Ayah, Ibu Aku Sekolah

Ayah, Ibu Aku Sekolah
Ayah, Ibu Aku Sekolah

Oleh : Vinanda Febriani

Seperti biasanya, pagi ini aku membantu berjualan Ibukku di pasar. Menjual gorengan tempe, bakwan dan pisang goreng. Namaku Uzi, umurku baru 8 tahun. Ibukku pedagang gorengan keliling, sedang Ayahku menderita lumpuh sejak aku balita usia 2 Tahun. Sejak kecil aku selalu mendampingi Ibu berkeliling desa mencari nafkah halal dengan menjajakan dagangan gorengan kepada orang-orang. Tak banyak yang suka dengan gorengan Ibukku karena tidak terlalu enak. Namun bagaimanapun, tetap kami jual sejak pagi hingga sore hari. Entah berapa nanti penghasilan kami, semoga cukup untuk bekal makan 2x sehari, syukur bisa 3x sehari.

Seperti biasa, dagangan Ibukkh selalu sepi dari pembeli. Aku tak kuasa menahan rasa sedih menatap mata Ibukku yang semakin sayup karna kelelahan dan rasa kantuk karna seharian Ibu tidak tidur. Aku merasa pasti Ibu sedang bergumam dalam hatinya karena dagangan yang kami jual tak kunjung laku. Padahal perutku sudah sangat keroncongan, dan kurasa perut Ibukku juga lebih keroncongan, sebab sejak 3 hari ini Ibu tidak makan, hanya minum air mineral saja.

Entah kenapa di siang hari itu Ibu menyuruhku berjalan ke arah barat. Aku pun tak tau pasti kenapa Ibu menyuruhku kesana. Aku hanya mengangguk dan menuruti perintah Ibu. Aku terus berjalan tanpa arah sambil memegang perutku yang keroncongan ini. “Aduh….” keluhku. Rasanya seperti diremas-remas lambungku ini, sakit sekali. Aku pun duduk beristirahat di depan teras toko baju karena aku sudah sangat tidak tahan dengan sakit perutku ini. Aku duduk sambil menatap kanan kiriku, melihat banyak penjual makanan yang begitu wangi dan lezat tentunya. Aduh… semakin membuat perut kecilku ini tak sanggup lagi.

Entah pandanganku tertuju ke arah mana. Aku melihat seorang Ibu yang sedang berjalan kemudian dompetnya terjatuh. Seketika itu aku berlari, berharap tidak ada seorangpun yang melihat dompet warna Ungu itu. Tiba-tiba tatapan heran mengarah kepadaku. Mereka mengira aku pencopet, “Woy…. Copet lu ya??” Teriak salahsatu dari mereka padaku. Aku terdiam, kakiku tak bisa melangkah, badanku menggigil ketakutan. Mereka menghakimi aku, anak kecil miskin yang sedang dilanda kelaparan, anak kecil yang menemukan dompet ungu terjatuh dijalan dan berniat ingin mengembalikan, tiba-tiba dihakimi masa. Aku dibully, dicaci-dimaki, ditendang, ditampar dengan kekerasan.

Tak lama kemudian ada seorang Bapak-bapak datang padaku, “Hei ada apa ini ribut-ribut?” tanya Bapak tersebut kepada orang-orang yang mengerumuniku. “Ini Pak, ada anak kecil tukang Copet” kata seorang diantara masa yang mengerumuniku. Aku terdiam membisu, aku tak bisa berucap satu kata pun. Bapak itu menatapku dengan heran. “Dek, sepertinya saya pernah mengenalmu. Sek…. sebentar, kamu anaknya Ibu surti tukang gorengan itu, kan?” tanya Bapak itu padaku. Aku pun hanya mengangguk-angguk sambil mataku berkaca-kaca. “Sudah sini, dek ikut Bapak saja” ajak Bapak itu.

“Lho Pak, mau diajak kemana anak copet itu?” tanya orang yang sejak tadi menendangi kepalaku dengan kakinya. “Mau saya ajak ke kantor Polisi supaya kalian tak main hakim sendiri”, kata Bapak itu. Aku hanya terdiam dan terus membisu. “Lho, Pak. Dia ini kan sudah terbukti mencopet, harus dihukum disini dong” Kata seorang aku tak tau siapa dia, tapi tiba-tiba omongannya itu mendapat dukungan semua orang disana “Iya, hajar dia Pak. Nggak ada ampun”. Aku semakin takut dan akupun memeluk Bapak itu. “Sudahlah, kalian itu makhluk apa sebenarnya?. Gak boleh main hakim sendiri, apalagi sama anak kecil yang polos seperti ini. Kita ada hukum, ada Polisi. Kenapa main hakim sendiri?. Pada anak bawah umur pula, apa kalian ndak mikir bagaimana seandainya dia trauma psikis kemudian dia gila sebab ini. Bagaimana masadepannya, apa kalian nggak mikir sejauh itu?”. “Bapak ini aneh, pencopet kok dibela”. Kata seorang pria berbaju hitam padaku. Mereka pun menatap sinis padau dan bubar seketika itu.

Bapak itu membawaku ke kantor Polisi menggunakan mobil. “Dek, saya nggak percaya kamu nyopet. Sebab Ibumu itu baik hati sekali. Bagaimana bisa kamu dituduh mencopet?” tanya Bapak itu. “Saya tidak tahu pak. Tadi saya sedang duduk istirahat di depan toko baju. Saya melihat ada seorang Ibu berjalan kemudian dompetnya terjatuh, saya menghampiri dan berniat ingin mengembalikan dompet tersebut. Namun saya malah dituduh copet” Jawabku. “Sejak awal juga saya sangat tidak percaya kalau kamu sampai mencopet. Emm…. coba, boleh sayablihat dompetnya dik?”. Kemudian aku menyodorkan dompet ungu yang aku temukan kepada Bapak itu. “Ini, Pak”. Bapak itupun mengecek uang dan identitas yang ada dalam dompet tersebut. “Atas nama Adinda, Ok ada nomor teleponnya, biar saya hubungi. Sebentar ya, dik”.

Hampir setengah jam lamanya Bapak itu menghubungi Ibu Adinda pemilik dompet ungu tersebut. “Bagaimana, Pak?” tanyaku dengan nada rendah sambil menundukkan kepala. “Oh, iya dek. Nanti menyusul kesini. Oh, ya kamu sudah makan?” tanya Bapak itu. Aku hanya geleng-geleng kepala saja, “Mau makan apa, yuk keluar saya traktir makan dek” Bapak itu menuntuk tanganku sambil menatapku dengan wajah tersenyum manis padaku. Aku hanya mengangguk-angguk.menyetujuinya, sebab perutku pun juga sudah sangat keroncongan.

Akhirnya kami pun makan di warung padang. Dan tak lupa membungkuskan maknan untuk Ayah dan Ibukku. Aku tau Ibu khawatir karena sejak tadi aku tak kunjung pulang. Dan pasti sangat khawatir. “Yaudah dek, sekarang ke Kantor lagi ya. Sudah ada Ibu yang punya dompet” Kata Bapak itu padaku. Kami akhirnya pulang dan langsung menemui Ibu pemilik dompet. “Oalah njenengan to, Pak” Sapa akrab Ibu Adinda pada Bapak itu. Sepertinya mereka sudah saling mengenal. “Din, ini benar kan dompetmu?” Bapak itu menyodorkan dompet ungu yang kutemukan dijalan kemarin pada Ibu itu. “Eh… iya bener. Sek tak coba cek ya” Ibu itu mengecek isi dompet tersebut. “Alhamdulillah, masih utuh isinya. Masih lengkap semuanya. Eh, kamu nemu ini dimana?” tanya Ibu Adinda, kemudian Bapak itu menjawab “Itu, adek kecil yang menyelamatkan dompetmu. Untung saja ada dia. Kalau enggak entah bagaimana nasib dompet mungilmu ini. Lagian naruh dompet kok sembarangan. Untung isinya nggak hilang, coba kalau hilang, pasti galaunya tujuh hari tujuh malam.” Canda Bapak itu.

Aku pun menceritakan bagaimana kejadian awalnya bisa seperti itu. Ibu Adinda pun bertanya padaku mengenai kedua orangtuaku, Alamat rumah dan pekerjaan kedua orangtuaku. Aku menjawabnya dengan jujur.

Ibu Adinda pun akhirnya mengantarku pulang. Sesampai dirumah, aku melihat Ibu menangis tersengguk-sengguk. “Ibu kenapa?” tanyaku. “Ibu khawatir nak kamu kemana saja. Seharian tidak pulang” kata Ibu sambil memeluk erat badanku. “Maaf, bu” kataku. Ibu Adinda pun menjelaskan semuanya kepada Ibu. Dan Ibu Adinda bersedia menyekolahkan aku dengan Beasiswa dan uang jajan ditanggungnya juga biaya berobat Ayahku hingga pulih kembali. Aku dan keluarga senang sekali mendengar kabar tersebut.

Sebulan setelah itu, Ibu sudah punya warung makan sederhana sediri. Ayah sudah bisa bergerak dengan kursi roda. Aku sudah mengenyam pendidikan dibangku SD kelas 1. Aku sangat berterimakasih kepada Ibu Adinda yang sudah banyak menolongku dan kedua Orangtuaku. Semoga ini menjadi Amal jariyyahnya kelak di Akhirat. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.”Ayah, Ibu kini aku bisa merasakan nikmatnya Sekolah. Nikmatnya menimba Ilmu. Semoga ini menjadi Barokah untukku, untuk Ayah dan Ibu, serta untuk masadepanku kelak”.

Semoga-Semoga-Semoga
Borobudur, 10 Juli 2017.