Do’a Mbah Lim

mbah-liem-klatenSuatu hari KH. Muslim Rifai Imampuro atau akrab dipanggil Mbah Lim bertamu ke rumah Mbah Dullah Salam (KH. Abdullah Salam, Kajen-Pati). Setelah berbicara sebentar, Mbah Lim menyodorkan stopmap (biasanya berisi doa atau resep-resep penyelesaian masalah bangsa yang beliau tulis) dan meminta Mbah Dullah Salam untuk berdoa.

Saya tidak bisa berdoa! kata Mbah Dullah Salam.

Anda saja yang berdoa dan saya mengamini, lanjut Mbah Dullah Salam sambil mengangkat kedua tangannya, bersiap untuk mengamini doa Mbah Lim.

Tampaknya Mbah Lim tidak jelas mendengar ucapan Mbah Dullah Salam yang memang lirih, dan menyangka Mbah Dullah Salam mulai berdoa seperti yang dimintanya.

Maka begitulah, Mbah Dullah Salam dan Mbah Lim kemudian sama-sama berat amin-amin, tanpa seorangpun yang mengucap doa. Dan karena tak ada yang mengucapkan doa, maka jelas tak ada juga yang mengakhiri doa.

Kalau Mbah Dullah Salam dan Mbah Lim bisa begitu khusyu saling mengamini tanpa sedikitpun menampakkan keletihan, tidak demikian dengan sopir yang menyertai Mbah Lim. Setelah hampir satu jam beramin-amin tanpa kejelasan kapan akhirnya, ia tidak lagi kuat menahan kelelahan tangannya yang harus terus terangkat untuk berdoa. Dengan pelan-pelan ia mulai beringsut mundur mendekati pintu ruang tamu Mbah Dullah Salam. Ketika melihat kesempatan, diapun segera kabur dari ruangan tersebut.

Setelah berhasil keluar, sopir tersebut segera mencari putra Mbah Lim yang waktu itu memang menjadi santri di pondok Mbah Dullah Salam. Pada putra Mbah Lim, diceritakannya peristiwa tersebut.

Tolong Gus, kata sopir tersebut pada putra Mbah Lim. Mbah Lim diberitahu bahwa Mbah Dullah Salam tidak berdoa tapi hanya mengamini, karena menyangka Mbah Lim-lah yang berdoa!

Begitulah, mereka berdua lantas masuk ke dalam ruang tamu Mbah Dullah Salam. Ketika ada kesempatan, Mbah Lim segera dibisiki oleh putranya tentang masalah tersebut. Mbah Lim mengangguk-angguk, tanda bahwa dia sudah menangkap pesan dari bisikan tersebut.

Tapi celaka, bukannya mengakhiri proses amin-mengamini tanpa doa ini, Mbah Lim justru terus melanjutkannya. Sang sopir yang sudah kelelahan mengangkat tangan untuk berdoa, harus bertambah lagi penderitaannya, meski kali ini dia mengajak korban baru untuk ikut merasakan kelelahan yang sama. Lebih dari setengah jam kemudian, barulah Mbah Lim berinisiatif mengakhiri proses amin-mengamini yang tidak jelas siapa pendoanya ini.

Check Also

Hisaniyah Kalbar Gelar Haul Pendiri Pesantren Raudlatul Ulum Malang

Hisaniyah (Himpunan Santri dan Alumni Kyai Yahya Syabrowi) Kalimantan Barat menggelar haul ke-28 KH Yahya …