimbang melakukan maksiat. Hidup sederhana alias tawassuth jauh lebih sederhana katimbang hidup mewah, berlebih-lebihan.

Tapi entah mengapa manusia justru lebih suka yang ribet dan sulit yang memerlukan banyak mengeluarkan energi dan beresiko, katimbang yang gampang dan aman. Yang halal, misalnya, begitu banyaknya dibanding yang haram, tapi orang cenderung mencari yang haram yang jelas beresiko. Jangan-jangan ini ‘perangai turunan’. Segala yang ada di sorga dihalalkan untuk Bapak Adam dan ibu Hawa dan hanya satu yang diharamkan, lho kok beliau-beliau tertarik kepada yang satu itu.

Manusia juga cenderung bersikap tatharruf daripada tawassuth. Padahal tatharruf mempunyai resiko yang sering kali sangat berat dan parah. Makan-minum berlebihan, beresiko sakit; senang dan benci berlebihan, beresiko tidak bisa adil dan obyektif; menyenangi dunia berlebihan, beresiko melupakan akherat; mengagumi pendapat sendiri, beresiko ujub dan takabbur; bahkan ibadah yang berlebihan, beresiko bosan dan tidak bisa istiqamah.

Celakanya lagi, dunia sekarang ini sepertinya ‘dikuasai’ oleh dua ‘ideologi’ berlawanan yang sama-sama tatharruf, ibarat hitam dan putih. Yang satu diwakili oleh George W. Bush dan satunya lagi oleh Osama bin Laden. Masing-masing merasa paling benar dan menganggap yang lain mutlak salah. Karena masing-masing merasa paling benar, maka dalil mereka pun sama: Laisa waraa-al haqqi illal baathil, di balik yang benar hanya ada yang salah. Yang benar adalah kami dan yang salah adalah mereka. Dan yang salah harus dibasmi. Bush bilang, siapa yang tak ikut Amerika adalah teroris dan harus dihancurkan. Sementara Osama menganggap siapa yang tidak memusuhi Amerika adalah jahannam yang mesti dibom. Masing-masing pun memperlihatkan keganasannya kepada yang lain. Dan sikap tatharruf seperti ini, rupanya juga sudah menjalar di negeri kita. Resiko dari ini, Anda sendiri dapat ikut merasakannya.

Apakah itu merupakan bagian dari azab Allah kepada manusia akhir zaman ini? Soalnya seperti disebutkan dalam Al-Quran, ada model siksa yang berupa: “…yalbisakum syiyaa-an wayudziiqa ba’dhakum ba’sa ba’dh..”, “mengacaukan kalian dalam kelompok-kelompok fanatik yang berseberangan lalu mencicipkan keganasan sebagian kalian kepada sebagian yang lain..” (Q. 6: 65)

Waba’du; dalam dunia yang seperti ini, bukankah sangat relevan apabila kita kembali ke MataAir, kepada ajaran dan contoh agung kita Nabi Muhammad SAW bagi mengembangkan sikap dan perilaku tawassuth wal I’tidaal sebagai ummatan wasathaa dalam upaya rahmatan lil’aalamiin?
Wallahu a’lam.

KH. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

Leave a Reply